[Review Film] Melbourne: Rewind The Movie

[Review Film] Melbourne: Rewind The Movie

Judul: Melbourne Rewind
Produser: Sunil Santani
Sutradara: Danial Rifky
Skenario: Haqi Ahmad
Pemain: Pamela Bowie, Morgan Oey, Jovial Da Lopez, Aurelie Moeremans
Film Rilis: 17 November 2016
Negara: Indonesia
Bahasa: Indonesia
Durasi: 96 menit
Rating: Remaja (R13+)
Bintang: 4/5

Sinopsis: 

Gagal move on. Itulah yang dihadapi oleh Laura, penyiar radio yang kini tinggal di Melbourne ketika mendapati, Max, cinta pertamanya muncul di hadapannya. 

Ingatan masa lalu pun perlahan kembali, membawa setiap rasa cinta, rasa kesal, rasa sakit dan kehilangan. Max bukan hanya sekedar cinta pertama, tapi Max adalah orang yang berhasil membuat Laura pelan-pelan menemukan tujuan hidup.

Max menyusun setiap passion dan cita-cita Laura seperti puzzle, dan akhirnya menjadikan Laura utuh seperti dirinya sekarang. Namun ego masa muda memisahkan mereka. Max harus ke Amerika untuk mewujudkan mimpinya sebagai Lighting Designer. Dan keduanya pun setuju untuk mewujudkan mimpi di jalan masing-masing.

Sayangnya, Max muncul kembali ketika Laura sudah siap melupakan dia dan beralih kepada pria lain, Evan, Dokter hewan yang juga adalah pacar sahabatnya, Cee.

Move on dari cinta pertama lalu jatuh cinta pada pacar sahabat?

Laura kini harus menyusun sendiri puzzle pilihan hidupnya. Dengan menjawab sebuah pertanyaan besar untuk menuntun hidupnya: “apa yang sebenarnya hatiku mau?”.

Sebuah kisah tentang penemuan jati diri dan cinta, di sebuah kota yang memungkinkan apapun terjadi, MELBOURNE.

————————————————————————————————————————–


Review ini dituliskan berdasarkan sudut pandang seorang pecinta novel, movie, dan juga traveling.

Film Melbourne: Rewind diangkat dari novel berjudul sama karya dari Winna Efendi, yang merupakan satu dari empat belas buku dari seri Setiap Tempat Punya Cerita atau yang biasa dikenal dengan STPC.

Dan saat menulis review ini, aku belum selesai membaca novelnya. Jadi, review film ini akan murni menjadi review filmnya, tanpa membandingkan dengan novelnya.

Melbourne Rewind The Movie

Melbourne: Rewind dikisahkan secara bergantian antara masa kini dan juga flashback. Kisah ini diawali dengan Maximillian Prasetya tidak sengaja menemukan kembali sang mantan, Laura Winardi, saat mendengarkan radio dalam taksi yang membawanya sesaat setelah menginjakkan kakinya kembali di kota Melbourne. Akhirnya bisa stay for good di Melbourne setelah sebelumnya bekerja di Sidney, Max pun mencari Laura.

Pertemuan pertama antara Max dan Laura berawal dengan hilangnya walkman milik Laura, yang ternyata dari penjelasan petugas bagian lost and found, walkman tersebut sudah diambil dan diakui oleh Max. Laura yang mengetahui hal tersebut mencari Max guna mengambil kembali walkman-nya.

Hingga akhirnya Max mengajak Laura ngopi, yang diiyakan karena beberapa hal. Laura datang bersama dengan Cee, sahabatnya sejak SMP. Saat itulah Laura melihat bahwa Max tidak menyukai Cee yang cantik, yang biasa diidolakan semua orang, dan malah menyukai dirinya.

Melbourne Rewind The Movie

Max adalah seorang pecinta cahaya dan ia hidup untuk menggapai mimpinya menjadi lighting designer, berbeda dengan Laura yang bahkan masih mencari jati dirinya. Keinginan untuk mewujudkan cita-citanya membuat Max memilih untuk pergi bekerja di New York dan meninggalkan Laura.

Lima tahun berlalu dan di sinilah mereka, di saat Laura mulai jatuh hati pada Evan, seorang dokter hewan yang juga merupakan pacar dari Cee. Evan bisa dibilang adalah versi laki-laki dari Laura. Ada begitu banyak kesamaan di antara keduanya yang membuat mereka semakin dekat. Di saat ini pulalah Max kembali, dengan perasaannya yang masih sama pada Laura.

Melbourne Rewind The Movie

Siapa yang nantinya akan dipilih Laura? Apakah Max? Ataukah Laura memilih Evan, dan menyakiti hati sahabatnya sendiri? Tonton di bioskop terdekat ya.. ^^

Melbourne, satu kota yang punya daya tariknya tersendiri. Dengan keindahannya, dengan kekhasannya.

Kota yang kemudian diangkat dalam novel dan film ini, yang membuat aku lebih memilih menonton film ini dibandingkan dengan Fantastic Beast and Where to Find Them. Juga karena film ini diangkat dari novel karya Winna Efendi, yang selama ini bisa dibilang aku cukup menyukai kisah-kisahnya. Suatu buku bagus jika diadaptasi menjadi sebuah film terkadang akan mengecewakan para penggemarnya. Hal inilah yang menyebabkan aku memilih gambling dan belum membaca bukunya terlebih dahulu.

Kesan pertama yang aku dapatkan dari menonton film ini? Nabung yuuuuuk, suatu hari harus bisa ke Melbourne! SEMANGAT!!!

Walaupun sampai saat ini aku masih kurang suka dengan Morgan Oey, namun tidak bisa dipungkiri Morgan bisa melakoni peran Max dengan cukup baik. Sedangkan untuk Pamela Bowie sendiri, dalam film ini aku baru pertama kali menonton aktingnya. Dan ya, aku lumayan suka.

Ada satu scene yang aku paling suka, yaitu waktu Max mengajak Laura ke kamarnya dan menunjukkan permainan cahaya lampu. Bikin melting!

Sedangkan yang paling membuatku takjub dalam film ini adalah  Aurelie Moeremans sebagai pemeran Cee. Di saat pemain lain menggunakan pakaian tebal semua, dia dengan santainya terlihat memakai cropped top, atau baju pendek dan celana sepinggul. Ga kedinginan bu?

Kisah Melbourne Rewind ini sendiri diceritakan dengan cukup apik tanpa harus berlebihan. Soundtrack dari film ini juga cukup bagus, juga didukung dengan pengambilan gambar yang bikin tambah mupeng pengen ke Melbourne aih XP *teteeeeppp* *selalu pengen jalan-jalan* *backpacking lagi yuuuuukkk*

“Jangan sampai lo ngancurin mimpi orang lain hanya karena lo ga punya mimpi” – Max

“Mulai sekarang setiap kali aku melihat cahaya, aku akan mengingat kamu Laura.” – Max

Next, nungguin London: Angel dirilis.

Empat bintang untuk Melbourne: Rewind… ^^

Melbourne Rewind The Movie

Baca juga: [Review Film] TV Movie Radio Rebel

[Review Film] TV Movie Radio Rebel

[Review Film] TV Movie Radio Rebel

Judul: Disney Channel Original Movie Radio Rebel 
Sutradara: Peter Howitt 
Skenario: Erik Patterson, Jessica Scott 
Pemain: Debby Ryan. Sarena Parmar, Adam DiMarco, Merritt Patterson, Atticus Mitchell 
Film Rilis: 17 Februari 2012 
Negara: United States 
Bahasa: Inggris 
Genre: Remaja, Drama 
Bintang: 4/5 

Sinopsis: 
Tara Adam, seorang gadis pemalu berusia 17 tahun bersekolah di SMA Lincoln Bay. Ia takut berbicara pada siapapun di koridor sekolah ataupun dipanggil untuk maju di dalam kelas. Akan tetapi, di kamar pribadinya, ia menjadi DJ bernama “Radio Rebel”. Alter egonya memberi pesan inspirasi pada teman-teman SMAnya dan membuat dirinya menjadi wanita yang dilindungi. Ayah tirinya, Rob menjalankan Slam FM, stasiun radio terpanas di Seattle. Ketika ayahnya mengetahui bahwa Tara adalah Radio Rebel ketika mendengarkan satu dari siarannya Tara, ia memutuskan untuk membuat Tara mengisi slot DJ pada Slam FM.
—————————————————————————————————————————
 
Nonton TV Movie-nya ini udah lama banget padahal. Ini bikin review karena iseng nonton lagi sih hehe ^^
 
Radio Rebel adalah salah satu Disney Channel Original Movie. Radio Rebel bercerita tentang Tara, seorang gadis pemalu. Ia tidak berani berbicara pada teman-temannya selain Audrey, Larry, dan Barry. Ia juga merasa gugup saat dipanggil untuk maju ke depan kelas. 
 
Namun, semua berbalik saat ia berada di kamar tidurnya. Ia menjadi Radio Rebel, seorang DJ yang menjalankan siarannya sendiri. Tidak ada yang tahu bahwa ialah Radio Rebel. Radio Rebel mampu menjadi inspirasi untuk semua orang. 
 

Ayah tirinya akhirnya mengetahui bahwa Taralah orang di balik Radio Rebel selama ini. Ia memindahkan siaran Tara dari kamar tidurnya ke Slam FM, stasiun radio terpanas di Seattle. Berbagai promosi dilakukan, hingga semua bertanya-tanya siapakah Radio Rebel.
 
Siapakah Radio Rebel?
 
Semuanya sempurna, sampai Kepala Sekolah Moreno membatalkan Prom dan seluruh siswa menyalahkan Radio Rebel, apakah yang akan terjadi? ^^ Tonton aja filmnya, bagus kok… ^^

Salah satu ciri dari DCOM adalah meremaja, ringan, juga (terkadang, walaupun tidak seluruh DCOM) memiliki pesan moral. Begitu juga dengan Radio Rebel ini. Dibintangi oleh Debby Ryan, salah satu bintang Disney Channel favoritku.

 
Debby Ryan
Jalan cerita dari Radio Rebel ini ringan dan sangat meremaja, sehingga kita tidak perlu mengerutkan kening untuk memahami film ini. Ya, walaupun sudah udah segini aku masih sering nonton film-filmnya Disney kok. Alasannya? Apa lagi kalo bukan minim adegan kissing dan adegan aneh-aneh lainnya >.<
 
Debby Ryan mampu menampilkan seorang gadis pemalu dengan cukup apik, walaupun menurutku ia masih bisa berakting yang lebih baik dari ini. Begitu pula pemeran lainnya. Yang palig jelas sih akting menyebalkan dari Kepala Sekolah Moreno XP
 
Para pemeran Radio Rebel
 
Kenapa aku bilang ini bukan akting terbaik dari Debby Ryan? Entahlah, aku masih lebih menyukai aktingnya di 16 wishes, Jessie, dan A Suite Life series. Ia sekarang bahkan mampu menjadi sutradara dari sitcom Jessie itu sendiri. Ya walaupun di Jessie make up nya sedikit lebih tebal sih. 
 
Adapun Radio Rebel mampu memberikan kita beberapa pesan moral: jadilah diri sendiri serta kita harus menyuarakan keinginan kita.
 

Now I can be the REAL me. Now I can be the REAL me.

Overall, Radio Rebel bukanlah film terbaik dari Disney, tapi aku tidak keberatan untuk menonton ulang film ini. Aku berikan empat bintang untuk Radio Rebel… ^^



[Review Film] Sunshine Becomes You The Movie

[Review Film] Sunshine Becomes You The Movie


Judul: Sunshine Becomes You 
Produser: Ram Soraya, Rocky Soraya 
Sutradara: Rocky Soraya 
Skenario: Riheam Junianti 
Pemain: Herjunot Ali, Boy William, Nabilah Ratna Ayu Azalia, Anabella Jusuf 
Film Rilis: 23 Desember 2015 
Negara: Indonesia 
Bahasa: Indonesia 
Durasi: 126 menit 
Genre: Romantic, Comedy, Drama 
Rating: Remaja (R13+) 
Bintang: 3/5
Sinopsis: 
Alex Hirano, seorang pianis terkenal keturunan Jepang yang lebih sering dalam suasana hati buruk daripada suasana hati yang bagus. Ia sedang uring-uringan memikirkan konser yang akan diadakan seminggu lagi. Tak ada yang mampu merubah suasana hatinya ketika ia terserang bad mod, bahkan adiknya sendiri-Ray Hirano, seorang grup B-Boy. Satu hari, Ray mengajak Alex untuk ketemu gadis yang dia cintai yaitu Mia Clark di tempat dia mengajar dansa.
 
Mia Clark adalah gadis penari balet kontemporer yang berbakat. Menari adalah hidupnya. Menari adalah jiwanya. Tak ada yang mampu mengubah itu ketika kondisi tubuhnya mencegah ia mencapai cita-citanya. Saat ia putus asa dan ingin melakukan sesuatu yang bodoh, ia tidak sengaja menyebabkan tangan kiri Alex Hirano patah. Kejadian tersebut membuat Mia merasa bersalah dan ia bersedia menebus kesalahannya dengan cara apapun. Mia menawarkan diri menjadi tangan kiri Alex sampai laku-laki itu sembuh dan Alex menerimanya sebagai pengurus rumah pribadinya. Dengan berat hati Mia harus menghadapi tatapan maut yang dapat menghentikan jantungnya.
 
Awalnya Alex Hirano lebih memilih jauh-jauh dari gadis itu-malaikat kegelapan yang membuatnya susah. Kemudian Mia Clark tertawa, dan Alex bertanya-tanya bagaimana ia bisa erpikir gadis yang memiliki tawa secerah matahari itu adalah malaikat kegelapan. Awalnya, mata hitam yang menatapnya dengan tajam dan dingin itu membuat Mia gemetar ketakutan dan berharap bumi menelannya saat itu juga. Kemudian Alex Hirano tersenyum, dan jantung Mia yang malang melonjak dan berdebar begitu keras sampai-sampai Mia takut Alex bisa mendengarnya.
 
Tapi pelan-pelan rahasia yang disimpan Mia terungkap, alasan kenapa ia tidak bisa menari di atas panggung megah, alasan ia tidak boleh lelah dan alasan kenapa ia tidak boleh jatuh cinta.
 
Ini kisah yang terjadi di bawah langit New York…
Tentang harapan yang muncul di tengah keputusasaan…
Tentang impian yang bertahan di antara keraguan…
Dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup…
————————————————————————————————————————-
 
Let’s check my super late review about this movie! ^^
 
 
 

Ekspektasi awalku terhadap film yang diadaptasi dari novel ini cukup besar, mengingat label national best seller yang diberikan pada novelnya. Aku pun juga pernah mereview novelnya di http://aninditaayu.blogspot.co.id/2015/07/review-sunshine-becomes-you-ilana-tan.html yang untukku pribadi memang bagus.. ^^

Lalu, bagaimana dengan filmnya? Apakah sesuai dengan ekspektasi awal? ^^

Berhubung aku menonton film ini di saat liburan, jadi untuk melakukan review-nya itu malas banget rasanya pegang laptop. Jadi yaaa, bisa dibilang ini adalah review yang super duper telat. Ini aja untuk menumbuhkan keinginan mereview, mesti dengerin ost-nya dulu berkali-kali XP

Mia Clark bertemu Alex Hirano secara tidak sengaja dalam suatu kecelakaan. Mia terjatuh dari tangga dan menimpa Alex, sehingga menyebabkan tangan Alex terkilir. Sang pianis berbakat yang mengalami kesialan saat menemani adiknya, Ray Hirano menemui sang pujaan hati adiknya itu -Mia- harus mengistirahatkan tangannya selama dua bulan sehingga dengan terpaksa harus membatalkan jadwal konser dan kesibukannya yang lain.
 
Mia yang merasa bersalah menawarkan diri untuk membantu Alex. Tak disangka, rasa penyesalan Mia dimanfaatkan Alex yang dingin untuk menjadikan Mia sebagai pesuruh dan pengurus apartemennya. Lalu bagaimana dengan nasib Mia? Tonton filmnya, baca novelnya, atau baca review film dan novelnya di blog ini ya 😛

Film ini sudah wara-wiri dipromosikan sejak tahun lalu. Nama besar Ilana Tan menjadi taruhannya. Lantas, saat para pemain utama diumumkan: Nabilah JKT48, Herjunot Ali, dan Boy William, banyak yang merasa skeptis. Terutama pada Nabilah yang kita tahu umurnya masih jauh di bawah karakter yang akan diperankannya.

Untuk para pemain, ini adalah film pertama dari Boy Willian dan Nabilah yang aku tonton. Sedangkan untuk Herjunot, yaaa udah beberapa sih yang benar-benar aku tonton, seperti 5 cm dan Supernova Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Yang jadi pertanyaan adalah apakah Nabilah mampu memainkan Mia Clark yang jauh di atas usianya, dan bisakah ia beradu akting dengan Herjunot yang umurnya hampir dua kali dirinya?

Adegan dibuka dengan kemunculan Mia. Ya, Mia. Mia dengan penampilan dan make up yang jauh di atas usianya. Mungkin untuk meminimalisir jauhnya jarak antara Nabilah dan Herjunot, maka jalan keluarnya adalah menampilkan Nabilah yang jauh lebih dewasa. Tapi karen hal ini, aku malah merasa melihat Nabilah yang maaf saja aku berkata seperti ini >.< seperti perempuan yang agak yaaa you know lah. Ini karena dandanannya ya, layaknya sesuatu yang terlalu dipaksakan.

Bila dibandingkan dengan ini:

Tiga pemain utama Sunshine Becomes You: Nabilah JKT48 sebagai Mia Clark, Herjunot Ali sebagai Alex Hirano dan Boy William sebagai Ray Hirano


Ya, masih jauh lebih baik Nabilah pake make up natural saja >.< Untungnya semakin lama filmnya diputar, dandanannya sedikit demi sedikit menjadi lebih natural.

Alex Hirano si pianis berbakat yang begitu dingin


Mia Clark yang mampu mengubah Alex Hirano


Untuk posternya sendiri masih sedikit tidak nyambung menurutku. Ini Alex dan Mia pake payung hitam di pinggiran jalan New York maksudnya apa coba? Mia pake dress hitam panjang seperti itu pula. Mau melayat ya? -.- 

Awalnya, Alex masih belum bisa menerima Mia. Alex si pianis dingin begitu mengharapkan segala sesuatunya tampil perfect. Lama kelamaan, Mia mengerti apa saja keinginan Alex.

Mia yang awalnya selalu dianggap tidak becus oleh Alex
Hingga akhirnya Alex tidak bisa hidup tanpa kopi buatan Mia


Herjunot dan Nabilah cukup punya chemistry menurutku. Juga dengan aksen ‘R’ nya Nabilah yang begitu kentara di sepanjang film, cukup lucu. Juga managernya Alex, Karl sudah cukup bagus dan menambah kelucuan.



Untuk plot cerita yang ditampilkan hampir sebagian besar dibuat mirip dengan novelnya. Kecuali beberapa bagian yang dibuat beda. Seperti saat Alex mandi di bawah kucuran shower dan menampilkan bagian belakang punggungnya. Di drama Korea sih emang udah biasa ada adegan ini. Tapi di film ini, di mana sebelumnya merupakan adegan yang cukup menguras emosi, lalu dilanjutkan adegan Alex mandi ini malah membuyarkan emosi dan memancing tawa.

Lalu ada adegan yang super ga penting yaitu saat Alex ingin membantu Mia untuk berganti pakaian. Mia menjawab, “Ga perlu. Aku bisa kok ganti baju sendiri.” Dan aku bereaksi seperti, “Iiiih, ini apaan coba? -.-“

Ini baju yang jadi persoalan munculnya adegan ga penting >.<


Juga adegan smsan antara Alex dan Mia yang seperti dibuat terlalu slow.

Si Mia ngedatenya sama Ray, tapi malah smsan sama Alex haha


Ini adalah adegan yang diantisipasi oleh banyak orang mengingat jauhnya perbedaan umur Herjunot dan Nabilah. Adegan kissing :p

Tenang, ga diliatin kok di filmnya…


Ending adalah satu-satunya plot yang sedikit diubah. Di novelnya, Ray tidak berakhir dengan siapa pun. Namun di film ini, Ray digambarkan seperti berbelok menjadi menyukai Lucy, sahabat Mia.

Untuk pengambilan gambarnya sendiri sudah cukup baik. New York sebagai latar setting cerita, mampu ditampilkan dengan apik. Pemilihan lokasi, perabot-perabot yang digunakan, serta warna-warna yang ditampilkan menurutku sudah bagus.

Original soundtracknya sendiri sudah cukup bagus. Namun, kenapa semuanya dinyanyikan oleh Nabilah? Cuma satu artis lain, yaitu Saykoji. Itu pun ia berduet dengan Mia. Ya ost-nya sebenarnya sudah cukup bagus sih, mampu menambah deg-degan waktu di awal adegan kemunculan Mia, waktu pertama kali melihat gimana sih visualisasi Mia Clark? Haha

Namun, ada yang masih kurang menurutku. Alex sebagai seorang pianis terkenal lulusan Juilliard, kurang dieksplor permainan pianonya. Sedangkan Mia sudah beberapa kali ditampilkan saat sedang menari, jelas karena memang terdapat beberapa adegan Mia menari. Ray jug beberapa kali ditampilkan menampilkan break dancenya. Namun untuk Alex, masih sangat kurang.

Lalu, absennya Ilana Tan sebagai penulis novelnya dalam penulisan skenario. Ketidakhadiran Ilana Tan ini seperti memberikan kesan bahwa skenarionya kurang orisinil >.<

“Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku.”


Overall, walaupun sedikit di bawah ekspektasiku, film Sunshine Becomes You cukup bagus. Tiga bintang untuk Sunshine Becomes You… ^^




Untuk review novel Sunshine Becomes You oleh Ilana Tan bisa dibaca di sini:

https://www.aninditaayu.com/review-buku-sunshine-becomes-you-ilana-tan/

[Review Film] Negeri Van Oranje The Movie

[Review Film] Negeri Van Oranje The Movie

 

Judul: Negeri Van Oranje 
Produser: Frederica 
Studio: Drama, Action 
Sutradara: Endri Pelita Dharma Kesuma 
Skenario: Titien Wattimena 
Pemain: Arifin Putra, Abimana Aryasatya, Ge Pamungkas, Chico Jericho, Tatjana Saphira 
Film Rilis: 23 Desember 2015 
Negara: Indonesia 
Bahasa: Indonesia 
Rating: Dewasa (D17+) 
Bintang: 3/5 

Sinopsis: 
Ini adalah kisah tentang perjalanan lima sahabat, memaknai hidup, cita-cita, perjuangan dan cinta, di negeri yang jauh dari asal mereka. Perjalanan yang membawa seorang perempuan bernama Lintang ke hari ini. Satu hari sebelum pernikahannya. Hari di mana semua ingatan itu kembali. Tentang sahabat-sahabatnya: Daus, Banjar, Wicak, dan Geri. Bersama-sama mereka telah melewati pendidikan strata dua di Belanda. Walaupun kuliah di kota-kota yang berbeda: Leiden, Utrecht, Rotterdam, Wageningen dan Den Haag, persahabatan mempersatukan mereka, dan membuat mereka bisa bertahan di negeri yang jauh dari Indonesia itu.Kebersamaan mereka kemudian membawa Lintang pada cinta. Cinta yang kemudian bertepuk sebelah tangan karena alasan yang tak seorang pun dari mereka pernah menduga.

Kebersamaan itu juga yang membawa mereka ke Praha dan di Praha kemudian masalah terbesar mereka yang selama ini terpendam di antara mereka, muncul ke permukaan. Permasalahan yang mengatasnamakan… cinta.

Dan hari ini… Lintang akan menikah…

Dengan salah satu dari mereka.

—————————————————————————————————————————
 
Ini adalah film akhir tahun yang paling ditunggu-tunggu kemunculannya di bioskop Bengkulu. Tapi apa daya, walaupun banner poster filmnya udah lama terpampang, film ini tak kunjung ditayangkan. So, ketika saat suatu tengah malam dengan isengnya aku mengecek situs 21 cineplex dan akhirnya dapat kepastian bahwa film ini akhirnya ditayangkan, jadilah tidak butuh waktu lama untukku memutuskan untuk pergi nonton >.<


Awal mula munculnya keinginan untuk menonton film ini adalah karena aku telah membaca novelnya yang juga telah aku review di link ini http://aninditaayu.blogspot.co.id/2015/12/review-buku-negeri-van-oranje.html. Aku berhasil disuguhi jalan cerita yang apik oleh novelnya. Namun apakah dengan adanya ekspektasi tinggi ini, berhasil membuat Negeri Van Oranje menjadi salah satu film yang layak ditunggu?

Kisah dimulai dengan adegan Lintang dan sang mama yang sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya, tapi masih dengan pasangannya yang dirahasiakan. Pasangannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah salah satu dari empat sahabatnya: Wicak, Geri, Daus dan Banjar.

Lalu adegan kembali mundur ke saat-saat mereka berlima berlibur. Di Praha saat mereka berlibur inilah, konflik terjadi. Lintang merasa kecewa dengan keempat sahabatnya. Bintang memutuskan untuk pergi, sehingga membuat cemas yang lainnya.

Adegan kembali mundur ke saat-saat AAGABAN–nama kelima sahabat ini– bertemu untuk pertama kalinya. Gara-gara rokok, kelimanya menjadi sahabat erat. Tak peduli dengan latar keluarga, pekerjaan sebelumnya, tujuan mereka melanjutkan kuliah di Belanda, serta kota tempat mereka menuntut ilmu yang berbeda.


Hubungan mereka semakin dekat, hingga tanpa disadari keempat pria AAGABAN memendam perasaan kepada satu-satunya wanita di kelompok itu. Begitu juga dengan Lintang. Semakin lama, ia semakin menyukai Geri.
 
Alur kembali maju mundur dengan memperjelas siapa yang akhirnya menjadi calon suami Lintang. Apakah Geri, seperti yang selama ini diharapkan oleh Lintang? Ataukah Daus, Banjar, ataukah Wicak? Tonton sendiri ya… ^^
 
Satu kata yang tepat untuk menggambarkan film ini: colorful. Iya, benar-benar penuh warna. Bahkan terkadang aku mengira mungkin saja film ini diberikan tambahan computer graphics, karena warna-warna yang ditampilkan benar-benar membuat mupeng pengen ke Belanda juga >.<

See? Warna-warnanya mencolok banget >.<


Sebenarnya satu hal yang membuat aku ngebet untuk nonton film ini adalah di novelnya diceritakan mengenai kegiatan backpacking yang mereka lakukan. Terdapat perbedaan dari cerita di novel dan cerita di film. Di novel, personel AAGABAN yang pergi backpacking cuma Lintang, Banjar, Daus, dan Wicak, minus Geri. Sedangkan di filmnya, diceritakan Geri ikut dengan liburan mereka. Namun, seperti tidak ada esensi backpacking yang mereka lakukan. Padahal di novelnya kegiatan backpacking ini menyita belasan halaman. Sedangkan di filmnya, mereka seperti berlibur dengan mewah, itu juga cuma berfokus pada keindahan beberapa tempat, itu juga hanya sekilas diperlihatkan. Padahal mereka berempat, kecuali Geri tentu saja, adalah mahasiswa yang harus berhemat demi perjalanan ini.

Suatu hari nanti harus ke sini!
Film ini seperti hanya berfokus pada pencarian cinta Lintang saja. Adapun tema persahabatan kelimanya yang diceritakan dengan cukup gamblang di novelnya, kurang begitu ditekankan di film ini. Hampir tidak ada malah. AAGABAN itu apa tidak diperlihatkan dengan jelas. Nama geng dari kelima sahabat koplak ini yang sebenarnya kepanjangannya koplak itu pun tidak disinggung sama sekali. Pertemuan pertama mereka yang sebenarnya terjadi karena terjebak badai di Aamsford pun diubah di film ini.
 
Lalu, tentang tingkah laku para pemainnya. Lintang yang di novelnya diceritakan sebagai seorang perempuan tomboy yang pecicilan dan tidak bisa diam, di filmnya malah digambarkan sebagai seorang perempuan dewasa yang anggun dan manis. Okelah mungkin Tatjana Saphira berperan sebagai pemeran utama dan juga brand ambassador dari Wardah selaku sponsor utama film ini. Iya, dia emang cantik kok, udah pas deh sampe harus diperebutkan sahabat-sahabatnya. Tapi ya tolong bajunya itu loh mbak, kenapa sih harus ada yang bolong-bolongnya walaupun sedikit? Kalo ngga bolong, malah belahannya tinggi banget >.< 
 
Untuk Chico Jericho, sebagai pemeran Geri sudah cukup baik. Begitu juga dengan Arifin Putra dan Ge Pamungkas sebagai pemeran Banjar dan Daus, sudah cukup mampu menampilkan perannya dengan apik menurutku. Begitu juga dengan Abimana Aryasatya, walaupun itu rambutnya bener-bener aneh hahaha, tolong disisir dong XP

Versi lengkap pemain Negeri Van Oranje


Pun tidak ada pengeksploran kegiatan mereka berkuliah di sana. Tidak ada penggambaran bagaimana susahnya kuliah jauh dari tanah air. Tidak ada penggambaran bagaimana perjuangan mereka demi mampu bertahan jauh di negeri orang. Seperti Banjar misalnya, yang di novelnya digambarkan susah payah bekerja sebagai pelayan di restoran makanan Indonesia, di filmnya hanya disinggung sedikit.

Juga Lintang yang di novelnya digambarkan tinggal di tempat yang biasa-biasa saja demi menghemat, di filmnya malah tidak seperti itu. Pada saat liburan mereka pun, di mana seharusnya Geri tidak ikut, namun karena adegan liburan ini dijadikan adegan pembuka, sehingga mau tidak mau Geri harus diikut sertakan juga.

Pada novel Negeri Van Oranje ini, banyak cerita koplak mereka. Seperti Banjar yang memakai baju putri pada saat parade gay, celotehan jayusnya Daus, dan banyak contoh lainnya. Pada filmnya, aku tidak menemukan adegan-adegan tersebut. Mungkin memang karena novelnya sendiri tebalnya lebih dari empat ratus halaman, sehingga banyak sekali adegan yang harus dipangkas. Namun, adegan mereka berlima menyanyikan lagi Tak Gendong-nya mbah Surip pun dipersingkat sehingga lucunya itu terasa tanggung. Juga adegan kedatangan Mas Tyas yang seharusnya mampu menghadirkan tawa selain perasaan kesal, hanya mampu membuatku bergumam, “Oh cuma segini, ga kayak di novelnya? -.-” 


Tapi, satu hal yang sudah aku kemukakan di atas, film ini penuh warna. Apalagi saat mereka pergi melihat festival bunga. Benar-benar waaaaaaaah! Inilah yang menjadi daya tarik film ini, selain lokasi tentu saja. Untuk lokasi, tanpa harus bersusah payah, Belanda menjadi destinasi yang pas.


Ini kebun tulip jangan sampe ketauan di mana lokasinya sama anak alay, ntar rusak XP
AAAAAAA, harus ke sini pokoknya!


“Persahabatan ada ketika kita berbagi kebahagiaan, kesedihan dan kegilaan dengan orang yang sama.”


Overall, untuk filmnya aku berikan tiga bintang. Bukan, bukan berarti aku tidak suka dengan filmnya. Namun dengan adegan backpacking yang kurang sesuai dengan ekspektasi dan juga banyaknya sesuatu yang hilang dari novelnya, mengurangi satu bintang dari. Film ini bagus kok, apalagi yang membutuhkan motivasi untuk jalan-jalan dan melanjutkan kuliah ke Belanda. Tiga bintang untuk Negeri Van Oranje… ^^



 
[Review Film] Single – Raditya Dika

[Review Film] Single – Raditya Dika


Judul: Single 
Produser: Sunil Soraya 
Sutradara: Raditya Dika 
Skenario: Raditya Dika, Sunil Soraya, Donny Dhirgantoro 
Pemain: Raditya Dika, Annisa Rawles, Babe Cabita, Chandra Liow, Pandji Pragiwaksono, Elvira Devinamira, Tinna Harahap, Rina Hassim, Dede Yusuf, Dewi Hughes 
Film Rilis: 17 Desember 2015 
Negara: Indonesia 
Bahasa: Indonesia 
Durasi: 127 menit 
Rating: Remaja (R13+) 
Bintang: 4/5

Sinopsis:
Ebi adalah seorang anak muda naif yang belum mempunyai pekerjaan. Ebi bahkan masih sering meminta uang dari ibunya setiap kali ibunya datang ke Jakarta. Ebi juga seorang single forever atau jomblo dari lahir yang belom pernah pacaran. Ini karena setiap kali Ebi mendekati perempun, Ebi selalu saja ditolak. Intinya, kehidupan Ebi layak untuk dikasihani.

Suatu hari, adik Ebi, Alva, yang lebih ganteng dan sukses darinya mengumumkan dia hendak menikah. Karena inilah, Ebi pun mencari pacar untuk dibawa ke kawinan Alva, agar harga dirinya di depan ibunya masih bisa diselamatkan.

Dibantu oleh kedua teman kosannya, yaitu Wawan yang sotoy dan Victor yang pesimis, Ebi pun mulai mencari cewek satu per satu yang juga berujung pada kegagalan. Pertemuannya dengan cewek tercantik justru datang di kosannya sendiri. Cewek tersebut bernama Angel, yang seperti namanya berhati seperti malaikat, cantik. Ebi pun berniat mendekatinya.

Ketika Ebi hendak mendekati Angel, muncul sosok “abang-abangan” Angel yang sudah lama ada di dalam kehidupannya. Joe, diam-diam juga mengincar cinta Angel, dan dengan segala tipu daya muslihatnya berusaha menjauhkan Ebi dari Angel. Angel tidak tahu soal ini sama sekali.

Bisakah Ebi mendapatkan Angel? Bisakah Ebi menyingkirkan Joe, saingannya? Satu hal yang Ebi akan segera sadari, yaitu petualangannya melepaskan status single membuat dia menjadi tahu lagi apa yang dia butuhkan dalam hidupnya, bukan sekadar memenuhi apa yang dia inginkan.
—————————————————————————————————————————-

Setelah film ini wara-wiri sekitar sebelas hari di bioskop, aku baru sempat menontonnya. Yeah, poor me.

Well, let’s check my review about this movie!  ^^


Film ini berkisah mengenai Ebi, seorang jomblo ngenes alias jones. Ia seorang pengangguran yang sibuk mencari pekerjaan. Tidak hanya itu, setiap kali ia mencoba mendekati perempun, tidak ada yang berhasil.

Ebi mempunyai dua orang sahabat koplak bernama Wawan dan Victor. Wawan, si sotoy yang mempunyai hubungan tidak sehat dengan pacarnya, di mana sang pacar selingkuh namun Wawan tidak mau percaya. Juga Victor, si pesimis yang berkeras untuk menjalani hubungan perjodohan walaupun sebenarnya ia merasa tidak memiliki kecocokan.

Film dibuka dengan cerita Ebi yang akan pergi malam mingguan dengan teman chat-nya yang juga merupakan teman SMAnya. Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak, berharap jadi pacar, Ebi mendapati wanita yang ia temui tersebut malah memberikan undangan resepsi pernikahannya.


Merasa kasihan dengan nasib Ebi, maka Wawan dan Victor mencoba membantu Ebi mencari pacar. Dengan semua ide mereka yang sebenarnya sangat koplak, ide-ide yang mereka berikan ini justru mampu membuat kita tertawa.

Alva, adik Ebi yang telah sukses, mengumumkan bahwa ia akan menikah. Merasa gengsi, Ebi pun berusaha untuk mencari pacar untuk dibawa ke nikahan sang adik.

Ebi bertemu dengan Angel, anak baru di kosannya. Lalu, Angel menjadi target Ebi cs untuk dijadikan pacar Ebi. Angel berhati sangat baik, ia membantu di Medical Center dan sangat akrab dengan salah satu pasien di sana.


Adegan di atas ini adalah ketika Ebi dan Angel makan nasi goreng di depan kosan mereka. Dan mereka berdua mendapati nasi goreng enak yang mereka makan tersebut, disajikan oleh penjualnya tanpa cuci tangan setelah buang air kecil. Ewwww hahaha ^^

Saat Ebi pedekate ke Angel ini muncullah Bang Joe, seseorang yang sudah lama dekat dengan Angel. Bang Joe ini sudah lama menyukai Angel. Ia pun tidak menyukai kehadiran Ebi yang dianggapnya sebagai ancaman.



Bagaimana kelanjutan kisah Ebi, Angel, Bang Joe, Wawan dan Victor? Tonton aja langsung deh, seru kok.. ^^

Film Single ini menjadi film Raditya Dika terbaik yang aku tonton. Setelah biasanya film-film Raditya Dika diangkat dari novel miliknya, maka film Single ini membawa angin segar. Single bagiku menjadi jauh lebih lucu dibanding dengan film lain, mungkin juga karena belum ada ekspektasi sebelum menonton filmnya. Single juga mendapatkan respon positif dari masyarakat.

Untuk akting Raditya Dika sebagai karakter utama sebenarnya masih gitu-gitu aja. Secara kita sudah sering melihat wajah memelasnya yang seperti itu, baik di film ini maupun di kehidupan nyata. Mukanya itu loh, seperti tampang burung yang memelas -.- Tapi sebernarnya akting kak Radit untuk ada sedikit kemajuan sih.

Pemeran Wawan dan Victor juga sudah cukup baik dimainkan. Mereka berdua mampu memberikan tawa saat mereka dengan sotoynya membantu Ebi. Juga dengan karakter Victor yang begitu percaya adanya hantu, sehingga seringkali ia tidak berani tidur sendiri. Sehingga ia seringnya tidur memeluk Wawan hanya dengan menggunakan underware saja. Elaaah ngakak hahaha

Lihat saja bagaimana kekoplakan ketiga sahabat ini saat di Bali. Karena kesotoyan mereka, mereka harus ikut skydiving, di mana si Ebi malah kena muntahan Victor dan ujung-ujungnya mereka bertiga malah tidak ada yang berani melakukan skydiving.


Pemeran Angel belum begitu luwes berakting menurutku. Apa karena ini film pertamanya? Atau hanya aku yang baru pertama kali melihat akting Annisa Rawles? Ah, entahlah XP

Lalu Chandra Liow sebagai Bang Joe. Menurutku tingkat sengak-nya dia di film ini sudah cukup baik, walaupun terkadang terlihat sedikit kaku. Lihat saat adegan Bang Joe meminta pelayan restoran untuk memasukkan obat pencahar ke minuman Ebi, namun ia juga terkena getahnya haha. Juga saat adegan mobil melayangnya Ebi. Benar-benar deh!

Untuk ide cerita sendiri, sebenarnya masih sama denga cerita-cerita Raditya Dika yang lain, yaitu bagaimana susahnya ia dalam pencarian cinta. Adapun untuk film Single ini, cerita yang sebenarnya basi tersebut mampu dikisahkan dengan apik.

Untuk film ini, shoot-shoot yang diambil sudah sangat pas, tidak bertele-tele dan langsung kena sasaran. Bagus banget! 

Seperti biasa, Raditya Dika juga menyelipkan Stand Up Comedy ke dalam filmnya. Dan yah, cukup menambah tingkat kelucuan yang ada… ^^

Ada beberapa pesan moral yang bisa diambil dari Single. Tonton aja sendiri deh untuk tau lengkapnya.. ^^ Ada satu quote dari film ini yang aku suka:

Mendingan mana: ga punya pacar tapi bisa jadi diri sendiri, atau punya pacar tapi cintanya dipaksain?

Overall, Single menurutku masuk dalam jajaran film Indonesia yang wajib ditonton. Ga nyesel deh nontonnya! Aku berikan empat bintang untuk film ini… ^^

[Review Film] Maze Runner: The Scorch Trials

[Review Film] Maze Runner: The Scorch Trials

Rabu pada minggu yang lalu, di saat semua orang pulang karena keesokan harinya merupakan hari raya Idul Adha, aku malah pergi ke Bengkulu. Yeah, sebut saja aku nekat hehe. Aku memutuskan untuk menonton film The Scorch Trials ini. Daaaaan tentu saja bukan ide buruk. So, let’s start with my review about this movies… ^^

 

Judul Film: Maze Runner: The Scorch Trials 
Genre: Action, Sci-fi, Thriller 
Produser: Wyck Godfrey, Marty Bowen, Ellen Goldsmith-vein, Lee Stollman, Joe Hartwick Jr. 
Sutradara: Wes Ball 
Penulis: T.S. Nowlin 
Produksi: 20th Century Fox 
Film Rilis: 18 September 2015 
Durasi: 131 Menit 
Negara: USA 
Bahasa: English 
Rating: Remaja (R13+) 
Bintang: 5/5

Sinopsis:
Para Gladders berhasil lolos dari labirin yang menakutkan. Dalam kisah selanjutnya, Thomas dan teman Gladersnya kini akan menghadapi tantangan baru. Mencari petunjuk tentang organisasi misterius yang sangat kuat bernama WCKD.

Petualangan mereka kini membawanya ke sebuah tempat bernama ‘The Scorch’, sebuah daerah yang sepi dan penuh dengan rintangan yang tak terbayangkan. Thomas dan teman-temannya bekerjasama mengungkap rencana besar WCKD untuk mereka semua.

————————————————————————————————————————-
 
Maze Runner: The Scorch Trials merupakan film lanjutan dari The Maze Runner. Film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama The Scorch Trials, karya James Dashner.
 
Review ini aku tuliskan berdasarkan filmnya, dan tanpa didasari oleh novelnya. Hal ini dikarenakan aku sengaja tidak membaca novelnya terlebih dahulu agar tidak kecewa, karena kebanyakan film yang diangkat dari adaptasi novel hasilnya agak mengecewakan.


The Scorch Trials berkisah tentang Thomas, Theresa, Newt, Minho, Frypan, dan Winston yang berhasil keluar dari labirin yang selama ini mengurung mereka. Mereka dibawa ke suatu tempat aman yang dipimpin oleh Janson.



Tidak seperti di labirin, di tempat ini hidup mereka menjadi lebih layak. Mereka diperlakukan secara manusiawi. Di sinilah mereka menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Di tempat ini juga dikumpulkan para Gladers yang berhasil lolos dari labirin yang lain. Thomas dan teman-teman baru menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Di tempat ini juga mereka diwajibkan untuk mengikuti beberapa tes terlebih dahulu. Di tempat ini pula, dipilih beberapa orang untuk dibawa ke tempat yang lebih aman setiap harinya.
 
Thomas melihat Theresa dibawa oleh petugas di tempat tersebut. Ia menjadi sedikit curiga. Di tempat ini mereka berkenalan dengan Aris, seseorang yang menjadi orang paling lama bertahan di tempat ini.
 
Para Gladers memang diperlakukan jauh lebih baik di tempat ini. Anehnya, saat mereka berada di kamar, mereka akan dikunci dari luar. Saat Thomas dan teman-temannya berada di dalam kamar inilah, muncul Aris dari saluran udara, yang mengajak Thomas untuk melihat apa yang telah diselidikinya selama ini. Minho dan yang lainnya tidak percaya, tapi Thomas yang sudah curiga tetap pergi untuk menyelidiki.
 
Kecurigaannya benar, bahwa tempat ini bukanlah tempat yang aman. Tempat ini masihlah di bawah kekuasaan WCKD yang dipimpin oleh Ava Paige. Para Gladers yang setiap harinya dipilih, bukanlah dibawa ke tempat yang lebih aman, tapi dikumpulkan dalam satu ruangan besar dan dilakukan percobaan pada mereka.
 
Mengetahui hal ini, Thomas dan Aris mengajak teman-temannya untuk kabur. Namun belum berhasil mereka keluar dari tempat tersebut, rencana mereka ketahuan dan para petugas yang dipimpin Jason ini mencoba menghentikan usaha mereka. Namun gagal, karena Thomas dan teman-temannya berhasil kabur.
 
Mereka kabur tak tentu arah tadinya, lalu mereka memutuskan untuk mencari The Right Arms, dan menghindari serbuan Crank, virus parasit yang menyebabkan manusia menjadi zombie.
 
Menurutku, this movie is superb! Seriously, I love this movie. Untuk film pertamanya –The Maze Runner– aku suka sehingga memutuskan untuk menonton film keduanya –The Scorch Trials. Tapi film keduanya emang bener-bener bagus. Ga nyesel nontonnya… ^^
 
Jika pada The Maze Runner kita hanya dihadapkan dengan penggambaran labirin dan pengenalan mengenai Thomas serta teman-temannya, maka pada The Scorch Trials kisahnya lebih berkembang. Konflik yang disuguhkan juga lebih kompleks, seperti pengkhianatan, persahabatan, setia kawan, kasih sayang, romance, dan pengorbanan. Seperti judulnya, adegan action pada The Scorch Trials ini dipenuhi dengan lari. Namun hal ini sama sekali tidak membosankan. Penggambaran latar belakang juga bukan berputar di satu tempat saja, sehingga tidak monoton. Pada Scorch Trials ini lokasi yang digambarkan mampu memberikan ketegangan pada penonton. Pun penonton disuguhkan dengan kejutan-kejutan, backsound yang menegangkan sekaligus menyeramkan, serta petualangan yang mendebarkan. Penonton dapat dengan tiba-tiba menjadi cemas karena kejutan yang diberikan, seperti saat kemunculan Crank secara tiba-tiba.
 
Pada The Scorch Trial juga mulai diberikan sedikit penjelasan mengenai Thomas dan mengapa WCKD begitu terobsesi terhadap para Gladers. Adapun dialog-dialog pada film ini terasa pas dan tidak bertele-tele, walaupun menurutku terlalu banyak kalimat shit-nya.
 
Pada The Maze Runner, tidak ditemukan satu pun adegan yang tidak pantas ditonton oleh anak di bawah umur. Sedangkan pada The Scorch Trials, terdapat beberapa adegan yang menurutku tidak pantas diperlihatkan pada anak-anak. Walaupun sudah diberi rating R13+, rupanya masih banyak orang tua bandel yang membawa anaknya menonton film ini. Saat aku menonton film ini, tepat di sebelahku terdapat dua orang anak dan seorang remaja yang sepertinya adalah kakak dari dua anak tersebut. Seperti saat Thomas dan kawan-kawan mencari Marcus guna menemukan The Right Arms, mereka terpisah. Lalu Thomas dan Brenda dijebak untuk masuk ke dalam sekumpulan remaja mabuk yang berpakaian kurang bahan. Mereka berdua dipaksa untuk minum, dan akhirnya berciuman. Dan hey, kakak dari dua anak ini malah diam saja. Malah aku yang gemas dan memutuskan untuk menutup mata anak di sebelahku sebelum adegan kissing itu terjadi, seraya berkata, “adekku sayang jangan ditengok (adekku sayang, jangan dilihat, dalam bahasa Bengkulu)”. Untunglah si adek di sebelahku ini mau menurut dan langsung membalik pandangannya ke kursi. Di adek satu orang lagi, melihat aku menutup mata di adek si sebelahnya, memutuskan untuk menutup matanya juga. Lalu, apa gunanya sang kakak? Jangan racuni anak-anak dengan tontonan seperti itu, tolong… 🙁
 
Dan satu hal lagi  yang membuatku semakin menyukai film ini. Si Ki Hong Lee alias Minho tetap ganteng lol. Maaf ya, ini anggapan dari seseorang yang udah kadung suka duluan XP Bahkan sudah beberapa kali aku melihat meme dengan gambar Minho yang berujar bahwa hanya di film ini pemeran pembantu lebih ganteng daripada pemeran utama haha XP Tapi di luar hal ini, The Scorch Trials tetap luar biasa kok.
 
 
Si Minho kayanya perlu dikasih gambar besar-besar XP
 
Aku tidak akan menjelaskan lebih lanjut, takut terlalu banyak spoiler hehe. Tonton aja, ga bakalan nyesel kok… ^^
 
Aku berikan lima bintang untuk film ini… ^^
 


error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest