[Review Buku] Heartling – Indah Hanaco

[Review Buku] Heartling – Indah Hanaco

Judul: Heartling 
Penulis: Indah Hanaco 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 
Keterangan buku: Pinjem di iJakarta 
Tahun Terbit: 2015 
Tebal: 256 Halaman 
ISBN: 978-602-03-1592-8 
Rating: 2/5 

Sinopsis: 
Monster! 

Bagi Amara, monster itu bernama Marcello. Monster dengan kenangan-kenangan buruk. 
Cowok. Sahabat. Gaun. Pemerkosaan. Rumah sakit. 
Amara tidak lagi menginginkan hal-hal itu hadir di hidupnya. 

Seakan takdir belum puas mengolok-olok Amara, monster itu tiba-tiba muncul mengganggu hubungannya dengan Ji Hwan. Tepat ketika dia berusaha membuka hati. 

Apa yang harus Amara lakukan? 
—————————————————————————————————————————

Amara Kameli akhirnya kembali berkuliah setelah setahun cuti. Saat itulah Mara berkenalan dengan Sophie. Mengalami trauma yang cukup dalam, Mara seolah membentengi dirinya untuk kembali berhubungan dengan teman-temannya. 

Walaupun Mara bersikap ketus pada Sophie, Sophie tidak peduli dan tetap mencoba untuk dekat dengan Mara. Hingga akhirnya mereka menjadi cukup dekat. 

Kemunculan Mara kembali di kampus membuat Brisha, sahabat lamanya gusar. Mara ada namun menjauh darinya. Brisha mengundang Mara datang ke acara orang tuanya. Saat acara itulah ia bertemu dengan Ji Hwan, teman dari sepupu Brisha. 

Trauma yang dimiliki Mara membuatnya berlaku kasar pada Ji Hwan. Peristiwa ini malah membuat gusar Brisha. Hingga akhirnya Mara mampu bercerita pada Brisha dan Sophie peristiwa pahit yang terjadi di hidupnya: menjadi seorang korban perkosaan. Berbekal bercerita pada kedua temannya inilah, ketiganya menjadi sahabat. 

Hingga saat Marcello muncul kembali, apa yang harus dilakukan Mara sementara ia mulai menyukai Ji Hwan? 

Sekian lama mengumpulkan niat untuk kembali menulis, baru beberapa hari ini diberi keinginan yang benar-benar kuat.

Akhirnya, aku berhasil menamatkan satu novel dari lini Gramedia Pustaka Utama yang baru: Young Adult.

Ini novel keduanya kak Indah yang selesai aku baca setelah “You Had Me at Hello”.

Tetapi, tidak seperti You Had Me at Hello yang aku beri rating bintang tiga, Heartling terpaksa hanya aku beri bintang dua.

Dari dua novelnya yang aku baca–di mana kedua novel ini aku pinjam di iJakarta–, aku masih merasa … belum terlalu menyukai novelnya kak Indah. Padahal ada Beautiful Temptation di deretan TBR yang bahkan setelah beberapa bulan belum juga menimbulkan keinginanku untuk segera membacanya.

You Had Me at Hello was okay, walaupun ada beberapa bagian yang membuatku merasa sangat bosan saat membacanya. Hal ini lebih karena semua jalan cerita dalam novel tersebut “diceritakan”, bukannya dialami langsung.

Padahal tema yang diangkat dalam Heartling ini cukup oke menurutku. Tapi ternyata… Heartling belum cukup kuat untuk benar-benar menarik perhatian. Menurutku semuanya seperti… tanggung.

Maksudku, dengan tema yang diangkat ini, banyak hal yang diceritakan hanya sepintas lalu. Bagaimana Mara diperkosa yang bahkan ia tidak sadar, bagaimana persahabatannya dengan Marcello sebelum peristiwa naas itu terjadi, mengapa kedua orang tua Mara malah menjadi renggang setelah peristiwa yang menimpa Mara, mengapa Mara bisa sampai keguguran, trauma yang dihadapi Mara, bagaimana Mara berusaha memulihkan dirinya, bagaimana protektifnya Zeus kepada Mara sang adik, bagaimana Marcello seperti pasrah begitu saja menghadapi kemarahan Mara, bagaimana chemistry pasangan Mara-Ji Hwan, mengapa tiba-tiba Marcello bisa meninggal, dan terakhir, bagaimana perjuangan Ji Hwan untuk kembali bersama Mara. Oh iya satu lagi, Ji Hwan si cowok Korea, di mana aku merasa Korea-nya Ji Hwa hanya berfungsi sebagai tempelan.

Dan terlalu banyak kebetulan yang aku temukan. Pertama, kebetulan Sophie adalah anak dari perempuan korban perkosaan. Kedua, Ji Hwan ternyata adalah kakak tiri dari Marcello. Kebetulan Ji Hwan yang sekarang tinggal bersama ibunya, di mana ibunya tidak tahu masalah yang dibuat oleh Marcello. Kebetulan Marcello meninggal di Italia. Kebetulan Brisha memiliki pacar yang ringan tangan, sehingga menyadarkan Mara bahwa Ji Hwan tidak sama dengan Marcello.

Iya aku tau sasaran Young Adult sendiri adalah dewasa awal. Sehingga yang diceritakan tidak seringan teenlit namun juga tidak seberat Amore atau Metropop. Ah entahlah. Yang jelas walaupun begitu aku masih bisa menyelesaikan novel ini dalam beberapa jam sih, walaupun diselang-seling dengan nonton Running Man.

Dan untuk ukuran buku terbitan Gramedia Pustaka Utama, dalam novel ini aku menemukan cukup banyak typo. Yang paling terlihat adalah Bab Sembilang Belas.

Satu lagi, walaupun aku menyukai drama dan variety Korea, namun hingga saat ini aku masih belum bisa menyukai novel-novel yang berbau Korea.

Hingga akhir dari kisah Heartling ini, masih tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan Heartling. Aku buka kamus di laptop juga ga ketemu artinya apa >.<

Saranku sih kalau kamu memang ingin mengoleksi novel ini, sebaiknya numpang baca dulu di iJakarta. Jika kalian memang benar-benar suka setelah membacanya, baru silakan saja jika kalian ingin beli. Tapi ini sekedar saran aja sih, hehe ^^

Semoga setelah ini aku bisa membaca novel dari lini Young Adult yang aku suka. Dan semoga Beautiful Temptation mampu membuatku menyukai tulisan Indah Hanaco.

Aku berikan dua bintang untuk Heartling…. ^^



[Review Buku] Friends Don’t Kiss – Syafrina Siregar

[Review Buku] Friends Don’t Kiss – Syafrina Siregar

Judul: Friends Don’t Kiss 
Penulis: Syafrina Siregar 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 
Keterangan buku: Pinjem di iJakarta 
Tahun Terbit: 2014 
Tebal: 208 Halaman 
ISBN: 978-602-03-1078-7 
Rating: 3/5 
Sinopsis: 
Bagi Mia Ramsy, menyusui adalah salah satu ekspresi cinta terbesar seorang ibu bagi anaknya. Tapi bagi Ryan Subagyo, setiap mendengar kata “menyusui”, yang muncul di benaknya hanyalah bayangan payudara wanita. Namun, kegigihan Mia memperjuangkan hak setiap bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif lewat Indonesian Breastfeeding Mothers–organisasi nirlaba tempat gadis itu mengabdi–justru semakin membuat Ryan jatuh cinta padanya. Ryan semakin yakin Mia berbeda dari gadis-gadis yang selama ini ia temui. Kekayaan, kesuksesan, dan ketampanannya memang membuat Ryan dikejar banyak gadis, tetapi belum ada yang mampu membuat Ryan untuk pertama kalinya memikirkan pernikahan. Namun, apakah lamaran Ryan akan diterima jika gadis itu mengetahui siapa Ryan Subagyo sebenarnya?

—————————————————————————————————————————–

Friends Don’t Kiss mengangkat tema yang sangat menarik, yaitu breastfeeding atau dalam bahasa Indonesia adalah menyusui. Topik ini jarang diangkat dalam sebuah karya fiksi. Sehingga membutuhkan sebuah keberanian tersendiri bagi penulisnya, Syafrina Siregar untuk mengangkat topik breastfeeding ini.

Novel ini berkisah tentang Mia Ramsy, seorang konselor laktasi. Ia mengabdikan dirinya pada organisasi IMB atau Indonesian Breastfeeding Mothers. Walaupun ia bekerja sebagai konselor sukarelawan di IMB, untunglah bengkel warisan orang tuanya mampu menjadi pemasukan pribadi bagi Mia.

Namun, Mia sangat ceroboh. Hobinya menabrak mobil lain saat hendak parkir. Seperti hari itu saat ia sedang terburu-buru ke rumah sakit, ia kembali menabrak mobil seseorang. Hingga akhirnya ia memberikan ganti rugi dengan menyuruh orang tersebut datang ke bengkelnya.

Adik Mia, Lia baru saja melahirkan. Mia dengan semangat menyuruh Lia untuk memberikan asi eksklusif untuk bayinya tersebut bahkan dari sebelum Lia melahirkan. Namun, Mia sempat melakukan kesalahan fatal. Ia malah menemui kliennya terlebih dahulu, hingga pada saat Lia seharusnya melakukan Inisialisasi Menyusui Dini (IMD), Mia tidak ada. Rumah sakitnya sendiri tidak melakukan IMD tersebut. Saat Mia tiba di rumah sakit, Lia terlanjur marah padanya.

Tabrakan Mia yang terakhir ini mengantarkannya berkenalan dengan Ryan. Kemudian mereka saling jatuh cinta.

Namun ada satu hal yang Mia tidak tahu. Ryan ternyata adalah Hardian Subagyo, pemilik dari Prima Gold. Prima Gold sendiri adalah produsen susu formula, yang menurut Mia dan IBM Prima Gold telah melanggar kode etik pemasaran susu formula sebagai pengganti Air Susu Ibu.

Mia hanya tahu Ryan sangat misterius. Ia awalnya menyangka Ryan bekerja sebagai seorang tukang sulap. *Seriously? Namun Ryan mengetahui prinsip Mia sebagai konselor laktasi, hingga awalnya Ryan tidak memberi tahu Mia bahwa ia adalah Hardian Subagyo.

Lantas, saat identitas sebenarnya Ryan terbuka, akankah Mia mau menerima kehadiran Ryan dalam hidupnya? Friends don’t kiss, remember?

Membaca novel ini begitu sarat dengan edukasi. Well, aku belum menikah sehingga masih sangat awam terhadap dunia ‘ASI dan menyusui’ ini. Dengan membaca novel ini, banyak pelajaran yang bisa dipetik.

Untuk ceritanya sendiri, pada awalnya aku masih semangat membacanya. Ini cerita memang unik karena tema yang diangkat. Seorang konselor laktasi dan seorang produsen susu formula yang saling jatuh cinta. Seorang konselor laktasi tentu saja menentang kehadiran susu formula. Sedangkan seorang produsen susu formula tentu saja menginginkan keuntungan besar dari penjualan susu formula tersebut, bisa jadi dengan pemasaran yang tidak seharusnya dilakukan.

Namun entahlah, mungkin karena tujuan utama dari penulisan utama novel ini adalah menyuarakan pemberian ASI eksklusif pada bayi, aku merasa novel ini seperti hambar. Datar-datar saja.

Untuk porsi karakter dalam novel ini sebenarnya sudah pas dengan porsi masing-masing, walaupun lagi-lagi masih terlalu banyak bicara soal ASI. Keberadaan Gina misalnya sebagai sesama konselor laktasi di IBM sudah cukup apik. Lalu Lia, sebagai adik Mia yang baru saja melahirkan tentu menjadi sebuah masalah yang sebenarnya sudah tepat.

Ryan digambarkan sebagai pria yang suka memaksa. Dia akan mendapatkan apa pun yang dia inginkan, sesusah apa pun itu. Ryan menginginkan Mia dan harus mendapatkan Mia. Berbeda dengan Mia. Aku merasa Mia adalah gambaran seorang wanita yang … apa ya? Idealis dan konservatif? Jika Mia sudah memilih keputusan akan sesuatu, maka ia akan tetap berpegang teguh terhadap keputusan yang telah diambilnya tersebut. Sifat Mia yang begitu idealis ini yang membuatnya merasa shock saat mengetahui Ryan adalah pemilik Prima Gold.

Pada awalnya ceritanya masih menarik, hingga aku masih tergoda untuk cepat-cepat menyelesaikan cerita ini. Namun entahlah, semakin ke akhir cerita, kisah Mia dan Ryan ini sedikit demi sedikit berubah menjadi agak membosankan. Untunglah novel ini mampu dikisahkan dengan lancar.

Jalan cerita dari novel ini termasuk lambat menurutku. Namun saat di akhir layaknya ada roket yang ditembakkan sehingga semua harus selesai. Oke, aku akan membocorkan sedikit spoiler terhadap akhir ceritanya.

Contains some spoilers, so please skip if you don’t want to read the spoiler.

Ryan yang merasa Mia adalah wanita yang tepat untuknya, mencari jalan keluar atas masalah di antara mereka berdua. Mengetahui Mia tidak bisa menerimanya karena ia adalah pemilik dari Prima Gold, pemilik produsen susu formula terbesar, Ryan memilih sebuah keputusan. Keputusan ini adalah menutup Prima Gold. Pengorbanan Ryan ini membuktikan bahwa ia memang serius untuk bisa bersama dengan Mia.

Di sinilah aku merasa akhir ceritanya begitu dipaksakan. Apakah ada seorang pebisnis handal yang begitu gampangnya menutup sesuatu yang selama ini memberikan keuntungan besar baginya? Walaupun Ryan berkata bahwa ia tidak akan begitu saja lepas tangan terhadap mungkin ribuan pekerjanya, namun tetap saja aku merasa keputusan ini … tidak tepat.

Ah entahlah, aku juga bukan pemilik Prima Gold kok >.<

Untuk typo sendiri, aku tidak banyak menemukan kesalahan penulisan hingga untunglah aku bisa menikmati novel ini hingga akhir tanpa harus merasa risih.

In case you forget, Mia, friends don’t kiss.

Menyusui bukan sekedar menyusui. Menyusui bisa menjadi suatu hal yang sangat indah. Seperti ikatan yang sangat istimewa antara ibu dan bayi. Sesuatu yang tidak akan bisa digantikan.

Hakikat seorang ibu adalah perjuangannya yang maksimal untuk memberikan yang terbaik. Dan ASI adalah hak setiap bayi.

Untuk Friends Don’t Kiss, dua bintang untuk jalan ceritanya, dan satu bintang untuk edukasi yang banyak terdapat di dalamnya. Aku berikan tiga bintang untuk Friends Don’t Kiss… ^^



[Review Buku] Not A Perfect Wedding – Asri Tahir

[Review Buku] Not A Perfect Wedding – Asri Tahir


Judul: Not A Perfect Wedding 
Penulis: Asri Tahir 
Penerbit: PT Elex Media Komputindo 
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, 2015 
Tebal: 297 Halaman 
ISBN: 978-602-02-5897-3 
Rating: 3/5 
 
Sinopsis: 
Raina Winatama 
Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi dia pergi untuk selamanya. Prakarsa Dwi Rahardi 
Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi aku harus pergi untuk selamanya. Pramudya Eka Rahardi

Di hari pernikahan adikku, aku harus menjadi mempelai laki-laki. Menjalankan sebuah pernikahan yang harusnya dilakukan oleh adikku, Prakarsa Dwi Rahardi. 
—————————————————————————————————————————Fix kayaknya ketagihan minjem novel di iJakarta. Padahal tumpukan novel yang belum dibaca di kamar masih ada satu rak buku kecil >.< Udah lama banget masukin novel ini ke dalam wishlist, tapi apa daya sampai sekarang belom kesampaian beli *kekep dompet yang lagi nabung buat jalan-jalan*.

Prakarsa atau Raka tidak lama lagi akan menikah dengan Raina setelah berpacaran selama dua tahun. Saat keesokan harinya ia akan menikah, hari ini ia menjemput Pramudya atau Pram, kakaknya di bandara. Setelah mengantarkan Pram ke rumah, ia pergi untuk menyelesaikan urusannya. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Raka mengalami kecelakaan beruntun yang membuatnya terluka parah.

 
Saat mengetahui waktunya tak lama lagi di dunia, Raka malah meminta Pram untuk menjaga Raina. Hanya Pram satu-satunya orang yang Raka percaya. Pram yang baru saja pulang setelah tujuh tahun merantau ke London, tanpa diduga menyanggupi permintaan Raka tersebut.
 
Raina tidak mengetahui seberapa parah kondisi Raka. Hingga akhirnya Raka meninggal, Raina masih tidak tahu. Kedua keluarga memutuskan untuk tetap melaksanakan pernikahan tersebut keesokan harinya, dengan menjadikan Pram sebagai mempelai pria. Hingga saat ijab kabul, barulah Raina menyadari bahwa yang menjadi suaminya bukanlah Raka, melainkan Pram yang baru dikenalnya beberapa saat yang lalu.
 
Inilah permainan semesta. Raina masih tidak mengerti akan pernikahannya ini. Ia terjebak dalam pernikahan dengan orang yang masih asing baginya. Pram mau menerima Raina menjadi istrinya, menjaga Raina sesuai janjinya kepada Raka. Namun Raina masih tidak mau mencoba. Bagaimana ia bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan Pram? Lantas saat Pram merasa bahwa keputusannya menikahi Raina bukanlah semata karena janjinya kepada Raka namun juga karenanya janjinya pada dirinya sendiri, akankah keduanya berdamai dengan keadaan? Akankah waktu mampu menumbuhkan benih cinta di antara keduanya?
 
Ide ceritanya sederhana namun manis. Asri mampu bercerita dengan lancar. Dengan tema yang sederhana ini yaitu bagaimana belajar mencintai, mengikhlaskan, dan menerima keadaan, cerita ini mampu menghanyutkan pembaca.
 
Walaupun sebenarnya awalnya aku agak mengerutkan kening saat membaca sinopsisnya dulu kala. Di mana seorang kakak menggantikan adiknya menjadi pengantin pria dalam pernikahan sang adik. Sang pengantin perempuan tidak mengetahui hal ini. Bukan keinginan sang kakak sebenarnya. Karena sebuah janji kepada sang adik untuk menjaga calon istrinya, jadilah sang kakak harus menikahi perempuan calon istri adiknya tersebut. Jika memang dalam suasana berkabung, kenapa pernikahan tersebut harus tetap dilanjutkan? Apakah keluarga Raka tidak mengalami guncangan batin karenanya? Atau jika memang karena janji Pram pada Raka ini, kenapa ijab kabul ini harus tetap dilaksanakan keesokan hari setelah Raka meninggal. Kenapa tidak diundur saja? Bahkan Raka harus dikuburkan pagi-pagi sebelum pernikahan Pram dan Raina.
 
Ah tapi tidak perlu terlalu dipikirkan. Toh ini cuma cerita, bukanlah sebuah kisah nyata. Kadang kala memang logika tidak perlu terlalu bermain saat membaca sebuah fiksi.
 
Pram ini begitu loveable XP. Ada ya pria seperti Pram? Kalo ada, sini lempar satu dong XP Pram ini sweet banget loh. Mau-maunya aja dia menjaga Raina yang manja, bahkan menuruti semua keinginan Raina. Bahkan ia mau menahan egonya sebagai seorang pria. Sedangkan ada saatnya aku merasa Raina ini manja sekali sehingga cukup mengesalkan.
 
Oh iya, sesuai judulnya Not A Perfect Wedding ini masuk ke dalam lini Le Marriage. Yang berarti cerita ini merupakan cerita dewasa. Ada beberapa potongan kisah yang ditujukan untuk dewasa. Jadi untuk anak di bawah delapan belas tahun sebaiknya belom baca novel ini dulu >.< Kehidupan pernikahan dengan segala lika-likunya mampu diceritakan dengan sederhana.
 
Sebagai novel debut dari Asri Tahir, novel ini cukup membuatku mau membaca karyanya yang lain. Cerita Not A Perfect Wedding ini dulunya emang ada di Wattpad namun dihapus karena diterbitkan oleh Elex Media ini. Aku udah baca Over The Rain dan Langit Malam di Wattpad juga sih, tapi belom baca yang bentuk buku, belom bisa beli soalnya >.< Semoga ada juga di iJakarta deh biar bisa pinjem di sana XP

Not A Perfect Wedding diceritakan dengan menggunakan dua sudut pandang, Pram dan Raina. Namun kadang kala pergantian sudut pandang ini kurang luwes sehingga sedikit membingungkan.

Banyak tokoh yang diceritakan dengan porsi yang cukup pas. Kehadiran kedua kakak Raina, Arman dan Pasha mampu menampilkan kasih sayang kepada Raina. Namun Raka terlalu sering disebutkan di sini. Memang sih ini dikarenakan Raka adalah konflik di antara Pram dan Raina. Namun kurang dijelaskan lebih lanjut sedalam apa hubungan Raina dan Raka sebelumnya, sehingga Raina susah melupakan Raka. Itu saja sih menurutku.

Ada dua hal yang menurutku sangat mengganggu dalam novel ini.
 
Yang pertama adalah typo. Aku menemukan banyak sekali kesalahan penulisan yang sebenarnya tidak perlu, antara lain kesalahan tanda baca, kesalahan huruf, serta pengulangan kata. Satu atau dua buah typo sih tidak apa-apa, tapi ini sih terlalu banyak.
 
Yang kedua adalah grammar dan typo dalam bahasa Inggris. Apa tidak dicek lagi ya? Aneh aja baca kalimat bahasa Inggris dalam novel ini. Seperti tidak diedit lagi. Dan tidak satu dua yang aneh, tapi lumayan banyak.
 
Untuk covernya juga sedikit creepy menurutku. Okelah sebenarnya memang covernya adalah gaun pengantin dengan banyak kupu-kupu berwarna putih dan pink. Warna dasar dari covernya juga biru muda. Lantas di mana letak anehnya? Gaun pengantinnya itu loh, ngeri menurutku. Kenapa? Karena hanya gaun pengantin saja, tanpa ada orang yang mengenakannya.
 
Not A Perfect Wedding sendiri sudah diterbitkan dengan cover baru dengan desain sampul yang jauh lebih manis dan untunglah tidak creepy. Sudah ada penambahan manusianya haha >.< Dan aku tidak akan keberatan untuk membeli Not A Perfect Wedding cover baru ini.
Update: aku udah beli Not A Perfect Wedding dengan cover baru, dan bisa ketemu langsung sama kak Asri di rumah saudaranya! *happy dancing*

See? Aku sih lebih prever baca novelnya dengan cover yang ini.


Satu hal yang aku harapkan dari cetakan baru ini adalah berkurangnya typo dan kesalahan grammar. Yah semoga saja. Berhubung aku belom baca sih, makanya berharap banyak hehe.

Sebenarnya aku mau ngasih empat bintang, namun dipotong setengah bintang karena banyaknya kesalahan penulisan dan grammar. Juga dipotong setengah bintang lagi karena aku ngeri sama covernya. Jadilah tiga bintang saja. Maaf ya kak Asri. Semoga saja cetakan barunya mampu membuat rating Not A Perfect Wedding menjadi empat bintang.

Menghilangkan rasa sakit itu bukan dengan menciptakan rasa sakit yang baru. Yang kita perlukan adalah menghadapinya.

Aku berikan tiga bintang untuk Not A Perfect Wedding cover lama… ^^
 
 
[Review Buku] 11 Jejak Cinta Kumpulan Cerpen Teenlit

[Review Buku] 11 Jejak Cinta Kumpulan Cerpen Teenlit


Judul: 11 Jejak Cinta 
Penulis: Charon, Clio Freya, Dyan Nuranindya, Ken Terate, Luna Torashyngu, Lexie Xu, Mia Arsjad, Primadonna Angela, Priscilla A.W., Shandy Tan, Windhy Puspitadewi 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 
Keterangan buku: Pinjem di iJakarta 
Tahun Terbit: 2015 
Tebal: 200 Halaman 
ISBN: 978-602-03-1613-0 
Rating: 3/5 

Sinopsis: 
Penyesalan, penolakan, perpisahan memberi jejak kepedihan akibat cinta. Namun kisah kehilangan tidak pernah menyurutkan rasa. Takdir cinta yang ambigu tidak pernah membuat kita ragu. 

Hening dalam bahagia. Mencecap rasa menikmati suka. Kadang kita menemukan cinta ketika tak mengindahkan keberadaannya. Apakah cinta hanya fatamorgana ataukah dia meninggalkan jejak dalam hai kita? 

Ke-11 pengarang Teenlit GPU lintas generasi mempersembahkan cinta mereka untuk para penggemar melalui kumpulan cerpen ini. 

11 Jejak Cinta menyuguhkan beragam rasa dan tema kisah remaja yang menyentuh hati. Selamat menyusuri jejak-jejak cinta yang tertinggal di buku ini!

—————————————————————————————————————-
Aku baru berkenalan dengan aplikasi iJakarta. Apa itu iJakarta? Ini adalah aplikasi perpustakaan online persembahan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah BPAD DKI Jakarta. Bakalan kasih review secepatnya tentang aplikasi ini… ^^
 
Oke, ini emang kumcer alias Kumpulan Cerpen Teenlit. Dan oke, umur udah ga cocok lagi baca Teenlit. But who cares XP
 
Aku pertama kali berkenalan dengan Teenlit sekitar kelas 2 SMP kalo ga salah. Novel yang pertama aku baca novel apa ya? Udah lupa, poor me… Dan sampai sekarang masih terus berlanjut baca novel, walaupun bukan cuma Teenlit aja yang aku baca sekarang, semua genre kayanya mah hayo aja!
 
Well, back to the review.
 
11 Jejak Cinta terbit sebagai bentuk perayaan 11 tahun lahirnya novel Teenlit. Ini berarti awalnya diterbitkan genre Teenlit adalah tahun 2005?
 
Dengan mengambil nama besar dari para penulis kawakan: Charon, Clio Freya, Dyan Nuranindya, Ken Terate, Luna Torashyngu, Lexie Xu, Mia Arsjad, Primadonna Angela, Priscilla A.W., Shandy Tan, Windhy Puspitasari, 11 Jejak Cinta mencoba peruntungannya.
 
Lantas, bagaimana eksekusi dari kumpulan cerpen Teenlit ini?
 
Cerpen Pertama: Satu Pengacau Kecil – Charon
Rena selalu merasa adiknya Ryan adalah seorang pengacau dalam hidupnya. Untuk apa Ryan hadir dalam hidupnya jika hanya sebagai pengacau saja?
Hadirnya satu cerpen Mia Arsjad dalam kumcer ini, malah mengingatkan cerpen milik Charon ini pada novel Lululergic karya Mia Arsjad. Cerpen Satu Pengacau Kecil dan novel Lululergic sama-sama berkisah tentang seorang kakak yang merasa adiknya adalah sumber masalah. Cerpen ini dikisahkan dengan cukup manis. Ini adalah pertama kali aku membaca karya Charon, can’t wait to membaca karya selanjutnya.
 
Cerpen Kedua: Berteman Cinta – Clio Freya
Prita bersama Raka mencoba mencari Pak Tono, guna mencari separuh lukisan milik Prita. Kisahnya sendiri cukup apik untuk ukuran cerpen. Sejujurnya juga ini kali pertamaku membaca karya Clio. Next time, bakalan nyari novel-novelnya Clio.
 
Cerpen Ketiga: Langit di Ujung Jendela – Dyan Nuranindya
Langit, hujan, dan Pelangi. Langit selalu berjodoh dengan hujan. Begitu juga dengan Pelangi. Seperti biasa, aku selalu suka dengan cara bercerita Dyan. Cerpen Langit di Ujung Jendela ini merupakan salah satu cerpen yang paling aku suka dari kumcer ini.
 
Cerpen Keempat: Dua Hati Menghadapi Dunia – Ken Terate
Tentang Alin dan Alde. Pertama baca agak bingung dengan beberapa kalimat di dalamnya. Perlu dipahami betul ternyata. Well done, kak Ken! Salah satu cerpen unggulanku di kumcer ini.
 
Cerpen Kelima: Kecelakaan – Lexie Xu
Beredarnya beberapa karya dari Lexie Xu tidak membuatku nekat untuk membacanya. Aku hanya sanggup membaca Ratu Preman, karya duet antara Primadonna Angela sekaligus karya debut kak Lexie. Bukan karena aku tidak menyukai tulisan Lexie Xu, tapi lebih karena karyanya horor semua haha. Cemen memang. Tapi itulah aku haha. Cerpen Kecelakaan ini seperti judulnya, bernuansa horor. Not my cup of tea, but I like it.
 
Cerpen Keenam: First Girl – Luna Torashyngu
Seperti biasa, kak Luna mampu mengangkat kisah yang tidak biasa dan meramunya dalam nuansa Teenlit. Dan juga seperti cerpen kak Luna di kumcer Idolamu, Itu Aku, cerpen First Girl ini juga merupakan awal dari novel berjudul sama. Aduh kak -.- Sebenarnya aku udah ada sih novelnya, tapi mesti ngabisin list To Be Reading dulu >.< Untung aja aku baru baca novel ini di saat First Girl udah terbit, kalo tidak, harus nungguin novelnya terbit dulu X(
 
Cerpen Ketujuh: Milo – Mia Arsjad
Tentang Killa dan Milo. Kak Mia mampu bercerita dengan sederhana namun manis. Ada pesan moralnya juga, bahwa fisik bukanlah cerminan hati. Jangan sampai kita menilai orang lain hanya dari luarnya saja. Salah satu cerpen yang aku suka.
 
Cerpen Kedelapan: Duniaku Kiamat – Priscilla A.W.
Tentang Nara dan Meredith. Ceritanya sangat meremaja, namun dieksekusi dengan manis.
 
Cerpen Kesembilan: Bekal Istimewa untuk Pangeran – Primadonna Angela
Cerpen ini sangat kak Donna sekali. Tentang sosok aku yang memberikan bekal untuk Erik, sosok yang ia kagumi. Namun ternyata ia salah menyangka. Dengan lebih dari dua puluh karya kak Donna yang telah aku baca, aku bisa menarik kesimpulan bahwa kak Donna bercerita dengan begitu khas. Begitu juga dengan cerpen ini. Bekal Istimewa untuk Pangeran menjadi salah satu cerpen yang aku suka dalam kumcer ini.
 
Cerpen Kesepuluh: Untukmu Sahabat – Shandy Tan
Tentang Kikan dan Kiki, kembar yang terlahir dari orang tua yang berbeda. Bersahabat erat, namun perbedaan sekolah dan kesibukan membuat mereka menjadi jauh. Belum banyak karya Shandy Tan yang aku baca. Namun, cerpen Untukmu Sahabat ini menjadi cerpen yang paling aku suka dari kumcer ini.
 
Cerpen Kesebelas: Nastya – Windhy Puspitadewi
Aku belom pernah membaca karya Windhy sebelumnya, walaupun novelnya yang berjudul Heart and Soul telah lama bertengger di rak bukuku. Nastya ini adalah side story dari Incognito. Well, walaupun aku masih tidak tahu tentang cerita apa sebenarnya Incognito ini, cerpen Nastya dikisahkan dengan cukup baik.
 
Ada lima cerpen yang aku suka dari kumcer ini, dan cerpen Untukmu Sahabat karya Shandy Tan menjadi juaranya!
 
Aku berikan tiga bintang untuk 11 Jejak Cinta… ^^
 
 
 
 
[Review Buku] Holland, One Fine Day in Leiden – Feba Sukmana

[Review Buku] Holland, One Fine Day in Leiden – Feba Sukmana


 
Judul: Holland, One Fine Day in Leiden 
Penulis: Feba Sukmana 
Penerbit: Bukune 
Tahun Terbit: Cetakan pertama, November 2013 
Tebal: 292 Halaman 
ISBN: 978-602-200-116-8 
Rating: 3/5 

Sinopsis: 
Sejak menjejakkan kaki di Bandara Schiphol, Belanda, dan udara dingin menyambutnya, Kara tak lagi merasa asing. Mungkin, karena ia pun telah lama lupa dengan hangat. 

Belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Nyatanya, semua itu harus ia temukan lagi, dalam kotak tua yang teronggok di sudut kamarnya. Kini, Kara tahu: Ibu yang pergi, Kara yang mencari. Tak ada lagi waktu untuk cinta. 

Namun, kala senja membingkai Leiden dengan jingga yang memerah, Kara masih ingat bisik manis laki-laki bermata pirus itu, “Ik vind je leuk” — aku suka kamu. Juga kecup hangatnya. Rasa takut mengepung Kara, takut jatuh cinta kepada seseorang yang akhirnya akan pergi begitu saja. Dan, meninggalkan perih yang tak tersembuhkan waktu. Seperti Ibu. 

Aku tak berada di sini untuk jatuh cinta, ulangnya dalam hati, mengingatkan diri sendiri. 

Di sudut-sudut kota Leiden, Den Haag, Rotterdam, dan Amsterdam yang menyuguhkan banyak cerita, Kara mempertanyakan masa lalu, harapan, masa depan, juga cinta. Ke manakah ia melangkah, sementara rintik hujan merinai di kanal-kanal dan menghujam di jantung kota-kota Negeri Kincir Angin yang memesona? 

Alles komt goed—Semua akan baik-baik saja, Kara.

—————————————————————————————————————————
 
Dari empat belas judul dari seri Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) yang berhasil aku kumpulkan dalam waktu beberapa bulan, Holland menjadi judul pertama yang aku selesaikan. Udah lama sih tahu tentang seri ini, tapi emang belakangan ini pengen punya lengkap.

So, what do I think about this novel? Check this review, please… ^^

 
Ini kisah tentang Kara. Segala hal yang berbau Belanda sudah akrab baginya sejak kecil. Yangkungnya lah yang selama ini mengenalkannya. Kara dibesarkan oleh kedua kakek dan neneknya, atau yang biasa dipanggilnya Yangkung dan Yangti, di Jogja.

Selepas kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Kara mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Public International Law di Universiteit Leiden, Belanda.

Mengambil setting di beberapa kota di Holland, Kara memulai hidup barunya justru setelah ia berada jauh dari orang-orang tersayangnya. Ia bertemu Rein, pria tampan yang secara tidak sengaja bertemu dengan Kara. Di kota Leiden semuanya bermula. 

Kesendirian dan kesepian yang selama ini hadir kian menghantui hidupnya. Ada ruang kosong dalam hatinya yang belum terjamah, pun dengan Yangkung yang selama ini begitu dekat. Juga dengan Yangti yang memiliki hubungan kompleks dengan Kara. Lalu pertanyaan-pertanyaan akan asal-usul hidupnya. Juga tentang cinta.

Lalu apa yang akan terjadi pada Kara?

Kenapa aku memilih membaca Holland duluan?

Jawabannya simpel, karena aku suka sama Negeri Van Oranje >.< Padahal yang selama ini jadi kota destinasi impian adalah Tokyo dan segala hiruk pikuknya. Tapi yasudahlah, aku baca Holland awalnya karena satu alasan sederhana itu hehe.

Dan apakah novel ini mampu memenuhi ekspektasiku?

Kara digambarkan sebagai wanita yang penuh dengan kekhawatiran. Ketakutan. Ia seringkali merasa insecure akan dirinya sendiri juga dengan orang lain. Kak Feba mampu bercerita dengan apik. Kadangkala aku merasa Kara adalah diriku sendiri, dengan sepi yang sering menghampiri.

Tidak mudah memang untuk tumbuh tanpa seorang Ibu. Aku sendiri mengalaminya, walaupun memang kisah hidupku tidaklah setragis Kara. Akan selalu ada ruang kosong itu. Kesendirian, kesepian, perasaan ditinggalkan. Karena itulah Kara berbeda. Ia rapuh digerogoti sunyi. Ketakutan-ketakutan itu akan kembali muncul saat Kara dihadapkan kembali dengan pertanyaannya bertahun-tahun: ibunya.

Untuk penggambaran setting sendiri sudah disampaikan dengan baik. Detail-detail kecil ini juga diberikan untuk menambah pemahaman kita akan Belanda. Dengan ciri khas novel STPC, yaitu ilustrasi-ilustrasi cantik menghiasi sepanjang novel, mampu menghidupkan suasana Belanda.

Dari novel ini aku belajar banyak dari informasi-informasi yang disampaikan. Selipan kosakata Belanda dan sejarah Belanda-Indonesia juga diberikan di novel ini. Karena negeri kita memang mau tidak mau berhubungan erat dengan Belanda. Belanda dengan semua keunikannya. Tentang tradisinya. Tentang warna oranye yang menjadi ciri khasnya.

Untuk typo, aku mendapati ada beberapa kesalahan penulisan minor. Tapi ah ya sudahlah, tidak terlalu mengganggu kok. Aku masih bisa menikmati novel ini, dan sejujurnya udah lupa di mana saja letak kesalahan tersebut hehe XP

Lalu, kalau aku memang menyukai novel ini, kenapa cuma ngasih rating tiga bintang? Kenapa bukan empat atau lima sekalian?

Oke, memang kisah Kara diceritakan dengan apik. Tapi aku merasa tidak ada kejutan yang berarti. Novel ini datar, flat. Kisah Kara dan Rein juga hanya mengisi beberapa bagian saja dari novel ini. Begitu juga penyelesaian kisah Kara dan ibunya. Tiba-tiba saja selesai, tanpa masalah yang berarti.

Aku juga suka dengan penjabaran kisah Kara-Rein. Aku suka dengan interaksi mereka yang manis. Dengain Rein yang bukanlah sosok sempurna. Namun seperti aku bilang sebelumnya, cerita Kara dan Rein seperti tidak ada kejutan di dalamnya. Kisah mereka memang manis, aku tidak bisa memungkiri. Tapi menurutku terlalu singkat, seperti hanya diceritakan sekedarnya.

Sayangnya, makin dewasa kita makin kehilangan kemampuan untuk berbahagia dengan sederhana.

Karena ternyata manusia butuh lupa untuk menghapus luka.

Jika kau merawat amarah dalam dirimu, waktu akan membuatmu lupa. Kau tidak akan ingat lagi penyebab awal yang membuatmu marah. Yang tersisa hanya gumpalan emosi yang tak terjelaskan dan kekakuan untuk memulai kembali.


Holland menjadi kisah yang cukup manis. Aku berikan tiga bintang untuk Holland… ^^



[Review Buku] Sincerely Yours – Tia Widiana

[Review Buku] Sincerely Yours – Tia Widiana

Judul: Sincerely Yours 
Penulis: Tia Widiana 
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 
Tahun Terbit: 2015 
Tebal: 248 Halaman 
ISBN: 978-602-032-050-2 
Rating: 4/5 
Sinopsis: 
Sebagai penulis novel thriller, orang kerap menyangka isi kepala Inge hanya seputar urusan pembunuhan. Terlebih lagi sikapnya yang pendiam dan lebih banyak mengurung diri di kamar. 

Namun, di mata Alan, Inge semanis penulis romance. Inge teman yang menyenangkan dalam segala hal. Alan dengan mudah dapat membayangkan Inge menjadi perempuan yang ingin ia nikahi, bukan Ruby… perempuan yang selama ini berstatus kekasih Alan. 

Alan mewakili segala yang Inge inginkan dalam hidup. Kecuali satu hal… Inge tidak ingin mengulangi hal yang membuat hatinya terluka bertahun-tahun. Inge tidak mau Alan meninggalkan Ruby demi bersama dirinya.

 
Sebagai penulis, Inge selalu tahu bagaimana cerita yang ditulisnya akan berakhir. Tapi untuk kali ini, Inge tidak tahu bagaimana akhir kisahnya dengan Alan….
—————————————————————————————————————————-
 
Ini merupakan novel bergenre Amore pertamaku. Setelah beberapa waktu belakangan ini mencoba melebarkan genre bacaanku, finally ini pertama kalinya membaca novel jenis ini. Ditambah dengan embel-embel Pemenang 1 Lomba Amore, bagaimana review-ku mengenai novel ini? Please check this out… ^^
 
Novel ini dibuka dengan prolog potongan cerita thriller. Awalnya aku menyangka, cerita ini akan terus berlanjut hingga ke halaman-halaman selanjutnya. Namun ternyata tidak.
 
Adalah Sekar Wangi Tambanglaras. Atau Inge, begitu ia biasa dipanggil. Seorang penulis novel thriller yang tinggal sendirian di rumah peninggalan ayahnya di kompleks Kecapi Asri, Bogor.

Adalah Alan Anugrah, pemilik Lindung Tenteram, penyedia jasa teknisi dan banyak jasa lainnya.

Pertemuan mereka yang pertama adalah hasil kecerobohan kecil tetangga Inge, Nanda. Alan teler setelah ia meminum esilgan di rumah Nanda. Alih-alih meminum aspirin untuk meredakan sakit kepalanya, tabung aspirin tersebut ternyata berisikan esilgan, obat tidur bagi penderita insomnia karena depresi klinis atau serangan cemas. Merasa cemas ketahuan orang tuanya, Nanda meminta bantuan Inge untuk memindahkan Alan yang teler ke rumah Inge. Alhasil Alan melewatkan satu malam di rumah Inge.

Pertemuan awal mereka ini ternyata dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Alan mampu merasakan kenyamanan dari Inge, begitu pun sebaliknya. Inge yang selama ini skeptis dengan hubungan dengan lawan jenis, pun mampu merasakan hal yang sama. Alan begitu tulus, berbeda dengan lelaki lain. Keduanya menjadi teman dekat.

Saat keduanya mulai merasakan sesuatu yang lain, Inge mendapati kenyataan bahwa Alan sudah memiliki kekasih. Ruby, pacar Alan selama beberapa tahun belakangan. Lantas, bagaimana Inge menyikapi hal ini? Apakah ia akan tetap kukuh dengan perasaannya, ataukah menyerah karena tidak ingin hal di masa lalu kembali terulang? Baca sendiri ya, seriously, ini novel bener-bener worth it untuk dibaca!

Novel ini sederhana, ini sudah sangat jelas. Rupanya menjadi juara 1 lomba Amore dari Gramedia Pustaka Utama ini sudah menjadi jaminan. Gaya penulisannya benar-benar mengalir, tanpa perlu adanya kalimat-kalimat yang njelimet tidak karuan. 

Untuk penjelasan setting, kak Tia mampu menceritakannya dengan baik. Bahkan terkadang aku merasa seperti sedang tinggal di kompleks Kecapi Asri bersama dengan Inge >.<

Kesederhanaan novel ini tidak berhenti hanya pada gaya penulisannya saja. Penokohannya juga sederhana. Alan bukanlah seorang lelaki yang sempurna, dengan pekerjaan yang sempurna, kendaraan yang mewah, ketampanan yang luar biasa, keluarga yang kaya raya. Tidak, tidak seperti itu. Alan hanyalah seorang mandor dan kontraktor, walaupun ia menjadi mandor dan kontraktor yang paling dicari di seputaran Bogor, ini tak menjadikannya seseorang yang begitu high class. Alan terasa … begitu nyata. Ia seperti lelaki nyata lainnya, dengan sisa oli di kukunya yang pendek dan pecah-pecah. Juga dengan telapak tangan yang terasa kasar karena tebal dan kapalan.

Inge dengan segala ke-insecure-annya atau dalam bahasa Indonesianya apa ya? Ketakutannya akan hubungan antar jenis. Pengkhianatan dan kekecewaan sudah mewarnai hidupnya sejak ia kecil. Ia tidak mau sejarah ini terulang. Maka saat ia mengetahui bahwa ia bukan satu-satunya wanita dalam hidup Alan, ia pun bimbang. Pun di sini kak Tia tetap bercerita dengan sederhana. Bahwa Inge sama seperti kita, penuh kebimbangan dan rasa kecewa. Ya, Alan dan Inge digambarkan secara pas dan tidak muluk-muluk.

Novel ini mengajarkan kita untuk belajar memaafkan. Kita tidak perlu terlalu skeptis pada dunia. Bahwa masih ada cinta di luar sana. Maka bukalah hati, niscaya akan datang cinta sejati *eh?*

Covernya sungguh manis sekaligus sederhana, seakan mewakili isi novel ini. Ya, manis dan sederhana menjadi dua kata yang tepat untuk novel ini.

Prolog yang berisikan cerita thriller tersebut ternyata menjadi unsur penting dalam novel ini. Awalnya aku menyangka potongan kisah thriller tersebut hanyalah perkenalan akan Inge yang seorang penulis.

Aku juga mendapati beberapa typo dalam novel ini. Tapi maaf, aku sudah lupa di mana saja aku membaca typo tersebut. Karena aku buat review ini saja sudah lewat dua minggu dari aku membaca novel ini >.<

“Kamu mau bilang kalau aku tidak perlu khawatir soal kamu karena sebagai penulis misteri, kamu juga jinak dan manis?”

“Banyak yang mengira karena tema yang kami tulis, maka kami semacam psikopat terselubung.”

“Sebagai penulis misteri, aku sudah mengeluarkan segala pikiran gelapku dalam buku, sehingga tidak ada lagi yang tersisa. Sebenarnya yang perlu dicurigai, adalah mereka para penulis novel romance…


Satu hal yang kurang dari novel ini adalah: kurang panjang! Kak Tia, novel selanjutnya ditambah jumlah halamannya ya… XP Ga sabar untuk baca novel-novel kakak selanjutnya… ^^

Aku berikan empat bintang untuk Sincerely Yours… Seandainya novel ini lebih panjang, mungkin aku tak akan ragu untuk memberikan lima bintang… ^^




 

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest