[Review Buku] Promises, Promises – Dahlian

[Review Buku] Promises, Promises – Dahlian


Judul: Promises, Promises 
Penulis: Dahlian 
Penerbit: Gagasmedia 
Tahun Terbit: Cetakan Keenam, 2012 
Tebal: 354 Halaman 
ISBN: 978-979-780-486-2 
Rating: 4/5 

Sinopsis: 
Setelah bertahun-tahun lamanya, takdir mempertemukan kau dan aku lagi. Berdiri, berhadap-hadapan, dan sama-sama bingung memulai percakapan. Harusnya “Apa kabar?” dan “Aku selalu memikirkanmu” bisa dengan mudah meluncur dari bibir kita. Tapi, kau bergeming di tempatmu berdiri dan aku tak akan mengizinkan kau melihatku meneteskan air mata rindu. Aku menutup rapat-rapat hati dan menyembunyikan kuncinya sejauh mungkin darimu. Tak ingin kau menyentuhku semudah itu. Tak aka membiarkanmu memelukku seerat dulu. 

Kulawan semua godaan yang menghampiriku dan ingin pergi jauh-jauh darimu… meskipun yang kulakukan justru berusaha menahanmu di sisiku lebih lama lagi. Kukatakan sudah berhenti memikirkanmu–tetapi aku sendiri ragu akan hal itu. 

Aku benci tak jujur padamu. Namun, lebih khawatir kau akan membuatmu jatuh cinta lagi untuk kedua kali.

Membuatku jatuh dan terluka lagi….

—————————————————————————————————————————-
 
Goodbye 2015! Hello 2016! ^^
Ini adalah review pertamaku di tahun 2016. Check my review, please… ^^

Adalah Fiona, ibu dari seorang anak remaja bernama Kejora. Fiona bekerja sebagai seorang desain interior. Sebagai seorang single parent, ia berusaha mencukupi semua kebutuhan Kejora dan dirinya sendiri.

Adalah Evan, suami dari Bianca, seorang artis. Untuk lebih tepatnya, Evan adalah calon mantan suami dari Bianca. Selama kehidupan pernikahannya dengan Bianca, Evan begitu merindukan kehadiran seorang anak perempuan. Namun Bianca begitu anti dengan melahirkan, sehingga Evan hanya memendam keinginannya tersebut.

Fiona dan Evan adalah kekasih di masa lampau. Semesta mempertemukan mereka kembali secara tidak sengaja. Pekerjaan Fiona sebagai seorang desain interior mengantarkannya untuk kembali bertemu dengan Evan. Ia terpaksa menerima pekerjaan merenovasi rumah Evan, yang awalnya ia mengira bahwa itu adalah rumah Bianca.

Suatu kesalahan yang mereka perbuat di masa lalu tidak bisa dilupakan begitu saja. Evan begitu merasa bersalah pada Fiona selama ini. Pertemuan mereka membuatnya merasa inilah saatnya untuk meminta maaf atas satu kesalahannya. Namun, Fiona seolah membentengi hatinya.

Ya, Kejora adalah anak Evan. Fiona hamil di luar nikah. Sebagai kekasih masa lalu, mereka ternyata pernah melakukan hubungan suami istri, yang membuat Fiona hamil. Namun, Evan pernah meminta Fiona untuk menggugurkan kandungannya. Merasa marah, Fiona pergi. Hingga saat ini, begitu susah bagi Fiona untuk memberi tahu Evan bahwa Kejora adalah anak mereka.

Evan ini kayanya Prince Charming sekali. Begitu perhatian dan gentleman aaaaaa >.<

Dibandingkan dengan Baby Proposalnya Dahlian dan Gielda Lafita dengan covernya yang sedikit syur menurutku, cover Promises, Promises ini sangat manis. ^^

Novel ini memang mengangkat tema yang sudah biasa, namun Dahlian mampu bercerita dengan caranya sendiri. Untuk penceritaannya sendiri, sudah cukup apik dan mengalir. Sayangnya, konflik yang diberikan terlalu sedikit. Memang dari awal aku sudah bisa menduga bahwa Evan dan Fiona akan kembali bersama, namun kehadiran Bianca untuk mengganggu hubungan Evan dan Fiona ini masih tanggung. Seperti hanya disinggung sekali lewat saja, lalu selesai. Tapi selain itu, sudah cukup baik.

Aku menemukan beberapa typo yang cukup mengganggu. Seperti:

Pakaian yang dikenakannya, membuat karisma lelaki ini semakin terpancar kuat.

Menatap choco-nut cake di hadapannya dengan mata nanar.

Sebenarnya kesalahan kecil seperti ini masih wajar ditemukan sih, namun jika terlalu banyak, maka akan menggangu konsentrasi juga… ^^

Menurutku, Dahlian juga terlalu banyak menggunakan kata dalam bahasa Inggris yang sebenarnya tidak perlu. Misalnya kata cake, weekend, dan lain-lain. Kata-kata yang sebenarnya sudah umum digunakan dalam bahasa Indonesianya.

Namun sama seperti Baby Proposal, tulisan Dahlian rupanya memiliki ciri khas. Ia menggambarkan Evan dengan segala kemewahan yang ia miliki. Hubungan Evan dan Fiona juga seperti didasari oleh nafsu. Juga Dahlian menggambarkan mereka dengan terlalu sempurna. Evan yang begitu ganteng, Memang hubungan keduanya sudah lebih berat karena adanya Kejora, namun Evan yang seringnya bergairah karena Fiona dan juga sebaliknya, sedikit membuat jengah. Juga terdapat beberapa adegan ehem-ehem. Jadi sebaiknya novel ini tidak dibaca oleh anak di bawah umur *well, aku udah dua puluh tiga tahun, jadi gapapa baca novel ini kayanya >.<

Ada beberapa quote yang aku suka dari novel ini…

If I only could make one wish, I’d ask God to not giving you a pair of wing, so you couldn’t fly away from me any longer.”

Aku berikan tiga setengah bintang untuk ceritanya, dan setengah bintang untuk covernya yang manis… ^^


[Review Buku] Negeri Van Oranje – Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana

[Review Buku] Negeri Van Oranje – Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana


Judul: Negeri Van Oranje (e-book)

Penulis: Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana 
Penerbit: Bentang 
Tahun Terbit: Cetakan Kesepuluh, Mei 2011 
Tebal: 478 Halaman 
ISBN: 978-979-1227-58-2 
Rating: 4/5 

Sinopsis: 

Kata siapa kuliah di luar negeri itu gampang? Perkenalkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri. Lima anak manusia terlahir di Indonesia, terdampar bersekolah di Belanda demi meraih gelar S2. Mulai dari kurang tidur karena begadang demi paper, kurang tenaga karena mesti genjot sepeda berkilo-kilo meter bolak-balik ke kampus setiap hari, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu; semua pernah mereka alami.

Selain menjalani kisah susah senangnya menjadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga menjalin persahabatan dan berbagi tip bertahan hidup di Belanda. Mereka pun bergelut dengan selintas pertanyaan di benak mahasiswa yang pernah bersekolah di luar negeri: untuk apa pulang ke Indonesia? Dalam perjalanan menemukan jawaban masing-masing, takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: the courage to love!

Novel ini ditulis dengan gaya lincah, kocak, sekaligus menyentuh emosi pembaca. Kita juga akan diajak berkeliling mulai dari Brussel hingga Barcelona, mengunjungi tempat-tempat memikat di Eropa, dan berbagi tip berpetualang ala backpacker.

—————————————————————————————————————————
 
Well, baru kesampaian baca novelnya sekarang. Padahal udah sering banget liat novel ini wara-wiri di Gramedia.
 
Let’s check my review about this novel! ^^
 
Tersebutlah lima orang mahasiswa asal Indonesia yang terdampar melanjutkan kuliah S2-nya di negeri kompeni Belanda.
 
Merekalah Lintang, Daus, Geri, Banjar, dan Wicak. Lima orang dengan kepribadian jauh berbeda yang dipersatukan karena nasib mempertemukan mereka. Alhasil mereka masuk dalam geng bernama AAGABAN (Aliansi Amersfort Gara-Gara Badai di Netherland). Ini nama geng-nya benar-benar koplak hahaha.
 
Adalah Anandita Lintang Persada, mahasiswa Universitas Leiden. Satu-satunya cewek di antara mereka berlima. Lintang memiliki karakter melentang melenting ke sana ke mari alias tidak bisa diam. Sejak kecil Lintang pandai memasak dan menari, namun ia juga senang memanjat pohon dan menggergaji. Guru tari Lintang malah menuduh Lintang menelan ulat pohon jambu hiduphidup karena tidak pernah bisa diam, yang mana tuduhan itu dibenarkan oleh ibu Lintang, haha. Memiliki obsesi mendapatkan suami bule, namun kisah cintanya tidak pernah berhasil. Lantas saat ibunya memberi dokumen polis asuransi atas namanya yang disiapkan untuk pernikahan Lintang, Lintang malah menggunakan dana tersebut untuk melanjutkan program master di bidang European Studies.
 
Adalah Irwansyah Iskandar alias Banjar, seorang anak saudagar bawang yang telah sukses berkarir di industri rokok Indonesia. Ia rela meninggalkan kemewahan yang telah mampu ia cecap hanya karena taruhan dengan temannya. Dan di Belandalah akhirnya Banjar terdampar di sekolah bisnis ternama.
 
Adalah Wicak Adi Gumelar yang memiliki kegemaran akan hutan dan lingkungan. Idealismenya membuat Wicak menerjunkan diri untuk menyelidiki illegal logging di Indonesia. Wicak hampir terbunuh, hingga untuk menyelamatkan Wicak dikirimlah ia ke Belanda dengan kedok mengambil S2.
 
Adalah Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri, cucu kesayangan sang engkong. Cita-citanya menjadi seorang pengacara ditentang oleh engkongnya, hingga ia banting setir kerja di Departemen Agama hanya karena seorang wanita. Mirisnya, wanita tersebut tak lama meninggalkannya untuk menikah dengan orang lain. Kesempatan beasiswa STUNED (Studeren in Nederlands) langsung diambilnya.
 
Adalah Garibaldi Utama Anugraha Atmadja, anak dari jurangan bus AKAP yang menjadi orang kaya baru alias konglomerat kecil. Berbeda dengan nasib keempat anggota AAGABAN lainnya, nasib Geri adalah yang paling lumayan bagiku 😛
 
Mereka berlima ini dipertemukan saat badai di Amersfort. Karena kretek alias rokoklah mereka bertemu. Yeah, rokok, *malesin banget sih sebenernya, tapi gapapa lah, masih bisa ditoleransi, secara novel ini bercerita tentang mahasiswa S2, yang mana berarti sudah dewasa dan bisa memilih keputusannya masing-masing. Banjar yang terjebak di Amersfort merasa frustasi karena kehabisan rokok. Rokok di Belanda merupakan benda mahal jika dibandingkan dengan harga rokok di Indonesia. Udahlah terjebak, kehabisan rokok pula, membuat Banjar berteriak. Saat itulah ia bertemu dengan Wicak yang menawarkannya rokok linting sendiri. Lalu mereka berdua bertemu dengan Daus yang ikut-ikutan merokok. Lantas  mereka bertemu Geri yang memberi mereka rokok dari Indonesia. Saat mereka asyik merokok, datanglah Lintang. Ya, pertemuan yang tak disengaja karena terjebak badai di Amersfortlah yang mendekatkan mereka.
 
Karakter kelima orang yang sangat berbeda jauh ini malah membuat novel ini berwarna. Diceritakan dengan gaya kocak namun tidak garing, justru menjadi daya tarik novel ini. Juga dengan adanya footnote dengan gaya koplaknya ini justru membuat pembaca terhibur.
 
Apa yang kamu cari dari membaca novel ini? Cerita tentang persahabatan? Cerita cinta? Tip bagaimana survive kuliah di luar negeri? Tip backpacker? Semuanya ada. Beragam tip diberikan pada novel ini. Ya, paket komplit, semuanya diceritakan dengan apik.
 
Cerita pada novel ini berfokus pada persahabatan mereka, yang tidak bisa dipungkiri memang cukup manis. Dengan penggambaran bagaimana para mahasiswa yang baru meninggalkan orang tua, sehingga mereka ingin mencoba hal-hal yang selama ini mungkin tabu untuk mereka lakukan. Juga dengan obrolan para lelaki yang sedikit… yah sebut saja tidak lain dan tidak bukan mengenai wanita. Dengan bumbu kisah cinta, keseluruhan cerita dikisahkan dengan cukup baik.
 

Cerita yang diselipkan dengan berbagai kebiasaan-kebiasaan orang Belanda menambah preferensi kita. Hanya dari novel ini aku mengetahui bahwa Belanda juga dalam masa memperjuangkan kemerdekaan negaranya pada saat mereka menjajah Indonesia. Lumayan untuk menambah pengetahuan.. ^^

 

Tapi mungkin karena terlalu tebal, aku malah sedikit mengantuk saat membacanya. Mungkin pengaruh kurang tidur sih. Tapi walaupun beberapa kali terhenti, namun aku tetap membaca novel ini.
Untuk typo, aku menemukan beberapa kesalahan penulisan pada novel ini. Juga aku menemukan adanya ketidakkonsistenan penulis pada kata ganti diri, di mana penulis menggunakan aku dan gue secara bersamaan. Misalnya:
 
Nggak lihat, tuh. Tapi kalau nanti muncul di tempatku, pasti gue kabarin.
Untuk ending, cerita diberikan twist yang cukup apik. Dari awal aku menyangka Lintang akan ended up with Geri. Geri yang digambarkan begitu lembut, manis, ganteng, perhatian, juga tak bisa dipungkiri: tajir alias berduit. But, I was wrong at all. Silakan tebak sendiri ya, aku ga akan cerita panjang lebar karena menghindari terlalu banyak spoiler… ^^
 

Untuk penggambaran setting, para penulis mampu menggambarkan dengan sangat baik. Hingga pembaca bisa membayangkan bagaimana situasi yang terjadi serta lingkungan yang melatarbelakangi cerita. Begitu pula, dengan penggambaran backpacking kelima sahabat ini. It’s just look so real. It feels like they’re a real backpacker.

Aku sangat menyukai bagaimana mereka menggambarkan seorang backpacker pada novel ini. Bukan sekedar backpacker gaya-gayaan seperti salah satu novel yang pernah aku review dulu.

Backpacker. Keempat anak muda itu sepakat bepergian dengan pola backpacker traveler. Bukan sekedar bermodalkan ransel punggung besar sebagai ganti koper dorong, backpacker lebih merupakan filosofi dan ideologi tersendiri yang punya kedudukan suci di kalangan turis. Orang boleh mencela para “turis kere” atau “bule melarat” seperti yang banyak terlihat di Jalan Jaksa Jakarta. Namun, di balik itu diperlukan banyak perencanaan matang dan perhitungan anggaran yang masak.
Seorang backpacker pergi dengan anggaran seminim mungkin tetapi berupaya meraih pengalaman berwisata semaksimal mungkin. Ransel punggung alias backpack bukan sekadar lambang namun punya sejumlah kelebihan antara lain: praktis untuk bergerak, tidak membutuhkan porter, dan tentunya menghemat biaya bagasi karena bisa masuk kabin pesawat. Jangan salah, perusahaan penerbangan memang mancari keuntungan salah satunya dari jumlah bagasi yang perlu di-check-in.
Backpacker sejati pantang memboroskan anggaran untuk penginapan, transportasi, dan makanan. Ia akan memilih berbagi bangsal dengan enam orang turis lain di sebuah youth hostel murah ketimbang mengeluarkan uang lebih untuk tinggal di hotel. Beberapa hostel juga menyediakan fasilitas dapur sehingga para backpacker bisa memasak sendiri ketimbang jajan di restoran. Sudah barang tentu, mi instan menjadi menu andalan pelancong Indonesia saat bertandang ke kota-kota Eropa yang terkenal mahal. Selain memilih transportasi lokal kelas ekonomi, backpacker bahkan tak segan melambaikan tangan di pinggir jalan, mencari tumpangan supir truk untuk menghemat ongkos.
Dalam memilih cara berwisata, kurang lebih serupa. Mereka akan memilih objek wisata yang tidak mengeluarkan banyak uang. Termasuk meminimalisasi belanja suvenir mewah. They are buying experience. Karena pengalaman tidak bisa dicuri. Barang dapat hilang sedang pengalaman tak pernah lekang. Sebenarnya, alasan paling utama, belanja barang bisa bikin ransel penuh, malah bikin repot. Sedangkan belanja pengalaman tidak.
 
Membaca novel ini malah semakin menambah keinginanku untuk mencari beasiswa kuliah ke luar negeri. Semoga suatu saat keinginan kecilku ini bisa terwujud, amiiin! Dan juga menambah kerinduan akan backpacking. Semoga tahun depan bisa pergi backpacking lagi. Wish me luck everyone!
 
Overall, aku suka novel ini. Novel ini mampu bercerita dengan manis. Aku berikan empat bintang untuk novel ini… ^^
 
 
[Review Buku] Baby Proposal – Dahlian dan Gielda Latifa

[Review Buku] Baby Proposal – Dahlian dan Gielda Latifa


Judul: Baby Proposal 

Penulis: Dahlian & Gielda Lafita 
Penerbit: Gagasmedia 
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, 2009 
Tebal: 332 Halaman 
ISBN: 978-979-780-374-2 
Rating: 3/5 

Sinopsis: 
Seandainya ini mimpi buruk, Karina ingin cepat-cepat bangun dan tak ingin mengingatnya lagi…. 

Tapi kenyataan memilih berlaku kejam kepadanya. Dua garis di testpack yang kini berada di tangannya adalah jawaban tegas: Karina hamil. Dan satu-satunya yang terpikirkan adalah mencari bapak anak ini dan meminta pertanggungjawaban. 

Karina tidak berharap dinikahi Daniel. Dia ingin laki-laki itu mengurusinya selama masa kehamilan. Dengan senang hati, dia menyerahkan bayi itu ke tangan Daniel–sesederhana itu. 

Namun, berada bersama Daniel membuatnya melihat laki-laki itu dari sisi lain. Sisi lembut dan penuh perlindungan. Sisi yang membuat dadanya berdesir. Perasaan yang mengenalkan Karina pada… cinta. Mungkinkah ini pertanda mimpi buruknya kelak akan berakhir bahagia? 
—————————————————————————————————————————-

Pertama kali tertarik sama novel ini karena banyak banget yang nyari bukunya
Tapi cover-nya itu agak gimana gitu ya. Tapi berhubung udah langka banget, walaupun maju mundur aku juga mencoba untuk nyari bukunya juga, tentu saja berharap dapet dengan harga yang ga terlalu mahal. Dan hasilnya … tentu saja gagal haha XP
 
Cek review dari aku ya… ^^
 
Adalah Karina. Ia memenangkan kuis jalan-jalan ke Lombok gratis guna menyambut valentine. Ia mengajak temannya Dewi untuk ikut dengannya ke Lombok. Ia mengalami trauma berhubungan dengan lelaki, karena ayahnya yang ringan tangan pada ibunya, namun ibunya tak kunjung mau berpisah dengan sang ayah. Juga karena kelakuan mantan pacarnya yang telah mengkhianatinya.
 
Adalah Daniel. Awalnya ia akan bertemu pacarnya untuk terakhir kali. Namun, pacarnya itu membatalkan acara mereka secara sepihak. Seorang pebisnis hotel yang sukses. Daniel berasal dari keluarga di mana sang ayah meninggalkan ia dan ibunya.
 
Dan semesta mempertemukan mereka pertama kali di kapal. Saat Daniel dengan arogannya menelpon sang pacar dan kemudian dengan gampangnya membuang blackberry-nya.
 
Lalu adegan berlanjut saat Karina menemukan Dewi sedang berlomba minum dengan Daniel. Ia memaksa Dewi agar berhenti, dengan syarat ia yang menggantikan Dewi. Dan semesta berkomplot, terjadilah one night stand. Karina dan Daniel sama-sama mabuk waktu itu.
 
Karina mendapati dirinya hamil. Ia yang selama ini terbiasa hidup sendiri, merasa panik. Akhirnya ia menemui Daniel untuk meminta pertanggungjawabannya. Namun ia tidak ingin menikah. Ia hanya menginginkan Daniel membiayai hidupnya selama ia mengandung dan nanti merawat anaknya setelah ia melahirkan.
 
Daniel awalnya menolak, tentu saja. Namun dengan kehadiran Clarissa-ibu Daniel-ia tak bisa menolak. Clarissa tak ingin Daniel menjadi seperti ayahnya yang tidak bertanggung jawab.
 
Meski awalnya terpaksa, lama kelamaan Daniel mulai berubah memperhatikan Karina. Dan mulai tumbuhlah benih cinta di antara mereka (oke, ini bahasa aku agak aneh, tolong dimaafkan :p)
 
Namun, kedatangan Celline sang mantan pacar Daniel, mengganggu hubungan antara Karina dan Daniel. Lantas bagaimana kelanjutan hubungan antara keduanya?
 
Untuk penggambaran fisik keduanya, tidak diragukan lagi sudah sangat jelas. Saking jelasnya, penggambaran tentang fisik mereka yang sempurna: Daniel yang tampan dengan mata kelabu dan otot-otot yang tersebar di lengan, perut, dan pahanya (Me: spechless XP). Daniel yang pebisnis hotel yang kaya raya. Serta Karina yang cantik, dengan mata bening, tubuh yang menawan, dan bibir merah yang seksi ini mulai terasa membosankan. Ini dikarenakan sepanjang novel diceritakan bagaimana ketampanan Daniel dan kecantikan Karina yang terus diulang-ulang.
 
Dan sepertinya untuk ukuran novel Indonesia, terdapat adegan yang terlalu lebay. Sebut saja saat Daniel mengajak Karina pergi ke Bandung dengan menggunakan helikopter. Adegan ini malah mengingatkanku pada drama Boys Before Flowers saat Gu Jun Pyo mengajak Geum Jan Di pergi melihat apa ya namanya? Yang hijau-hijau bentuk love itu, maap namanya lupa :p Tapi di dalam drama itu diceritakan bahwa Jun Pyo merupakan pewaris Sinhwa Grup yang menguasai seluruh Korea. Dan daerah yang mereka tuju memang hanya bisa dilihat dengan menggunakan helikopter kecil karena tidak mungkin dapat dilihat hanya dengan pergi menggunakan mobil. Namun yang di dalam novel ini bagaimana? Cuma ke Bandung aja loh. Jakarta-Bandung seberapa jauhnya sih? Cuma mau makan malam pula -.- Apa tidak bisa lagi pergi dengan mobil? Lagi pula, sekaya apa sih si Daniel? Apa ia menguasai bisnis perhotelan se-Indonesia?
 
Untuk interaksi di antara keduanya, kebanyakan berdasarkan pada hasrat. Nafsu. Namun dengan penjabaran sepanjang novel, keinginan keduanya untuk bersama yang kebanyakan hanya dilandasi keinginan dalam tanda kutip malah membuat risih. Misalnya Karina dengan mata bening, bibir seksi, wajah cantiknya, serta tubuh yang menawan itu mampu membuat Daniel bergairah hampir setiap mereka berdekatan. Lalu Daniel dengan mata kelabu dan tubuh yang woow itu juga membuat Karina memiliki gairah yang sama. Juga dengan penceritaan seringnya Daniel memberikan Karina hadiah seperti baju dan sepatu yang selalu pas untuk Karina seolah Daniel mengingat ukuran semua bagian tubuh Karina. Sejujurnya ini malah membuat risih. It’s too much for me. Seriously.
 
Juga penggambaran Karina yang plin-plan dengan perasaannya sendiri. Dan Daniel yang sedikit terlalu berlebihan. Apa karena ia begitu kaya hingga ia mampu bersikap seenaknya sekehendak hatinya saja?
 
Tapi syukurlah novel ini mampu berkisah dengan lancar. Malah aku belum bisa memisahkan yang mana bagian yang dituliskan masing-masing oleh Dahlian dan Giela Latifa. Lagi pula aku memang belum pernah membaca novel-novel milik Dahlian ataupun Gielda sebelumnya. Di luar bagaimana penulis menggambarkan karakter Daniel dan Karina yang selalu berhasrat satu sama lain, penceritaan Daniel yang begitu perhatian pada Karina ini cukup manis. Dan yeah, Daniel ini prince charming banget deh ya XP 
 
Konflik yang dihadirkan juga cukup mulus. Juga dengan plot yang agak tidak terduga. Awalnya aku berpikir mereka akan bertahan hingga akhir dengan hadirnya anak mereka, namun ternyata tidak. Aku salah duga. Di sini aku tidak akan bercerita panjang lebar, nanti malah terlalu banyak spoiler. Aku sedang belajar untuk mengubah caraku menulis review untuk tidak membocorkan keseluruhan jalan cerita.
 
Untuk typo sendiri, berhubung aku membacanya dalam keadaan setengah mengantuk maka aku tidak terlalu memperhatikan. But overall, novel ini cukup manis. Cukuplah untuk membuatku bertahan untuk mencoba membaca tulisan Gielda ataupun Dahlian selanjutnya. Mari kita buktikan nanti saat aku membaca Promises, Promises milik Dahlian yang masih dalam perjalanan menuju rumahku. 
 
Aku berikan tiga bintang untuk novel ini… ^^
 
 
 
[Review Buku] Travel in Love – Diego Christian

[Review Buku] Travel in Love – Diego Christian


 Judul: Travel in Love. Forgetting You, Finding You 
Penulis: Diego Christian 
Penyunting: Jason Abdul 
Penerbit: Noura Books 
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, April 2013 
Tebal: 324 Halaman 
ISBN: 978-602-7816-42-8 
Rating: 2/5 

Sinopsis: 
Di peron stasiun, 
Aku berdiri dengan carrier 85 liter di sisi. Sebentar lagi rangkaian Argo Parahyangan akan membawaku mengawali perjalanan 30 hari: Jawa, Bali, dan Lombok. 
Di atas bukit bintang, 
Aku ditemani seorang sahabat yang masih berduka atas kekasihnya. Seperti aku yang belum merelakan si Pecinta Gunung, laki-laki si pemilik senyum teduh. 
Di atas kapal yang berayun, 
Aku harus kuat menghadapi hadirnya si Orang Asing. Juga ketika banyak rahasia yang terungkap atau kata-kata yang dulu tak terucap. 
Di pantai yang indah, 
Aku duduk menatap laut, sejauh ini aku tak tahu cinta macam apa yang kutemui di perjalanan ini. Karena perjalanan ini terlalu panjang untuk dilalui sendiri. 
Di perjalanan ini, 
Aku ingin kamu menemaniku ….
——————————————————————————————————————
 
Pertama kali menemukan novel ini di tumpukan diskon gramedia, aku tertarik dengan judulnya. Travel in Love. Ditambah dengan adanya tulisan Juara Noura Books Academy. Lalu, di cover depan dan belakang, serta di bagian dalam cover, terdapat beberapa testimoni dari beberapa penulis, yaitu:
 

“Apa alasanmu melakukan sebuah perjalanan? Soul-searching, trying to find or forget something? Atau mungkin hanya dengan niat bersenang-senang? Seperti perjalanan itu sendiri, buku yang ditulis Diego ini mungkin akan menimbulkan ledakan rasa, nostalgia, pemahaman akan sesuatu yang berbeda, juga geletar cinta.”
Primadonna Angela – Mentor NBA, Penulis How to be A Writer, Belanglicious

 

Brilliant! Suka dengan ide yang diolah Diego dalam novel Travel in Love ini. Terutama persahabatan, perjalanannya, dan juga surprise tak tertebak yang disajikan dalam novel. Membaca novel ini kita merasa sedang berjalan menyusuri tempat-tempat eksotis di Indonesia, lengkap dengan hubungan persahabatan yang kental, juga romantisme yang dibangun di sela perjalanan yang menggiurkan ini. Saya suka dengan nama-nama tokoh yang dipilih Diego (paling suka Jatayu, nih), unik dan eksotis, membuat pembaca jadi cepat akrab dengan tokoh-tokoh ini. Recommended, terutama bagi yang suka cerita manis dan backpacking. Saya yakin setelah baca buku ini, kalian jadi ingin mengenal Nusantara lebih dekat dan tersenyum karena cerita manisnya. 🙂 Great job, Diego!”
Yoana Dianika – Penulis Last Minute in Manhattan, Pandangan Pertama

 

“Lewat Travel in Love, Diego memadukan eksotisme Indonesia dan manisnya cinta. Sebuah novel yang membuat terpesona dengan bumi nusantara, juga jatuh cinta dengan cerita cintanya di saat yang sama.”
Sefryana Khairil – Penulis Sweet Nothings, Coming Home

 

“Saya menikmati perjalanan dalam novel ini. Deskripsi yang kuat dan dialog yang mengalir natural adalah alasan besar saya untuk terus membaca sampai halaman terakhir. Tidak cukup sederhana, tapi menyenangkan untuk dinikmati.”
Robin Wijaya – Penulis Before Us, Menunggu, dan ROMA

 
Dengan menggunakan testimoni dari para penulis yang namanya sudah malang melintang di dunia penulisan Indonesia di mana beberapa di antaranya adalah penulis seri Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) Gagasmedia, juga dengan adanya nama Primadonna Angela dan Orizuka sebagai mentor Noura Books Academy. So tell me, apalagi yang membuat saya memutuskan untuk tidak membeli novel yang didiskon menjadi hanya Rp 20.000,- saja ini?
 
Adalah Paras. Ia memutuskan untuk melakukan perjalan secara backpacking menyusuri Jawa, Bali, dan Lombok selama tiga puluh hari.
 
Adalah Jatayu. Statusnya sebagai sahabat paras juga sebagai travel buddy-nya, ikut dalam perjalanan panjang selama tiga puluh hari bersama Paras.
 
Mereka berdua pergi bukan tanpa alasan. Perjalanan ini dimaksudkan untuk melepaskan kenangan mereka terhadap masa lalu, terhadap kisah cinta mereka masing-masing. Paras ingin melupakan Kanta, seseorang yang ia cintai namun Paras tak tau bagaimana sebenarnya perasaan Kanta terhadapnya. Pun begitu dengan Jatayu. Ia ingin merelakan kepergian Kelana, kembaran dari Kanta, pacar Jatayu yang meninggal saat pendakian.
 
Perjalanan dimulai oleh Paras seorang diri. Ia menjemput Jatayu ke Bandung, barulah mereka akan pergi bersama-sama. Sesaat sebelum mereka meninggalkan Pelabuhan Kartini, muncullah Kanta yang akan melepas mereka.
 
Di Dermaga Dewadaru inilah Paras bertemu Sean. Sean yang juga memiliki luka hati karena ditinggal adiknya. Namun Kanta muncul kembali. Hingga Paras mengetahui bahwa Sean merupakan teman lama Kanta. Kehadiran Sean mampu membuat Paras merasakan hal lain. Namun dengan berubahnya kelakuan Jatayu membuat Paras frustasi. Hingga akhirnya ia melihat Sean dan Jatayu berciuman. Paras merasa marah, dan meninggalkan mereka. Ia pergi, dan dalam pelariannya itu Kanta menyusulnya. Kanta mengajaknya untuk pergi ke Lombok. Namun pada saat yang dijanjikan, Kanta tidak muncul. Hingga pergilah Paras seorang diri ke Lombok. Lantas apa yang terjadi dengan Kanta? Akhirnya Kanta muncul. Lalu Paras dan Kanta memutuskan untuk bersama. The end.
 
Dengan tema besar traveling yang diambil oleh Diego, menjadi hal pertama yang menggelitik pikiranku untuk membaca novel ini. Apalagi dengan embel-embel testimoni bahwa novel ini sangat recommended untuk orang-orang yang hobi backpacking. Juga dengan cover yang catchy dan full color. Namun sayangnya, begitu memasuki halaman awal, keinginan untuk menghabiskan novel ini dalam sekali baca, terus berkurang. 

Untuk pemilihan nama, Diego cukup menambahkan nilai untuk novel ini. Paras, Jatayu, Kanta, dan Kelana merupakan nama-nama yang cukup menarik dan eye catching.
 
Setau aku, backpacking berarti membawa sesedikit mungkin barang yang dibutuhkan. Namun tidak begitu dengan Paras. Ia membawa carrier delapan puluh lima liter dengan seobrak-abrik barang di dalamnya. Sebut saja baju, celana, baju hangat, undies, baju renang dua buah, vitamin-vitamin, P3K mini, baby stuff, krim pagi krim malam, sunblock, novel-novel(?), iPhone, iPod, kamera SLR dan perlengkapannya, tisu basah, tisu kering, permen karet. Oke memang Paras pergi tiga puluh hari. Tapi carrier 85 liter? Dan masih sempat membawa novel-novel? Ini mau liburan ala backpacking atau gimana ya? Carrier 40 liter punyaku aja kalo penuh berat banget loh -.- Itu punyaku yang cuma setengah dari punya Paras cukup kok untuk hidup tiga minggu lebih.
 
Dan menurutku ceritanya begitu-begitu saja. Datar. Tidak ada cerita yang menghebohkan di dalamnya. Paras dan Jatayu yang bisa dibilang sangat cengeng. Bahkan endingnya juga begitu saja. Tidak ada twist menarik yang diberikan. Bahkan untuk menghabiskan satu novel ini, aku membutuhkan waktu dua minggu, di mana seharusnya untuk menghabiskan novel setebal 300 halaman biasanya aku hanya membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga jam saja -.-
 
Juga terdapat beberapa typo yang aku temukan. Untuk kesalahan penulisan biasa mungkin masih bisa aku toleransi, namun dengan penulisan diamdiam, menitmenit, masingmasing, baikbaik yang merupakan satu puisi milik Paras, aku jadi bertanya-tanya apakah ini kesalahan penulis atau editornya. Sedangkan kata benar-benar dalam puisi tersebut penulisannya sudah benar. 

Dan juga ketidakkonsistenan pemilihan kata pengganti diri pada karakter Kanta yang aku temukan. Kanta menggunakan saya dan aku dalam satu paragraf. Hal ini sedikit membingungkan.

“Kayu … Saya pernah bilang sama kamu kalau kayu ini nggak akan pernah patah, kan? Kayu-kayu ini hanya pergi sebentar untuk aku dan kamu pakai. Aku hanya pergi sebentar, Ras, sebelum aku kembali lagi untuk kamu. Paras,” ucap Kanta pelan, “tolong jangan tinggalin saya lagi, ya?”

 
Satu-satunya yang membuatku bertahan untuk membaca novel ini hanyalah lokasi-lokasi yang terdapat di dalamnya. Berbagai lokasi yang diceritakan membuatku ingin mencoba menjelajah Jawa-Bali-Lombok seperti Paras dan Jatayu. Suatu hari nanti semoga saja… ^^ Juga dengan beberapa ilustrasi, foto dan peta lokasi yang disertakan. Entahlah, mungkin aku terlalu banyak memberi ekspektasi pada novel ini, padahal aku belum pernah membaca karya Diego sebelumnya. Mungkin aku sendiri bukan seorang penulis profesional, namun untuk novel ini, not my cup of tea.
 
Aku berikan dua bintang untuk novel ini… ^^

[Review Buku] I Remember You – Stephanie Zen

[Review Buku] I Remember You – Stephanie Zen


Judul: I Remember You 
Penulis: Stephanie Zen 
Penerbit: Gagasmedia 
Halaman: 330 Halaman 
Tahun Terbit: Cetakan pertama, 2015 
ISBN: 978-979-780-828-0 
Rating: 4/5

Sinopsis: 
Kau datang meminta sisa rasa yang ada 
Meraih tanganku, menatapku dengan isyarat cinta tulus; 
berjanji bahwa ini akan selamanya. 
Tak ada alasanku untuk menolaknya. 
Namun, apakah kata-kata masih bisa kujadikan pegangan? 

Dea tak pernah menyangka sebuah pekerjaan paruh waktu dapat menjungkirbalikkan hidupnya. Membuatnya tak mampu lagi menerka apa warna masa depan–bahkan ketika seseorang meyakinkan ia masih bisa memiliki segala warna yang disukainya.

Aurelie selalu mampu menemukan keping puzzle yang hilang dalam pekerjaannya. Sayangnya, ia takut untuk tahu apa keping yang hilang dalam hidupnya. Suatu hari, seorang pria dengan senyum meneduhkan membawakannya cinta. Namun, sebuah alasan membuat Aurelie tak pernah lagi percaya bahwa cinta itu nyata–bahkan ada.

Dea dan Aurelie mencoba pelan-pelan membangun rasa percaya yang pernah porak-poranda. Selalu waspada karena tahu bahwa bangunan itu masih rapuh. Namun, selalu saja ada waktu kita tak waspada sepenuhnya, salah satunya ketika jatuh cinta.
—————————————————————————————————————————–

Finally, it’s time to review this novel with the cute cover ^^ 

This review contains spoiler. You can skip some paragraphs if you don’t want to read it.. ^^

I Remember You merupakan novel ketujuh belas dari kak Steph sekaligus novel ketiga belas dari kak Steph yang kumiliki. Yeah, tujuh belas. Dan aku? Sampai sekarang bahkan belum berhasil menyelesaikan satu buku pun. *poor me, tapi emang dasarnya males, moody pula*.

I Remember You berkisah tentang Dea dan Aurelie. Pada awalnya aku mengira novel ini akan mengangkat topik mengenai dua kepribadian seperti novel Khokkiri oleh Lia Indra Andriana. Tapi ternyata novel ini jauh dari perkiraanku.

Adalah Dea, seorang dresser paruh waktu. Statusnya yang baru saja lulus dari Bachelor of Business membuatnya memilih untuk menjadi dresser pada Women’s Fashion Show, khusus karya Giuseppe Antolin walaupun Dea bukanlah seseorang yang paham dengan dunia fashion. Berkat pekerjaan paruh waktunya ini, ia bertemu dengan Janes yang sanggup membuatnya jatuh cinta.

Adalah Aurelie, seorang dresser. Bekerja pada dunia fashion mau tidak mau mempertemukannya dengan banyak model. Dan ia pun bertemu dengan Ruben yang berprofesi sebagai model. Namun berbeda dengan Dea, Aurelie sudah terlanjur menarik diri dari lawan jenisnya. Ia tidak lagi percaya akan cinta.

Dea bertemu dengan Janes saat pertama kalinya ia menjadi seorang dresser. Janes adalah sang model yang ia bantu dalam fashion show. Mereka berkenalan dan ternyata memiliki kecocokan dan memutuskan untuk menjadi sahabat. Walaupun banyak yang menentang hubungan persahabatan mereka, namun Dea tak menggubrisnya.

Aurelie bertemu dengan Ruben di saat ia sudah kehilangan kepercayaan akan cinta. Ruben, model yang akhirnya kembali menggeluti profesi sebagai model setelah sekian lama vakum, mampu mengubah hidup Dea sedikit demi sedikit. Siapa yang menyangka Ruben juga bekerja sebagai Business Development Manager yang begitu profesional di perusahaan furnitur milik sang ayah?

Dea mulai merasa persahabatannya dengan Janes mulai berubah. Sahabat seharusnya tidak melakukan beberapa hal yang mereka lakukan. Dea menyadari bahwa sedikit demi sedikit ia mulai jatuh cinta pada Janes.

Sebagai seorang model, Aurelie mendapati Ruben tidaklah seperti model kebanyakan. Ruben baik serta bertanggung jawab. Saat Aurelie mencari sofa untuk apartemennya, Ruben memberikannya saran untuk set yang cocok dengan sofa sesuai keinginan Aurelie, bahkan turun tangan langsung memasangnya di apartemen Aurelie.

Dea yang selama ini tidak pernah mendapatkan cinta dari kedua orang tuanya, membuatnya menyamput uluran perhatian dari Janes. Hingga akhirnya sesuatu yang buruk terjadi. Dea terbangun tanpa busana di ruangan asing dengan laki-laki di sampingnya. Laki-laki itu Janes dan ruangan asing itu adalah kamar Janes.

Dea tak menyangka kondisinya yang mabuk disalahgunakan oleh Janes. Ia marah besar tentu saja. Pada Janes dan pada apa yang telah mereka lakukan. Ia menghindar dari Janes. Hingga ia sadar bahwa ia hamil, saat itulah ia mencari Janes dan menemukan Janes telah kembali ke negara asalnya Jerman. Ia frustasi dan memutuskan kembali ke Indonesia.

Saat orang tuanya mengetahui perihal kehamilannya, mereka marah tentu saja. Lalu Dea mengalami kecelakaan dan keguguran. Saat itulah ia mendapati kedua orang tuanya kembali mencintainya.

Aurelie merasakan sesuatu yang berbeda kepada Ruben, namun masa lalunya membuatnya ragu. Dukungan dari kedua orang tua membuat Aurelie kuat. Hingga akhirnya ia menemukan notes di dalam handpone-nya yang dituliskan oleh Ruben.

Dear Aurelie, Give us a chance? 🙂

Saat itulah Aurelie memutuskan untuk bertemu Ruben dan menceritakan seluruh masa lalunya. Ya, dialah Dea. Aurelie Amadea lebih lengkapnya. Masa lalunya di mana ia diperkosa, ditinggalkan saat ia menyadari ada janin di rahimnya, lalu kecelakaan dan keguguran telah membuat hidupnya terpuruk. Hingga ia memutuskan kembali ke Singapura dan meminta semua orang untuk memanggilnya Aurelie, bukan lagi Dea.

Dan Ruben menerimanya, seburuk apapun masa lalu Aurelie. Bahkan Ruben mau meninggalkan dunia model saat ia telah berada di puncak kesuksesan, hanya demi Aurelie. Well, sampai di sini aku mendapati Ruben ini adalah lelaki yang too good to be true >.< He’s damn so hoooooot, definitely. Well, lelaki mana yang bisa seperti Ruben? Mau satu dong kalo emang masih ada >.<

Aurelie dan Ruben memutuskan untuk menikah. Ya tentu saja, dengan lelaki sebaik dan seberkualitas Ruben, siapa yang menolak? Tentu saja bukan aku :p Saat bachelorette party, Aurelie alias Dea bertemu dengan Janes yang menjelaskan apa yang telah terjadi di antara mereka.

Tulisan-tulisan kak Steph emang bagus-bagus kok. Novel ini benar-benar manis dalam penceritaannya. Terdapat dua jenis sudut pandang Dea dan Aurelie yang diceritakan secara bergantian, akan mengecoh kita pada awalnya. Seperti biasa, penceritaan kak Steph begitu mengalir, dengan detail cerita yang membuat kita masuk ke dalam dunia dresser dan fashion. Juga dengan pesan moral yang disisipkan bahwa kita tidak bisa mengubah masa lalu dan harus belajar memaafkan diri kita sendiri. Terakhir tentu saja ending yang manis.

Ya, aku terkecoh pada awalnya. Aku mengira Dea dan Aurelie ini adalah satu orang yang memiliki kepribadian ganda. Namun ternyata aku salah. Dea dan Aurelia memang memiliki pekerjaan yang sama dan bertemu dengan orang-orang yang sama seperti Gilian dan Andrew.

Dea dan Aurelie memang orang yang sama. Namun Dea adalah Aurelie tiga tahun yang lalu. Kecelakaan yang menimpa Dea mampu membuat ayah dan ibunya berubah mencintai Dea dengan begitu besarnya.

Aku mendapati beberapa typo dalam novel ini. Tidak terlalu mengganggu sih, tapi lumayan menyebalkan untukku. Ada beberapa kutipan yang aku sukai dalam novel ini.

Kami memulai babak baru dalam kehidupan kami dan meski aku terkadang menyesal bahwa aku harus melalui semua yang sudah kulalui, now I know that everything happens for a reason. Even though sometimes the reason is I am stupid and I made bad decisions.

A true relationship is having someone who accepts your past, supports your present, and encourages your future. Mungkin, aku nggak akan pernah mencintai Aurelie yang sekarang, jika ia nggak pernah menjadi Dea. But, I love you, because of what you’ve been through has made you… you.”

He loves me for who I am, and the most important thing is that he loves me for what I’ve been through. My past, my mistakes, my foolishness… I couldn’t ask for more.

Overall, aku suka buku ini. Kak Steph bahkan sudah mau menerbitkan novel terbarunya yang berjudul Stuck in Love. Can’t wait kak… >.<

Aku berikan empat bintang untuk I Remember You… ^^




[Review Novel] Memori – Windry Ramadhina

[Review Novel] Memori – Windry Ramadhina

Review Novel Memori Windry Ramadhina

Identitas buku:

Judul: Memori, Tentang Cinta yang Tak Lagi Sama
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagasmedia
Halaman: 304 Halaman
Tahun Terbit: Cetakan pertama, 2012
ISBN: 978-979-780-562-3
Rating: 5/5

Sinopsis Memori:

Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi.

Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.

Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia–cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.

Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.

——————————————————————————————————————————————————————————–

Review Memori:

Memori adalah novel keempat dari Windry Ramadhina yang berhasil aku selesaikan dalam dua jam saja, sekaligus novel pertama Windry yang aku review… ^^

Memori berkisah tentang Mahoni, seorang arsitektur yang bekerja di Virginia. Ia digambarkan sebagai sosok yang perfeksionis dalam bekerja, dan tidak kenal kompromi terhadap kliennya. Di Virginia, ia bekerja dengan Ron–temannya yang baru diangkat menjadi bos Mahoni–yang memanggilnya dengan nama Honey.

Di Virginia, Mahoni tinggal sendiri. Ia memutuskan kabur ke kota ini, hanya untuk menghindari sang ibu. Ya, ia berasal dari keluarga ‘broken home’. Mahoni kecil seringkali mendengar pertengkaran papa dan mamanya. Ia selalu sendiri. Bahkan sejak SMP, ia tak lagi memanggil ibunya dengan sebutan mama. Hanya Mae, sebutan mama tidaklah pantas lagi karena Mae tidaklah bersikap seperti seorang ibu.

Papa dan Mae memutuskan untuk berpisah. Mahoni kecil dipaksa meninggalkan rumah papanya oleh Mae. Sepeninggal Mahoni dan Mae, sang papa bertemu dengan Grace, menikah, dan memiliki anak bernama Sigi–adik tiri Mahoni.

Lantas Mahoni terpaksa kembali. Telepon dari Jakarta memaksanya untuk pulang. Telepon yang mengabarkan papanya sudah tiada. Dan akhirnya ke sanalah Mahoni menuju, rumah papanya. Sesampainya ia di rumah, ia mendapati ayahnya telah tiada, begitu pula dengan Grace. Om Ranu–adik papanya–meminta ia untuk tinggal dan menemani Sigi.

Tentu saja awalnya Mahoni menolak. Sigi bukanlah orang yang berarti dalam hidupnya. Terlebih saat ia bertemu dengan Mae di makam sang papa, ia mendapati Mae masihlah seperti yang dulu, Mae yang egois dan merasa semua hal hanya berpusat pada dirinya. Yang ia inginkan hanya kembali ke Virginia dan melanjutkan hidupnya.

Namun Om Ranu memaksanya untuk tinggal dua bulan sembari Om Ranu mencari solusi. Alasan Om Ranu yang berkata ini demi sang papa, membuat Mahoni tak sanggup menolak. Bukan hal yang mudah untuk Mahoni untuk tetap tinggal. Ia yang sudah lama tidak merasakan kasih sayang keluarga, ditambah harus menemani sang adik tiri yang selama ini tak pernah ia temui. Sigi, sang adik yang namanya berarti kayu Damar–kayu kesukaan sang papa–dianggapnya sebagai pengambil kebahagiaan hidupnya. Ia masih tak bisa melupakan bagaimana Grace dan Sigi selalu dicintai oleh papanya, sedangkan ia hidup menderita dengan Mae yang tak bisa berdamai dengan waktu dan rasa sakit.

Di Jakarta ia kembali bertemu dengan Simon, mantannya dulu yang kemudian menjadi partner kerjanya di MOSS. Simon memiliki hubungan dengan Sofia, yang juga menjadi rekan kerja Mahoni di Jakarta. Hingga akhirnya Ron mengabarkan padanya berita besar yang membuatnya ingin segera kembali ke Virginia. Impian terbesarnya selama ini untuk bekerja dengan Frank O. Gehry sudah di depan mata. Namun meninggalnya istri Om Danu membuatnya terpaksa harus tetap tinggal untuk jangka waktu yang lebih lama, setidaknya hingga Sigi mampu untuk mengurus dirinya sendiri.

Mahoni juga mendapati bahwa Simon masihlah seperti saat mereka masih kuliah dulu, Simon masih memiliki perasaan padanya. Hal ini membuatnya seolah berada pada posisi Grace, ibu tiri yang dibencinya karena telah merebut sang papa. Di satu sisi ia tak bisa menyangkal bahwa rasa itu masih ada, namun hal-hal yang telah terjadi pada keluarganya membuatnya bimbang.

Novel-novel karya Windry Ramadhina tak pernah membuatku kecewa. Nama Windry Ramadhina pada kover sebuah novel selalu menjadi jaminan atas cerita yang dikisahkan di dalamnya. Begitu juga dengan novel ini. Jalinan cerita yang mengalir lepas dari awal hingga akhir. Setiap bagian dari novel ini diceritakan dengan begitu detail. Penuturannya begitu lancar dengan penggambaran setting cerita yang dibahas secara mendalam, membuat kita sebagai pembaca dapat lebih mudah membayangkan cerita dalam novel ini.

Kilasan-kilasan flashback yang diceritakan juga cukup apik dan tidak membuat bingung pembaca. Begitu pula penggunaan beragam istilah arsitektur mampu menyedot pembaca seakan masuk ke dalam dunia Mahoni. Walaupun menurutku akan lebih baik jika di setiap istilah yang digunakan, diberi catatan kaki sebagai penjelasannya. Plot cerita novel sini sangat kuat dari awal hingga akhir. Juga dengan adanya penyampaian pesan moral dengan begitu luwesnya, serta happy ending yang memuaskan semua pihak ^^.

Baca juga: [Review Novel] Angel in the Rain – Windry Ramadhina

Apalagi jika seperti Mahoni, yang terpaksa berpisah dengan ayahnya untuk tinggal dengan ibunya yang tidak lagi bersikap layaknya seorang ibu, dan mendapati sang ayah hidup bahagia dengan istri dan anak barunya. Dan kemudian mendapati sang ayah sudah tiada dan diharuskan untuk merawat adik tirinya. Dengan penceritaan khas seorang Windry, Memori membuatku mampu untuk tenggelam di dalamnya. Aku masih mendapati beberapa kesalahan penulisan pada novel Memori ini, tapi sama sekali tidak mengganggu.

Untuk mereka yang merindukan rumah–tempat berbagi cinta, kenangan, dan tawa yang tidak pernah pudar.

Lima bintang untuk Memori.

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest