[Review Film] Single – Raditya Dika

[Review Film] Single – Raditya Dika


Judul: Single 
Produser: Sunil Soraya 
Sutradara: Raditya Dika 
Skenario: Raditya Dika, Sunil Soraya, Donny Dhirgantoro 
Pemain: Raditya Dika, Annisa Rawles, Babe Cabita, Chandra Liow, Pandji Pragiwaksono, Elvira Devinamira, Tinna Harahap, Rina Hassim, Dede Yusuf, Dewi Hughes 
Film Rilis: 17 Desember 2015 
Negara: Indonesia 
Bahasa: Indonesia 
Durasi: 127 menit 
Rating: Remaja (R13+) 
Bintang: 4/5

Sinopsis:
Ebi adalah seorang anak muda naif yang belum mempunyai pekerjaan. Ebi bahkan masih sering meminta uang dari ibunya setiap kali ibunya datang ke Jakarta. Ebi juga seorang single forever atau jomblo dari lahir yang belom pernah pacaran. Ini karena setiap kali Ebi mendekati perempun, Ebi selalu saja ditolak. Intinya, kehidupan Ebi layak untuk dikasihani.

Suatu hari, adik Ebi, Alva, yang lebih ganteng dan sukses darinya mengumumkan dia hendak menikah. Karena inilah, Ebi pun mencari pacar untuk dibawa ke kawinan Alva, agar harga dirinya di depan ibunya masih bisa diselamatkan.

Dibantu oleh kedua teman kosannya, yaitu Wawan yang sotoy dan Victor yang pesimis, Ebi pun mulai mencari cewek satu per satu yang juga berujung pada kegagalan. Pertemuannya dengan cewek tercantik justru datang di kosannya sendiri. Cewek tersebut bernama Angel, yang seperti namanya berhati seperti malaikat, cantik. Ebi pun berniat mendekatinya.

Ketika Ebi hendak mendekati Angel, muncul sosok “abang-abangan” Angel yang sudah lama ada di dalam kehidupannya. Joe, diam-diam juga mengincar cinta Angel, dan dengan segala tipu daya muslihatnya berusaha menjauhkan Ebi dari Angel. Angel tidak tahu soal ini sama sekali.

Bisakah Ebi mendapatkan Angel? Bisakah Ebi menyingkirkan Joe, saingannya? Satu hal yang Ebi akan segera sadari, yaitu petualangannya melepaskan status single membuat dia menjadi tahu lagi apa yang dia butuhkan dalam hidupnya, bukan sekadar memenuhi apa yang dia inginkan.
—————————————————————————————————————————-

Setelah film ini wara-wiri sekitar sebelas hari di bioskop, aku baru sempat menontonnya. Yeah, poor me.

Well, let’s check my review about this movie!  ^^


Film ini berkisah mengenai Ebi, seorang jomblo ngenes alias jones. Ia seorang pengangguran yang sibuk mencari pekerjaan. Tidak hanya itu, setiap kali ia mencoba mendekati perempun, tidak ada yang berhasil.

Ebi mempunyai dua orang sahabat koplak bernama Wawan dan Victor. Wawan, si sotoy yang mempunyai hubungan tidak sehat dengan pacarnya, di mana sang pacar selingkuh namun Wawan tidak mau percaya. Juga Victor, si pesimis yang berkeras untuk menjalani hubungan perjodohan walaupun sebenarnya ia merasa tidak memiliki kecocokan.

Film dibuka dengan cerita Ebi yang akan pergi malam mingguan dengan teman chat-nya yang juga merupakan teman SMAnya. Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak, berharap jadi pacar, Ebi mendapati wanita yang ia temui tersebut malah memberikan undangan resepsi pernikahannya.


Merasa kasihan dengan nasib Ebi, maka Wawan dan Victor mencoba membantu Ebi mencari pacar. Dengan semua ide mereka yang sebenarnya sangat koplak, ide-ide yang mereka berikan ini justru mampu membuat kita tertawa.

Alva, adik Ebi yang telah sukses, mengumumkan bahwa ia akan menikah. Merasa gengsi, Ebi pun berusaha untuk mencari pacar untuk dibawa ke nikahan sang adik.

Ebi bertemu dengan Angel, anak baru di kosannya. Lalu, Angel menjadi target Ebi cs untuk dijadikan pacar Ebi. Angel berhati sangat baik, ia membantu di Medical Center dan sangat akrab dengan salah satu pasien di sana.


Adegan di atas ini adalah ketika Ebi dan Angel makan nasi goreng di depan kosan mereka. Dan mereka berdua mendapati nasi goreng enak yang mereka makan tersebut, disajikan oleh penjualnya tanpa cuci tangan setelah buang air kecil. Ewwww hahaha ^^

Saat Ebi pedekate ke Angel ini muncullah Bang Joe, seseorang yang sudah lama dekat dengan Angel. Bang Joe ini sudah lama menyukai Angel. Ia pun tidak menyukai kehadiran Ebi yang dianggapnya sebagai ancaman.



Bagaimana kelanjutan kisah Ebi, Angel, Bang Joe, Wawan dan Victor? Tonton aja langsung deh, seru kok.. ^^

Film Single ini menjadi film Raditya Dika terbaik yang aku tonton. Setelah biasanya film-film Raditya Dika diangkat dari novel miliknya, maka film Single ini membawa angin segar. Single bagiku menjadi jauh lebih lucu dibanding dengan film lain, mungkin juga karena belum ada ekspektasi sebelum menonton filmnya. Single juga mendapatkan respon positif dari masyarakat.

Untuk akting Raditya Dika sebagai karakter utama sebenarnya masih gitu-gitu aja. Secara kita sudah sering melihat wajah memelasnya yang seperti itu, baik di film ini maupun di kehidupan nyata. Mukanya itu loh, seperti tampang burung yang memelas -.- Tapi sebernarnya akting kak Radit untuk ada sedikit kemajuan sih.

Pemeran Wawan dan Victor juga sudah cukup baik dimainkan. Mereka berdua mampu memberikan tawa saat mereka dengan sotoynya membantu Ebi. Juga dengan karakter Victor yang begitu percaya adanya hantu, sehingga seringkali ia tidak berani tidur sendiri. Sehingga ia seringnya tidur memeluk Wawan hanya dengan menggunakan underware saja. Elaaah ngakak hahaha

Lihat saja bagaimana kekoplakan ketiga sahabat ini saat di Bali. Karena kesotoyan mereka, mereka harus ikut skydiving, di mana si Ebi malah kena muntahan Victor dan ujung-ujungnya mereka bertiga malah tidak ada yang berani melakukan skydiving.


Pemeran Angel belum begitu luwes berakting menurutku. Apa karena ini film pertamanya? Atau hanya aku yang baru pertama kali melihat akting Annisa Rawles? Ah, entahlah XP

Lalu Chandra Liow sebagai Bang Joe. Menurutku tingkat sengak-nya dia di film ini sudah cukup baik, walaupun terkadang terlihat sedikit kaku. Lihat saat adegan Bang Joe meminta pelayan restoran untuk memasukkan obat pencahar ke minuman Ebi, namun ia juga terkena getahnya haha. Juga saat adegan mobil melayangnya Ebi. Benar-benar deh!

Untuk ide cerita sendiri, sebenarnya masih sama denga cerita-cerita Raditya Dika yang lain, yaitu bagaimana susahnya ia dalam pencarian cinta. Adapun untuk film Single ini, cerita yang sebenarnya basi tersebut mampu dikisahkan dengan apik.

Untuk film ini, shoot-shoot yang diambil sudah sangat pas, tidak bertele-tele dan langsung kena sasaran. Bagus banget! 

Seperti biasa, Raditya Dika juga menyelipkan Stand Up Comedy ke dalam filmnya. Dan yah, cukup menambah tingkat kelucuan yang ada… ^^

Ada beberapa pesan moral yang bisa diambil dari Single. Tonton aja sendiri deh untuk tau lengkapnya.. ^^ Ada satu quote dari film ini yang aku suka:

Mendingan mana: ga punya pacar tapi bisa jadi diri sendiri, atau punya pacar tapi cintanya dipaksain?

Overall, Single menurutku masuk dalam jajaran film Indonesia yang wajib ditonton. Ga nyesel deh nontonnya! Aku berikan empat bintang untuk film ini… ^^

[Review Buku] Negeri Van Oranje – Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana

[Review Buku] Negeri Van Oranje – Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana


Judul: Negeri Van Oranje (e-book)

Penulis: Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana 
Penerbit: Bentang 
Tahun Terbit: Cetakan Kesepuluh, Mei 2011 
Tebal: 478 Halaman 
ISBN: 978-979-1227-58-2 
Rating: 4/5 

Sinopsis: 

Kata siapa kuliah di luar negeri itu gampang? Perkenalkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri. Lima anak manusia terlahir di Indonesia, terdampar bersekolah di Belanda demi meraih gelar S2. Mulai dari kurang tidur karena begadang demi paper, kurang tenaga karena mesti genjot sepeda berkilo-kilo meter bolak-balik ke kampus setiap hari, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu; semua pernah mereka alami.

Selain menjalani kisah susah senangnya menjadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga menjalin persahabatan dan berbagi tip bertahan hidup di Belanda. Mereka pun bergelut dengan selintas pertanyaan di benak mahasiswa yang pernah bersekolah di luar negeri: untuk apa pulang ke Indonesia? Dalam perjalanan menemukan jawaban masing-masing, takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: the courage to love!

Novel ini ditulis dengan gaya lincah, kocak, sekaligus menyentuh emosi pembaca. Kita juga akan diajak berkeliling mulai dari Brussel hingga Barcelona, mengunjungi tempat-tempat memikat di Eropa, dan berbagi tip berpetualang ala backpacker.

—————————————————————————————————————————
 
Well, baru kesampaian baca novelnya sekarang. Padahal udah sering banget liat novel ini wara-wiri di Gramedia.
 
Let’s check my review about this novel! ^^
 
Tersebutlah lima orang mahasiswa asal Indonesia yang terdampar melanjutkan kuliah S2-nya di negeri kompeni Belanda.
 
Merekalah Lintang, Daus, Geri, Banjar, dan Wicak. Lima orang dengan kepribadian jauh berbeda yang dipersatukan karena nasib mempertemukan mereka. Alhasil mereka masuk dalam geng bernama AAGABAN (Aliansi Amersfort Gara-Gara Badai di Netherland). Ini nama geng-nya benar-benar koplak hahaha.
 
Adalah Anandita Lintang Persada, mahasiswa Universitas Leiden. Satu-satunya cewek di antara mereka berlima. Lintang memiliki karakter melentang melenting ke sana ke mari alias tidak bisa diam. Sejak kecil Lintang pandai memasak dan menari, namun ia juga senang memanjat pohon dan menggergaji. Guru tari Lintang malah menuduh Lintang menelan ulat pohon jambu hiduphidup karena tidak pernah bisa diam, yang mana tuduhan itu dibenarkan oleh ibu Lintang, haha. Memiliki obsesi mendapatkan suami bule, namun kisah cintanya tidak pernah berhasil. Lantas saat ibunya memberi dokumen polis asuransi atas namanya yang disiapkan untuk pernikahan Lintang, Lintang malah menggunakan dana tersebut untuk melanjutkan program master di bidang European Studies.
 
Adalah Irwansyah Iskandar alias Banjar, seorang anak saudagar bawang yang telah sukses berkarir di industri rokok Indonesia. Ia rela meninggalkan kemewahan yang telah mampu ia cecap hanya karena taruhan dengan temannya. Dan di Belandalah akhirnya Banjar terdampar di sekolah bisnis ternama.
 
Adalah Wicak Adi Gumelar yang memiliki kegemaran akan hutan dan lingkungan. Idealismenya membuat Wicak menerjunkan diri untuk menyelidiki illegal logging di Indonesia. Wicak hampir terbunuh, hingga untuk menyelamatkan Wicak dikirimlah ia ke Belanda dengan kedok mengambil S2.
 
Adalah Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri, cucu kesayangan sang engkong. Cita-citanya menjadi seorang pengacara ditentang oleh engkongnya, hingga ia banting setir kerja di Departemen Agama hanya karena seorang wanita. Mirisnya, wanita tersebut tak lama meninggalkannya untuk menikah dengan orang lain. Kesempatan beasiswa STUNED (Studeren in Nederlands) langsung diambilnya.
 
Adalah Garibaldi Utama Anugraha Atmadja, anak dari jurangan bus AKAP yang menjadi orang kaya baru alias konglomerat kecil. Berbeda dengan nasib keempat anggota AAGABAN lainnya, nasib Geri adalah yang paling lumayan bagiku 😛
 
Mereka berlima ini dipertemukan saat badai di Amersfort. Karena kretek alias rokoklah mereka bertemu. Yeah, rokok, *malesin banget sih sebenernya, tapi gapapa lah, masih bisa ditoleransi, secara novel ini bercerita tentang mahasiswa S2, yang mana berarti sudah dewasa dan bisa memilih keputusannya masing-masing. Banjar yang terjebak di Amersfort merasa frustasi karena kehabisan rokok. Rokok di Belanda merupakan benda mahal jika dibandingkan dengan harga rokok di Indonesia. Udahlah terjebak, kehabisan rokok pula, membuat Banjar berteriak. Saat itulah ia bertemu dengan Wicak yang menawarkannya rokok linting sendiri. Lalu mereka berdua bertemu dengan Daus yang ikut-ikutan merokok. Lantas  mereka bertemu Geri yang memberi mereka rokok dari Indonesia. Saat mereka asyik merokok, datanglah Lintang. Ya, pertemuan yang tak disengaja karena terjebak badai di Amersfortlah yang mendekatkan mereka.
 
Karakter kelima orang yang sangat berbeda jauh ini malah membuat novel ini berwarna. Diceritakan dengan gaya kocak namun tidak garing, justru menjadi daya tarik novel ini. Juga dengan adanya footnote dengan gaya koplaknya ini justru membuat pembaca terhibur.
 
Apa yang kamu cari dari membaca novel ini? Cerita tentang persahabatan? Cerita cinta? Tip bagaimana survive kuliah di luar negeri? Tip backpacker? Semuanya ada. Beragam tip diberikan pada novel ini. Ya, paket komplit, semuanya diceritakan dengan apik.
 
Cerita pada novel ini berfokus pada persahabatan mereka, yang tidak bisa dipungkiri memang cukup manis. Dengan penggambaran bagaimana para mahasiswa yang baru meninggalkan orang tua, sehingga mereka ingin mencoba hal-hal yang selama ini mungkin tabu untuk mereka lakukan. Juga dengan obrolan para lelaki yang sedikit… yah sebut saja tidak lain dan tidak bukan mengenai wanita. Dengan bumbu kisah cinta, keseluruhan cerita dikisahkan dengan cukup baik.
 

Cerita yang diselipkan dengan berbagai kebiasaan-kebiasaan orang Belanda menambah preferensi kita. Hanya dari novel ini aku mengetahui bahwa Belanda juga dalam masa memperjuangkan kemerdekaan negaranya pada saat mereka menjajah Indonesia. Lumayan untuk menambah pengetahuan.. ^^

 

Tapi mungkin karena terlalu tebal, aku malah sedikit mengantuk saat membacanya. Mungkin pengaruh kurang tidur sih. Tapi walaupun beberapa kali terhenti, namun aku tetap membaca novel ini.
Untuk typo, aku menemukan beberapa kesalahan penulisan pada novel ini. Juga aku menemukan adanya ketidakkonsistenan penulis pada kata ganti diri, di mana penulis menggunakan aku dan gue secara bersamaan. Misalnya:
 
Nggak lihat, tuh. Tapi kalau nanti muncul di tempatku, pasti gue kabarin.
Untuk ending, cerita diberikan twist yang cukup apik. Dari awal aku menyangka Lintang akan ended up with Geri. Geri yang digambarkan begitu lembut, manis, ganteng, perhatian, juga tak bisa dipungkiri: tajir alias berduit. But, I was wrong at all. Silakan tebak sendiri ya, aku ga akan cerita panjang lebar karena menghindari terlalu banyak spoiler… ^^
 

Untuk penggambaran setting, para penulis mampu menggambarkan dengan sangat baik. Hingga pembaca bisa membayangkan bagaimana situasi yang terjadi serta lingkungan yang melatarbelakangi cerita. Begitu pula, dengan penggambaran backpacking kelima sahabat ini. It’s just look so real. It feels like they’re a real backpacker.

Aku sangat menyukai bagaimana mereka menggambarkan seorang backpacker pada novel ini. Bukan sekedar backpacker gaya-gayaan seperti salah satu novel yang pernah aku review dulu.

Backpacker. Keempat anak muda itu sepakat bepergian dengan pola backpacker traveler. Bukan sekedar bermodalkan ransel punggung besar sebagai ganti koper dorong, backpacker lebih merupakan filosofi dan ideologi tersendiri yang punya kedudukan suci di kalangan turis. Orang boleh mencela para “turis kere” atau “bule melarat” seperti yang banyak terlihat di Jalan Jaksa Jakarta. Namun, di balik itu diperlukan banyak perencanaan matang dan perhitungan anggaran yang masak.
Seorang backpacker pergi dengan anggaran seminim mungkin tetapi berupaya meraih pengalaman berwisata semaksimal mungkin. Ransel punggung alias backpack bukan sekadar lambang namun punya sejumlah kelebihan antara lain: praktis untuk bergerak, tidak membutuhkan porter, dan tentunya menghemat biaya bagasi karena bisa masuk kabin pesawat. Jangan salah, perusahaan penerbangan memang mancari keuntungan salah satunya dari jumlah bagasi yang perlu di-check-in.
Backpacker sejati pantang memboroskan anggaran untuk penginapan, transportasi, dan makanan. Ia akan memilih berbagi bangsal dengan enam orang turis lain di sebuah youth hostel murah ketimbang mengeluarkan uang lebih untuk tinggal di hotel. Beberapa hostel juga menyediakan fasilitas dapur sehingga para backpacker bisa memasak sendiri ketimbang jajan di restoran. Sudah barang tentu, mi instan menjadi menu andalan pelancong Indonesia saat bertandang ke kota-kota Eropa yang terkenal mahal. Selain memilih transportasi lokal kelas ekonomi, backpacker bahkan tak segan melambaikan tangan di pinggir jalan, mencari tumpangan supir truk untuk menghemat ongkos.
Dalam memilih cara berwisata, kurang lebih serupa. Mereka akan memilih objek wisata yang tidak mengeluarkan banyak uang. Termasuk meminimalisasi belanja suvenir mewah. They are buying experience. Karena pengalaman tidak bisa dicuri. Barang dapat hilang sedang pengalaman tak pernah lekang. Sebenarnya, alasan paling utama, belanja barang bisa bikin ransel penuh, malah bikin repot. Sedangkan belanja pengalaman tidak.
 
Membaca novel ini malah semakin menambah keinginanku untuk mencari beasiswa kuliah ke luar negeri. Semoga suatu saat keinginan kecilku ini bisa terwujud, amiiin! Dan juga menambah kerinduan akan backpacking. Semoga tahun depan bisa pergi backpacking lagi. Wish me luck everyone!
 
Overall, aku suka novel ini. Novel ini mampu bercerita dengan manis. Aku berikan empat bintang untuk novel ini… ^^
 
 
[Review Buku] Baby Proposal – Dahlian dan Gielda Latifa

[Review Buku] Baby Proposal – Dahlian dan Gielda Latifa


Judul: Baby Proposal 

Penulis: Dahlian & Gielda Lafita 
Penerbit: Gagasmedia 
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, 2009 
Tebal: 332 Halaman 
ISBN: 978-979-780-374-2 
Rating: 3/5 

Sinopsis: 
Seandainya ini mimpi buruk, Karina ingin cepat-cepat bangun dan tak ingin mengingatnya lagi…. 

Tapi kenyataan memilih berlaku kejam kepadanya. Dua garis di testpack yang kini berada di tangannya adalah jawaban tegas: Karina hamil. Dan satu-satunya yang terpikirkan adalah mencari bapak anak ini dan meminta pertanggungjawaban. 

Karina tidak berharap dinikahi Daniel. Dia ingin laki-laki itu mengurusinya selama masa kehamilan. Dengan senang hati, dia menyerahkan bayi itu ke tangan Daniel–sesederhana itu. 

Namun, berada bersama Daniel membuatnya melihat laki-laki itu dari sisi lain. Sisi lembut dan penuh perlindungan. Sisi yang membuat dadanya berdesir. Perasaan yang mengenalkan Karina pada… cinta. Mungkinkah ini pertanda mimpi buruknya kelak akan berakhir bahagia? 
—————————————————————————————————————————-

Pertama kali tertarik sama novel ini karena banyak banget yang nyari bukunya
Tapi cover-nya itu agak gimana gitu ya. Tapi berhubung udah langka banget, walaupun maju mundur aku juga mencoba untuk nyari bukunya juga, tentu saja berharap dapet dengan harga yang ga terlalu mahal. Dan hasilnya … tentu saja gagal haha XP
 
Cek review dari aku ya… ^^
 
Adalah Karina. Ia memenangkan kuis jalan-jalan ke Lombok gratis guna menyambut valentine. Ia mengajak temannya Dewi untuk ikut dengannya ke Lombok. Ia mengalami trauma berhubungan dengan lelaki, karena ayahnya yang ringan tangan pada ibunya, namun ibunya tak kunjung mau berpisah dengan sang ayah. Juga karena kelakuan mantan pacarnya yang telah mengkhianatinya.
 
Adalah Daniel. Awalnya ia akan bertemu pacarnya untuk terakhir kali. Namun, pacarnya itu membatalkan acara mereka secara sepihak. Seorang pebisnis hotel yang sukses. Daniel berasal dari keluarga di mana sang ayah meninggalkan ia dan ibunya.
 
Dan semesta mempertemukan mereka pertama kali di kapal. Saat Daniel dengan arogannya menelpon sang pacar dan kemudian dengan gampangnya membuang blackberry-nya.
 
Lalu adegan berlanjut saat Karina menemukan Dewi sedang berlomba minum dengan Daniel. Ia memaksa Dewi agar berhenti, dengan syarat ia yang menggantikan Dewi. Dan semesta berkomplot, terjadilah one night stand. Karina dan Daniel sama-sama mabuk waktu itu.
 
Karina mendapati dirinya hamil. Ia yang selama ini terbiasa hidup sendiri, merasa panik. Akhirnya ia menemui Daniel untuk meminta pertanggungjawabannya. Namun ia tidak ingin menikah. Ia hanya menginginkan Daniel membiayai hidupnya selama ia mengandung dan nanti merawat anaknya setelah ia melahirkan.
 
Daniel awalnya menolak, tentu saja. Namun dengan kehadiran Clarissa-ibu Daniel-ia tak bisa menolak. Clarissa tak ingin Daniel menjadi seperti ayahnya yang tidak bertanggung jawab.
 
Meski awalnya terpaksa, lama kelamaan Daniel mulai berubah memperhatikan Karina. Dan mulai tumbuhlah benih cinta di antara mereka (oke, ini bahasa aku agak aneh, tolong dimaafkan :p)
 
Namun, kedatangan Celline sang mantan pacar Daniel, mengganggu hubungan antara Karina dan Daniel. Lantas bagaimana kelanjutan hubungan antara keduanya?
 
Untuk penggambaran fisik keduanya, tidak diragukan lagi sudah sangat jelas. Saking jelasnya, penggambaran tentang fisik mereka yang sempurna: Daniel yang tampan dengan mata kelabu dan otot-otot yang tersebar di lengan, perut, dan pahanya (Me: spechless XP). Daniel yang pebisnis hotel yang kaya raya. Serta Karina yang cantik, dengan mata bening, tubuh yang menawan, dan bibir merah yang seksi ini mulai terasa membosankan. Ini dikarenakan sepanjang novel diceritakan bagaimana ketampanan Daniel dan kecantikan Karina yang terus diulang-ulang.
 
Dan sepertinya untuk ukuran novel Indonesia, terdapat adegan yang terlalu lebay. Sebut saja saat Daniel mengajak Karina pergi ke Bandung dengan menggunakan helikopter. Adegan ini malah mengingatkanku pada drama Boys Before Flowers saat Gu Jun Pyo mengajak Geum Jan Di pergi melihat apa ya namanya? Yang hijau-hijau bentuk love itu, maap namanya lupa :p Tapi di dalam drama itu diceritakan bahwa Jun Pyo merupakan pewaris Sinhwa Grup yang menguasai seluruh Korea. Dan daerah yang mereka tuju memang hanya bisa dilihat dengan menggunakan helikopter kecil karena tidak mungkin dapat dilihat hanya dengan pergi menggunakan mobil. Namun yang di dalam novel ini bagaimana? Cuma ke Bandung aja loh. Jakarta-Bandung seberapa jauhnya sih? Cuma mau makan malam pula -.- Apa tidak bisa lagi pergi dengan mobil? Lagi pula, sekaya apa sih si Daniel? Apa ia menguasai bisnis perhotelan se-Indonesia?
 
Untuk interaksi di antara keduanya, kebanyakan berdasarkan pada hasrat. Nafsu. Namun dengan penjabaran sepanjang novel, keinginan keduanya untuk bersama yang kebanyakan hanya dilandasi keinginan dalam tanda kutip malah membuat risih. Misalnya Karina dengan mata bening, bibir seksi, wajah cantiknya, serta tubuh yang menawan itu mampu membuat Daniel bergairah hampir setiap mereka berdekatan. Lalu Daniel dengan mata kelabu dan tubuh yang woow itu juga membuat Karina memiliki gairah yang sama. Juga dengan penceritaan seringnya Daniel memberikan Karina hadiah seperti baju dan sepatu yang selalu pas untuk Karina seolah Daniel mengingat ukuran semua bagian tubuh Karina. Sejujurnya ini malah membuat risih. It’s too much for me. Seriously.
 
Juga penggambaran Karina yang plin-plan dengan perasaannya sendiri. Dan Daniel yang sedikit terlalu berlebihan. Apa karena ia begitu kaya hingga ia mampu bersikap seenaknya sekehendak hatinya saja?
 
Tapi syukurlah novel ini mampu berkisah dengan lancar. Malah aku belum bisa memisahkan yang mana bagian yang dituliskan masing-masing oleh Dahlian dan Giela Latifa. Lagi pula aku memang belum pernah membaca novel-novel milik Dahlian ataupun Gielda sebelumnya. Di luar bagaimana penulis menggambarkan karakter Daniel dan Karina yang selalu berhasrat satu sama lain, penceritaan Daniel yang begitu perhatian pada Karina ini cukup manis. Dan yeah, Daniel ini prince charming banget deh ya XP 
 
Konflik yang dihadirkan juga cukup mulus. Juga dengan plot yang agak tidak terduga. Awalnya aku berpikir mereka akan bertahan hingga akhir dengan hadirnya anak mereka, namun ternyata tidak. Aku salah duga. Di sini aku tidak akan bercerita panjang lebar, nanti malah terlalu banyak spoiler. Aku sedang belajar untuk mengubah caraku menulis review untuk tidak membocorkan keseluruhan jalan cerita.
 
Untuk typo sendiri, berhubung aku membacanya dalam keadaan setengah mengantuk maka aku tidak terlalu memperhatikan. But overall, novel ini cukup manis. Cukuplah untuk membuatku bertahan untuk mencoba membaca tulisan Gielda ataupun Dahlian selanjutnya. Mari kita buktikan nanti saat aku membaca Promises, Promises milik Dahlian yang masih dalam perjalanan menuju rumahku. 
 
Aku berikan tiga bintang untuk novel ini… ^^
 
 
 
Note to Myself

Note to Myself

Sumber gambar: http://kellythekitchenkop.com


Tahukah kau seberapa banyak yang hendaki kau jatuh? 
Jangan harap lukamu akan mereka basuh 
Pun mereka ingin kau kucurkan peluh 

Tahukah kau banyak yang tertawa saat kau berduka? 
Seolah ragamu hina 
Percuma kau menangis, mereka kan tertawa 

Tak peduli seberapa cepat kau melangkah 
Seberapa cepat kau berlari 
Seberapa kencang kau berteriak 
Sia-sia saja 

Mereka bukan hanya musuh 
Bukan pula hanya orang yang jauh 
Bisa saja mereka di dekatmu 
Teman-temanmu 
Bahkan mungkin dari keluargamu 

Maka tegakkan bahumu 
Kuatkan hatimu 
Jangan biarkan mereka bersuka ria 
Dan menatapmu layaknya kau bukan manusia 

Tetaplah teguh 
Buat dirimu kukuh 
Buktikan kau bisa berdiri sendiri dengan kakimu 
Bahwa kau mampu 
Hingga nanti kau yang akan tertawa 
Jadikan dirimu sang jawara 
Akan semua

 
-Catatan untuk diriku sendiri. Bahwa di mana-mana banyak yang tidak menyukai dirimu, banyak yang menginginkan kau terpuruk-


(Bukan Ucapan) Selamat Hari Ibu, Ibu

(Bukan Ucapan) Selamat Hari Ibu, Ibu

Sumber gambar: http://beritabulukumba.com
Ini bukan ucapan selamat hari ibu padamu.

Bukan karena kita tak lagi bertemu. 

Aku bahkan tak ingat lagi bagaimana rupamu. 

Bukan karena kau pergi tinggalkanku. 

Bukan pula karena dulu kau niat jahatmu sedari dulu. 

Tapi semata tak pernah kau peduli padaku. 

Lantas untuk apa kau lahirkan aku, 

Jika tak pernah kau anggap aku? 

Pernahkah kau ingat akan kehadiranku? 

Jadi untuk apa aku ucapkan selamat hari ibu, 

Jika nyatanya tak pernah kau berlaku selayaknya ibu?

 
-Bukan, ini bukan kisah nyata kok. Cuma secuil ide yang menuntut untuk dituliskan saat ini juga-
-Selamat hari ibu, Ibu. Kangen Ibu, selalu…-
 
error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest