Nanowrimo Challenge, Day 1

Nanowrimo Challenge, Day 1

-Dituliskan untuk nanowrimo challenge

Jika ia hanya menganggapmu masa lalu, buat apa menyakiti diri sendiri dan terus menunggu? Toh ia tetap pergi. Tak peduli berapa lama kalian bersama. Tak peduli banyaknya kenangan telah tercipta. Tak peduli cinta selama ini bertahta. Dan yang terpenting, tak peduli perasaanmu terluka.

Dia akan tetap berlalu. Kadang kala tanpa alasan yang jelas. Bisa jadi dia pergi karena alasannya sendiri, atau bahkan menduakanmu. Membuatmu merasa bahwa kamulah manusia paling tidak berharga di muka bumi.

Jika takdir sudah berkata, kamu bisa apa? Duduk menangis, meratapi nasib? Mengunci diri dari dunia luar dan menyakiti diri sendiri?

Percuma kataku. Percuma.

Berapa lama kamu mencoba bertahan jika menoleh pun ia enggan? Berapa waktu yang kamu butuhkan untuk sadar ia tak ada lagi di sisi?

Mungkin yang kamu butuhkan adalah berhenti sejenak. Berhenti sejenak dari mengingat kenangan-kenangan yang membuat sesak.

Kunci kumpulan kenangan itu dalam sudut hati yang terdalam. Karena nantinya kenangan-kenangan itu akan menjadi masa lalu. Masa lalumu, bukan masa depanmu.

Kita tidak bisa hidup di masa lalu. Tidak ada gunanya berkubang dalam kenangan. Songsong masa depanmu, jadikan ia secerah mentari.

Jika cinta mengkhianati, kenapa kamu menyalahkan diri?

Well, ini adalah pertama kalinya aku ikut tantangan nanowrimo. Berhubung sudah terlalu lama tidak menulis panjang-panjang lagi, aku tidak yakin bisa menulis 50.000 kata dalam sebulan. So, aku akan mencoba menulis apapun, sesedikit apa yang aku bisa, sembari menyelesaikan kerjaan yang menumpuk dan hutang draft tentang trip kemarin. Tapi sepertinya hanya tulisan hari pertama aja yang bakalan aku posting, selebihnya hanya akan disimpan dalam folder di lappy.-

Tentang Cerita Sederhana

Tentang Cerita Sederhana

-Terinspirasi dari novel yang kemarin dibaca, dan ya, sebut saja imajinasi.-

Ada secuil kenangan yang tiba-tiba menguak ke permukaan.
Tentang derasnya barisan rintik rinai hujan. 
Tentang cerita sederhana. 
Tentang rasa yang pernah ada. 
Tentang kita. 

Kita bertemu dalam guyuran hujan waktu itu. 
Aku, kamu, dan dimensi yang seolah berpadu. 
Mempertemukan kita. 
Dalam harap yang membuncah. Dalam asa. 
Dalam doa. 

Sudah kubilang kan bahwa cerita kita sederhana? 
Kamu dan tatapan sendumu. 
Dengan kacamata yang bertengger di ujung hidungmu. 
Matamu dengan lingkar hitam di bawahnya yang begitu kentara. 
Aku dengan ketidakpercayaan pada sesama. 
Dengan hati yang sudah terlalu banyak kecewa. 

Pun begitu tetap akan ada garis yang menyinggung kita. 
Saat semesta berkehendak, aku bisa apa? 
Kamu, aku, dan sore itu. 
Manisnya aroma cokelat hangat yang terhidu, 
bercampur bau tanah basah dan rumput segar yang menyatu. 

Tahukah kamu betapa kehadiranmu membuatku bertanya-tanya? 
Kamu pula yang mengajarkanku untuk kembali percaya. 
Pada hidup. Pada dunia. 
Pun pada diriku sendiri. 
Tanpa aku sadari, kamu selalu ada. 

Lalu kamu pergi tanpa jejak. 
Hilang tak berbekas. 
Seolah kamu hanyalah bayang semu. 
Lantas untuk apa hadirmu selama ini? 
Hanya untuk aku merasakan luka sekali lagi? 
Hey, karma itu ada. 

Maka terima kasih untuk hadirmu yang sempat mengisi ruang di hati.
Untuk guratan takdir yang telah kita jalani.
Untuk torehan luka yang kamu lukiskan.
Untuk semua memori sederhana kita.
Selamat tinggal.
 

Dari Anakmu yang Selalu Rindu

Dari Anakmu yang Selalu Rindu

Ada saatnya aku benar-benar rindu.

Pada Ibu.

Hingga kadang aku bertanya-tanya. Bagaimana caranya menyampaikan rasa rindu ini?

Ibu, anakmu rindu….

Rindu setengah mati, hingga seringkali mematikan hati.

Kadang aku sudah tidak lagi sadar, apakah kenangan-kenangan yang aku kumiliki tentangmu itu nyata? Ataukah hanya imajinasi belaka?

Foto-foto yang seolah bahagia, apakah itu yang sebenarnya?

Apakah cerita-cerita tentangmu itu bukan karanganku saja?

Aku tak lagi tahu.

Tolong ajari aku Bu… Bagaimana caranya berhenti merindumu?


Anakmu yang selalu rindu.

Rindu Itu Nyata

Rindu Itu Nyata

-Dituliskan karena terinspirasi oleh salah satu novel yang sedang dibaca.-

Rupanya rindu itu nyata
Tertata dalam ruang-ruang hampa
Tak berdaya, tak bersuara.

Ada ilusi-ilusi semu akan sosokmu
Di antara buku-bukuku
Cokelat yang menemani siangku.
Bahkan di deretan potongan gambar yang berbicara

Rindu itu menyeruak
Tanpa aba-aba ia tampak
Menguasai diri, juga hati

Jika akhirnya rasa itu tak bersisa
Bagaimanakah akhir dari kita?

Kepada Rindu yang Membelenggu

Kepada Rindu yang Membelenggu

Kepada rindu yang membelenggu,

Kamu tahu, 
Pada setiap rintik hujan yang jatuh membasahi bumi, 
Setiap embun yang menguap di pagi hari, 
Mengandung sebuah rasa yang tak pernah kita duga. 

Kamu tahu, 
Pada setiap detik yang kulalui 
Menyimpan kekosongan demi kekosongan yang menyiksa 
Batin dan juga jiwa. 

Kamu tahu, 
Kasih yang selama ini ia beri 
Berbalik menjadi senjata yang melukai. 

Dan apa kamu peduli? 

Pun jika nanti aku tiada, 
Masihkah kamu ada? 

Aku rindu 
Pada diriku yang selama ini ia tata 
Pada diriku yang nyata 

Pada kebebasan yang selama ini terenggut 
Hanya atas nama cinta yang ia anut.

Izinkan Aku

Izinkan Aku

Izinkan aku
Untuk pergi. 
Meninggalkanmu beserta kenangan-kenangan kita. 

Izinkan aku 
tak lagi mengenalmu. 
Membiarkanmu bersikap seolah kita hanya dua orang asing. 

Izinkan aku 
Membuka matamu. 
Membuatmu sadar kita tidaklah ditakdirkan bersama. 

Izinkan aku 
Untuk membencimu. 
Bertahan di sisimulah hal terberat dalam hidupku. 

Dan izinkan aku 
Hanya melihatmu dari kejauhan. 
Menjagamu dalam diam, dalam keheningan yang tidak lagi menyakitkan.

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest