Perilaku Mengedepankan Gengsi

Perilaku Mengedepankan Gengsi

Sepertinya ada prinsip yang salah tertanam pada diri orang-orang.

Prinsip ini bernama ‘gengsi’.

“Eh, aku baru beli tas loh, harganya tujuh ratus ribu. Bagus kan ya? Tapi kredit nih lima kali bayar,” kata seorang teman.

Kenapa aku menganggap hal ini salah? Karena aku tahu dengan pasti, temanku itu gajinya sebulan tidak jauh dari harga tas yang ia beli tersebut, bahkan mungkin kurang. Prinsip yang ia anut adalah yang penting bisa bergaya, hutang tak jadi masalah. Tak jarang aku lihat, belum lagi ia melunasi barang-barang yang statusnya masih terhutang tersebut ia sudah mengutang kembali dan membeli barang lain. Lagi-lagi demi bisa dianggap high class.

“Kalo aku, minggu kemaren aku baru beli gamis baru. Harganya tujuh ratus ribu. Bahan kainnya bagus sih, adem makenya. Tapi kok sekarang aku malah jadi menyesal beli gamis itu ya,” kata teman yang lain.

Seriously? Dengan uang segitu aku bisa beli tiket pesawat promo dari Jakarta – Singapura – Kuala Lumpur. Oke, memang ini menjurus banget deh ya, apa-apa dibandingkan dengan harga tiket. Tapi mengapa kamu bisa mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membeli barang, kemudian kamu menyesal dan tidak mau memakainya?

Atau orang lain yang menghamburkan uang lebih dari dua ratus ribu rupiah hanya untuk sekadar mencicipi suatu makanan dan tidak menghabiskannya. Udah mahal-mahal beli makanan itu, eh malah dibuang.

Gengsi inilah yang mendorong orang-orang berperilaku konsumtif di luar kemampuan finansial mereka sendiri. Mereka dengan gampangnya membeli barang yang melebihi kapasitas dompet mereka hanya demi memuaskan gengsi. Agar mendapatkan pengakuan, bahwa si A kaya loh bajunya ganti-ganti dan model baru terus. Atau si B bajunya mahal-mahal loh, si C makannya selalu di restoran mewah nih.

Kembali lagi, sepertinya ada yang salah dengan hal ini.

Mengapa?

Karena kita bertindak di luar kemampuan kita. Kita menghamburkan uang bukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan memuaskan rasa gengsi. Seringnya tercipta perasaan senang jika orang lain mengganggap kita ini hebat, kaya, pintar, dan berkuasa hanya dari penampilan luar.

Padahal seharusnya tidak seperti itu.

Jika kita mampu membuang uang untuk membeli makanan mahal lalu membuangnya, kenapa tidak kita gunakan dana tersebut untuk memberi makan orang-orang yang kurang mampu?

Jika kita membeli barang mahal dan tidak menggunakannya, lantas mengapa tak terpikirkan oleh kita untuk membeli barang-barang kebutuhan anak-anak yatim di panti asuhan? Mengapa tidak kita sumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan?

Padahal kita tahu, masih banyak orang kelaparan di luar sana.

Padahal kita tahu, tidak semua orang mampu seperti kita.

Daripada kita mengedepankan gengsi, mengapa tidak kita coba bertindak seperti padi? Pepatah mengatakan jadilah seperti padi, makin berisi makin merunduk. Semakin banyak uang kita hasilkan, prestasi yang kita raih, keuangan yang semakin membaik, janganlah menjadikan kita semakin mendongak ke atas.

Janganlah lupa melihat ke bawah, masih banyak orang-orang bernasib lebih menyedihkan daripada kita. Banyak-banyaklah bersyukur dengan apa yang kita miliki. Rumput tetangga memang lebih hijau senantiasa, tapi jangan sampai membuat kita lupa diri. Kehidupan yang kita jalani sekarang, bisa jadi itulah kehidupan yang diinginkan orang lain.

Sumber gambar: pixabay.

Dituliskan untuk memenuhi tugas #ywc #gtc kelas Young Writer Club Batch 3

Di penghujung hari yang melelahkan, hari pertama, Senin 30 Oktober 2017

Anindita Ayu Prastiwi

 

Baca juga: Sumatera Barat, The “Unforgettable” Trip

11 thoughts on “Perilaku Mengedepankan Gengsi

  1. Well said mba, semofa kita gk termasuk ke dlm golongan org2 yg mengedepankan gengsi demi pujian penampilan luar 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *