Hey, I Miss You. I Just Can’t Tell You.

Hey, I Miss You. I Just Can’t Tell You.

Akan tiba saatnya kita membisu. Termenung tanpa ada sepatah kata, hanya dingin menelusup hingga kau tergugu. 

Rasa itu menjelma rindu. Bukan, bukan berarti harus bersama selalu. Tapi hati rupanya punya caranya sendiri untuk mengingatmu.

Dan jika rasa itu akhirnya tiba, aku bisa apa?

Malam ini, dengan jujur kukatakan aku rindu. Padamu. Pada celotehan riangmu. Pada raut cemberut kamu tampakkan kala itu. Pada ledekan-ledekan yang seringkali kamu tujukan untukku.

Kamu, seseorang yang selalu di hati. Bahkan tanpa kamu sadari.

Kamu, berada dekat denganku namun terasa tak terjangkau.

Hey, I miss you. I just can’t tell you.

Setelah berbulan-bulan tanpa ada satu pertemuan pun, salahkah aku jika akhirnya ingin kukatakan aku rindu?

I miss you.

I miss you.

I miss you.

I really do.

Walaupun aku tahu banyak hal tentangmu, kontakmu, akun media sosialmu, alamatmu, sekolahmu, dan berbagai cara lain untuk menghubungimu, nyatanya aku tak sanggup bertanya, masihkah kamu mengingatku?

Ingatkah kamu pada kebodohan yang pernah kita tertawakan bersama? Ingatkah kamu pada kebiasaan tahunan yang selalu kunanti tanpa kamu ketahui? Ingatkah kamu pada sejarah panjang yang sempat kita lalui bersama?

Maukah kamu kembali? Padaku yang tak pernah beranjak dari tempat ini.

Semoga suatu saat nanti.

Untukmu, adik kecilku yang tak pernah tahu.

– Cuma sedang dijerat rindu malam ini. Rindu setengah mati. –

Baca juga: Tentang Cerita Sederhana

 

[Review Film] Melbourne: Rewind The Movie

[Review Film] Melbourne: Rewind The Movie

Judul: Melbourne Rewind
Produser: Sunil Santani
Sutradara: Danial Rifky
Skenario: Haqi Ahmad
Pemain: Pamela Bowie, Morgan Oey, Jovial Da Lopez, Aurelie Moeremans
Film Rilis: 17 November 2016
Negara: Indonesia
Bahasa: Indonesia
Durasi: 96 menit
Rating: Remaja (R13+)
Bintang: 4/5

Sinopsis: 

Gagal move on. Itulah yang dihadapi oleh Laura, penyiar radio yang kini tinggal di Melbourne ketika mendapati, Max, cinta pertamanya muncul di hadapannya. 

Ingatan masa lalu pun perlahan kembali, membawa setiap rasa cinta, rasa kesal, rasa sakit dan kehilangan. Max bukan hanya sekedar cinta pertama, tapi Max adalah orang yang berhasil membuat Laura pelan-pelan menemukan tujuan hidup.

Max menyusun setiap passion dan cita-cita Laura seperti puzzle, dan akhirnya menjadikan Laura utuh seperti dirinya sekarang. Namun ego masa muda memisahkan mereka. Max harus ke Amerika untuk mewujudkan mimpinya sebagai Lighting Designer. Dan keduanya pun setuju untuk mewujudkan mimpi di jalan masing-masing.

Sayangnya, Max muncul kembali ketika Laura sudah siap melupakan dia dan beralih kepada pria lain, Evan, Dokter hewan yang juga adalah pacar sahabatnya, Cee.

Move on dari cinta pertama lalu jatuh cinta pada pacar sahabat?

Laura kini harus menyusun sendiri puzzle pilihan hidupnya. Dengan menjawab sebuah pertanyaan besar untuk menuntun hidupnya: “apa yang sebenarnya hatiku mau?”.

Sebuah kisah tentang penemuan jati diri dan cinta, di sebuah kota yang memungkinkan apapun terjadi, MELBOURNE.

————————————————————————————————————————–


Review ini dituliskan berdasarkan sudut pandang seorang pecinta novel, movie, dan juga traveling.

Film Melbourne: Rewind diangkat dari novel berjudul sama karya dari Winna Efendi, yang merupakan satu dari empat belas buku dari seri Setiap Tempat Punya Cerita atau yang biasa dikenal dengan STPC.

Dan saat menulis review ini, aku belum selesai membaca novelnya. Jadi, review film ini akan murni menjadi review filmnya, tanpa membandingkan dengan novelnya.

Melbourne Rewind The Movie

Melbourne: Rewind dikisahkan secara bergantian antara masa kini dan juga flashback. Kisah ini diawali dengan Maximillian Prasetya tidak sengaja menemukan kembali sang mantan, Laura Winardi, saat mendengarkan radio dalam taksi yang membawanya sesaat setelah menginjakkan kakinya kembali di kota Melbourne. Akhirnya bisa stay for good di Melbourne setelah sebelumnya bekerja di Sidney, Max pun mencari Laura.

Pertemuan pertama antara Max dan Laura berawal dengan hilangnya walkman milik Laura, yang ternyata dari penjelasan petugas bagian lost and found, walkman tersebut sudah diambil dan diakui oleh Max. Laura yang mengetahui hal tersebut mencari Max guna mengambil kembali walkman-nya.

Hingga akhirnya Max mengajak Laura ngopi, yang diiyakan karena beberapa hal. Laura datang bersama dengan Cee, sahabatnya sejak SMP. Saat itulah Laura melihat bahwa Max tidak menyukai Cee yang cantik, yang biasa diidolakan semua orang, dan malah menyukai dirinya.

Melbourne Rewind The Movie

Max adalah seorang pecinta cahaya dan ia hidup untuk menggapai mimpinya menjadi lighting designer, berbeda dengan Laura yang bahkan masih mencari jati dirinya. Keinginan untuk mewujudkan cita-citanya membuat Max memilih untuk pergi bekerja di New York dan meninggalkan Laura.

Lima tahun berlalu dan di sinilah mereka, di saat Laura mulai jatuh hati pada Evan, seorang dokter hewan yang juga merupakan pacar dari Cee. Evan bisa dibilang adalah versi laki-laki dari Laura. Ada begitu banyak kesamaan di antara keduanya yang membuat mereka semakin dekat. Di saat ini pulalah Max kembali, dengan perasaannya yang masih sama pada Laura.

Melbourne Rewind The Movie

Siapa yang nantinya akan dipilih Laura? Apakah Max? Ataukah Laura memilih Evan, dan menyakiti hati sahabatnya sendiri? Tonton di bioskop terdekat ya.. ^^

Melbourne, satu kota yang punya daya tariknya tersendiri. Dengan keindahannya, dengan kekhasannya.

Kota yang kemudian diangkat dalam novel dan film ini, yang membuat aku lebih memilih menonton film ini dibandingkan dengan Fantastic Beast and Where to Find Them. Juga karena film ini diangkat dari novel karya Winna Efendi, yang selama ini bisa dibilang aku cukup menyukai kisah-kisahnya. Suatu buku bagus jika diadaptasi menjadi sebuah film terkadang akan mengecewakan para penggemarnya. Hal inilah yang menyebabkan aku memilih gambling dan belum membaca bukunya terlebih dahulu.

Kesan pertama yang aku dapatkan dari menonton film ini? Nabung yuuuuuk, suatu hari harus bisa ke Melbourne! SEMANGAT!!!

Walaupun sampai saat ini aku masih kurang suka dengan Morgan Oey, namun tidak bisa dipungkiri Morgan bisa melakoni peran Max dengan cukup baik. Sedangkan untuk Pamela Bowie sendiri, dalam film ini aku baru pertama kali menonton aktingnya. Dan ya, aku lumayan suka.

Ada satu scene yang aku paling suka, yaitu waktu Max mengajak Laura ke kamarnya dan menunjukkan permainan cahaya lampu. Bikin melting!

Sedangkan yang paling membuatku takjub dalam film ini adalah  Aurelie Moeremans sebagai pemeran Cee. Di saat pemain lain menggunakan pakaian tebal semua, dia dengan santainya terlihat memakai cropped top, atau baju pendek dan celana sepinggul. Ga kedinginan bu?

Kisah Melbourne Rewind ini sendiri diceritakan dengan cukup apik tanpa harus berlebihan. Soundtrack dari film ini juga cukup bagus, juga didukung dengan pengambilan gambar yang bikin tambah mupeng pengen ke Melbourne aih XP *teteeeeppp* *selalu pengen jalan-jalan* *backpacking lagi yuuuuukkk*

“Jangan sampai lo ngancurin mimpi orang lain hanya karena lo ga punya mimpi” – Max

“Mulai sekarang setiap kali aku melihat cahaya, aku akan mengingat kamu Laura.” – Max

Next, nungguin London: Angel dirilis.

Empat bintang untuk Melbourne: Rewind… ^^

Melbourne Rewind The Movie

Baca juga: [Review Film] TV Movie Radio Rebel

Nanowrimo Challenge, Day 1

Nanowrimo Challenge, Day 1

-Dituliskan untuk nanowrimo challenge

Jika ia hanya menganggapmu masa lalu, buat apa menyakiti diri sendiri dan terus menunggu? Toh ia tetap pergi. Tak peduli berapa lama kalian bersama. Tak peduli banyaknya kenangan telah tercipta. Tak peduli cinta selama ini bertahta. Dan yang terpenting, tak peduli perasaanmu terluka.

Dia akan tetap berlalu. Kadang kala tanpa alasan yang jelas. Bisa jadi dia pergi karena alasannya sendiri, atau bahkan menduakanmu. Membuatmu merasa bahwa kamulah manusia paling tidak berharga di muka bumi.

Jika takdir sudah berkata, kamu bisa apa? Duduk menangis, meratapi nasib? Mengunci diri dari dunia luar dan menyakiti diri sendiri?

Percuma kataku. Percuma.

Berapa lama kamu mencoba bertahan jika menoleh pun ia enggan? Berapa waktu yang kamu butuhkan untuk sadar ia tak ada lagi di sisi?

Mungkin yang kamu butuhkan adalah berhenti sejenak. Berhenti sejenak dari mengingat kenangan-kenangan yang membuat sesak.

Kunci kumpulan kenangan itu dalam sudut hati yang terdalam. Karena nantinya kenangan-kenangan itu akan menjadi masa lalu. Masa lalumu, bukan masa depanmu.

Kita tidak bisa hidup di masa lalu. Tidak ada gunanya berkubang dalam kenangan. Songsong masa depanmu, jadikan ia secerah mentari.

Jika cinta mengkhianati, kenapa kamu menyalahkan diri?

Well, ini adalah pertama kalinya aku ikut tantangan nanowrimo. Berhubung sudah terlalu lama tidak menulis panjang-panjang lagi, aku tidak yakin bisa menulis 50.000 kata dalam sebulan. So, aku akan mencoba menulis apapun, sesedikit apa yang aku bisa, sembari menyelesaikan kerjaan yang menumpuk dan hutang draft tentang trip kemarin. Tapi sepertinya hanya tulisan hari pertama aja yang bakalan aku posting, selebihnya hanya akan disimpan dalam folder di lappy.-

Tentang Cerita Sederhana

Tentang Cerita Sederhana

-Terinspirasi dari novel yang kemarin dibaca, dan ya, sebut saja imajinasi.-

Ada secuil kenangan yang tiba-tiba menguak ke permukaan.
Tentang derasnya barisan rintik rinai hujan. 
Tentang cerita sederhana. 
Tentang rasa yang pernah ada. 
Tentang kita. 

Kita bertemu dalam guyuran hujan waktu itu. 
Aku, kamu, dan dimensi yang seolah berpadu. 
Mempertemukan kita. 
Dalam harap yang membuncah. Dalam asa. 
Dalam doa. 

Sudah kubilang kan bahwa cerita kita sederhana? 
Kamu dan tatapan sendumu. 
Dengan kacamata yang bertengger di ujung hidungmu. 
Matamu dengan lingkar hitam di bawahnya yang begitu kentara. 
Aku dengan ketidakpercayaan pada sesama. 
Dengan hati yang sudah terlalu banyak kecewa. 

Pun begitu tetap akan ada garis yang menyinggung kita. 
Saat semesta berkehendak, aku bisa apa? 
Kamu, aku, dan sore itu. 
Manisnya aroma cokelat hangat yang terhidu, 
bercampur bau tanah basah dan rumput segar yang menyatu. 

Tahukah kamu betapa kehadiranmu membuatku bertanya-tanya? 
Kamu pula yang mengajarkanku untuk kembali percaya. 
Pada hidup. Pada dunia. 
Pun pada diriku sendiri. 
Tanpa aku sadari, kamu selalu ada. 

Lalu kamu pergi tanpa jejak. 
Hilang tak berbekas. 
Seolah kamu hanyalah bayang semu. 
Lantas untuk apa hadirmu selama ini? 
Hanya untuk aku merasakan luka sekali lagi? 
Hey, karma itu ada. 

Maka terima kasih untuk hadirmu yang sempat mengisi ruang di hati.
Untuk guratan takdir yang telah kita jalani.
Untuk torehan luka yang kamu lukiskan.
Untuk semua memori sederhana kita.
Selamat tinggal.
 

Dari Anakmu yang Selalu Rindu

Dari Anakmu yang Selalu Rindu

Ada saatnya aku benar-benar rindu.

Pada Ibu.

Hingga kadang aku bertanya-tanya. Bagaimana caranya menyampaikan rasa rindu ini?

Ibu, anakmu rindu….

Rindu setengah mati, hingga seringkali mematikan hati.

Kadang aku sudah tidak lagi sadar, apakah kenangan-kenangan yang aku kumiliki tentangmu itu nyata? Ataukah hanya imajinasi belaka?

Foto-foto yang seolah bahagia, apakah itu yang sebenarnya?

Apakah cerita-cerita tentangmu itu bukan karanganku saja?

Aku tak lagi tahu.

Tolong ajari aku Bu… Bagaimana caranya berhenti merindumu?


Anakmu yang selalu rindu.

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest