Ada

Ada

Ada rindu yang memburu
Padamu 

Ada cinta menggelayut manja
Dalam jiwa 

Ada sayang yang meradang
Mengerang 

Ada candu untuk bersamamu
Selalu 

Ada sakit menyelekit
Pahit 

Ada hati yang mengasihi
Ikhlas memberi 

Ada dendam nan kelam
Membuat tenggelam 

Ada cemburu mengganggu
Akan kamu 

Ada gombal-gombal
Sudah kebal 

Ada jengkel tersetel
Juga mangkel 

Ada dusta yang tercipta
Mungkin terpaksa 

Ada benci yang menyakiti
Menggerogoti 

Ada rasa menggelora
Penuh asa

Setelah sekian lama laptop rusak, baru hari ini bisa browsing pake laptop lagi. Akhirnya! Tapi kenapaaaa malah nulis yang ga jelas begini hahaha 
 
Kepada Tuan yang Tidak Sempurna #2

Kepada Tuan yang Tidak Sempurna #2

Kepada Tuan yang Tidak Sempurna, 

Ini aku, yang kembali akan bercerita tentang kita.

Pertemuan kita sederhana saja, hanya persinggungan dua jalur takdir yang mempertemukan aku dan kamu. Semesta mengarahkanku untuk menuju padamu waktu itu. Bukan jenis perkenalan yang akan langsung membuat setiap orang berdecak kagum. 

Pertemuan singkat saat hujan yang turun menyapa bumi itu ternyata akan terus berlanjut. Takdir sedang mempermainkan kita rupanya. Tidak puas dengan pertemuan pertama kita itu yang aku ragu kamu bahkan masih mengingatkan, ternyata takdir berkomplot untuk tanpa sengaja membimbing kita dalam pertemuan-pertemuan kita selanjutnya. 

Kali ini kita dipertemukan dalam ruang dan waktu yang kembali bersinggungan. Aku sedang mencari novel-novel kesukaanku kala itu. Kamu tengah berdiri tegak sembari membaca buku tebal di kejauhan. Entah buku apa yang kamu baca. Kali ini kamu terlihat tanpa kacamata, hingga awalnya aku ragu itu kamu. Aku sampai harus memicingkan mata dan memastikan dalam diam bahwa itu memang adalah kamu. 

Tak jauh di sebelahmu, aku melihat seseorang yang sekilas mirip denganmu yang sibuk berkutat dengan gadget-nya. Tak lama, ia terlihat seperti mengajakmu berbicara. Kamu terlihat menjawab seperlunya, lalu kembali fokus pada bacaanmu. Apa itu saudaramu? 

Aku masih terpaku di salah satu sudut, menghadap puluhan buku yang menggoda untuk dibawa pulang. Masih berharap kamu melihatku dan menyadari kehadiranku. Lebih tepatnya lagi, berharap kamu masih mengingatku setelah pertemuan kita dahulu. 

Tapi ternyata buku-buku di hadapanku sejenak mampu membuatku terlupa akan hadirnya dirimu. Aku terhanyut dalam kisah yang dituturkan secara apik dalam buku yang tadinya aku pilih secara acak. Tidak butuh waktu lama untukku menyelesaikan bacaanku. Aku memang awalnya tidak terlalu berniat untuk membaca keseluruhan cerita, namun nyatanya si penulis buku mampu mendongeng dan membawaku ke dunianya. 

Lantas aku kembali mencari novel di rak lainnya. Aku berjinjit untuk mengambil salah satu buku. Rupanya badanku yang tidak tinggi ini menyulitkanku untuk mengambil buku di deretan alas. Lalu lalang beberapa orang yang lewat seolah tidak peduli dengan kesulitanku. 

Dan di sanalah kita bertemu rupanya. Awalnya aku agak sedikit kesal menyadari tangan yang muncul begitu saja untuk mengambil buku yang menjadi incaranku. Mendadak aku berbalik dan mendapati dada bidang seseorang yang memaksaku mendongak untuk menatap wajahnya.

Coba tebak, siapa itu? Ternyata itu kamu. Iya, kamu. Sesaat kita berdua terpaku dengan posisiku yang menyandar ke rak buku dan kamu yang begitu dekat dengan tubuhku. Aku bahkan masih bisa merasakan debar jantungku saat itu yang begitu kencang. Pelan tapi pasti, aku merasakan wajahku memanas. Dan aku tahu pasti wajahku akan memerah sesuai dengan kebiasaanku selama ini yang mudah malu.

Cukup lama kita berada pada posisi tersebut. Orang lain yang melihat mungkin menyangka kita berdua adalah sepasang anak manusia yang sedang memadu kasih walaupun tidak tau tempat. Tapi itu salah besar. Kita berdua bahkan tidak mengetahui nama masing-masing.

Saat itu walau tanpa sadar banyak yang berputar dalam benakku. Aku mendapati sepasang bola mata hitam jernih yang seolah menyihirku untuk kedua kalinya. Ah, di mana kacamatamu? Apakah kamu sebenarnya biasa menggunakan kacamata ataukah tidak? Hidungmu tidak terlalu mancung rupanya namun terasa begitu pas. Aku menelusuri jejak titik-titik jenggot sedikit kasar yang baru mulai tumbuh di dagumu dengan mataku.

Lalu mataku beralih memperhatikan bibirmu yang terlihat begitu lembut. Timbul pikiran aneh yang seolah memaksaku untuk diam memperhatikan bibirmu itu. Untunglah aku segera tersadar. Apa yang akan kamu pikirkan mendapati seorang gadis yang berpikir cukup tidak sopan saat gadis itu dan kamu bisa dibilang adalah sepasang orang asing?

Aku bergegas menundukkan pandanganku, menatap sepasang sneakers yang menjadi andalanku ke manapun aku pergi. Tidak lupa aku mengucapkan terima kasih. Mencicitkan terima kasih lebih tepatnya. Aku mencoba untuk melarikan diri.

Aku memang gadis bodoh. Tidak seharusnya aku lari setelah lama menanti hari ini. Hari di mana kita bertemu kembali. Hari demi hari yang seolah begitu lama berlalu setelah pertemuan pertama kita itu.

Tapi ada sesuatu yang mencekal pergelangan tanganku. Sesuatu itu terasa kasar menyentuh kulitku, sekaligus begitu lembut. Aku mendadak berbalik dan mendapati sesuatu itu adalah tanganmu.

Kamu tersenyum. Bukan jenis senyuman palsu yang biasa orang-orang tampilkan untuk menutupi kebusukan diri mereka. Senyummu terlihat begitu tulus. Aku mencoba menggerakkan bibirku untuk membalas senyummu, tapi bibirku tampaknya sedang tidak singkron dengan otakku.

Kamu memperkenalkan dirimu secara singkat. Tampaknya kamu tidak ingat pernah bertemu denganku rupanya. Kenapa lidahku begitu kelu untuk menyebutkan nama? Pasti kamu menganggapku sombong saat itu karena begitu susah untuk menjawab pertanyaanmu.

Sesosok yang tadi menemanimu tampak menuju ke arah sini. Ia memanggilmu pelan dan mengajakmu beranjak dari sini. Tanpa bicara banyak, kamu pergi. Hanya pamitan singkat yang kamu ucapkan, juga ucapan semoga kita bisa bertemu lagi. Aku mengaminkan ucapanmu di dalam hati.

Aku sedikit menyesal waktu itu dengan tingkah lakuku. Kenapa aku harus bersikap begitu? Ah tapi biarlah. Jika memang yang Kuasa mengizinkan, sekeras apapun kita menolak takdir akan tetap mempertemukan kita.

Dan itulah yang akan terjadi ternyata.

Sadarkah kamu aku menuliskan surat ini pada tanggal empat belas Februari? Hari di mana orang-orang menyebutnya sebagai hari kasih sayang. Padahal bukannya sengaja karena hari ini hari valentine, tapi tadi aku tiba-tiba saja ingin mengambil pena dan menuliskan surat ini untukmu. Bukannya aku mendukung hari kasih sayang ini, aku hanya kaum netral yang merasa kasih sayang tidak harus dirayakan secara khusus.

Sudahlah, surat ini sudah terlalu panjang rupanya. Entah hal apa saja yang aku ocehkan dari tadi. Pasti kamu akan bosan membaca tulisan ngalor ngidul yang tidak jelas ini. Dan mungkin masih akan ada banyak lagi tulisan yang aku tujukan untukmu.

Kamu, si lelaki hujan yang mampu menyihirku tanpa kamu sadari.

Kamu, yang mampu menjadikanku tawanan dalam pesonamu.

Surat ini masih dariku, yang penuh dengan ketidaksempurnaan.

Sebut aku si chessy girl, tapi entahlah beberapa hari ini pengennya marah-marah dan bikin tulisan yang bikin jari-jari jadi keriting karena ngga banget.

 
Tentang Rindu

Tentang Rindu

Sumber gambar: http://sastrapedia.com/
 
Kepada kamu yang kurindu

Seperti pucuk tanaman mengharap datangnya embun pagi 
Pada dini hari berselimut sepi 
Aku termenung seorang diri 
Di sini, berteman sunyi 

Aku tersentak dari mimpi 
Imaji akan satu sosok selalu menghantui 
Sebuah bayangan akan suatu masa 
Entah kapan akan jadi nyata 

Kamu, berdiri di sana dengan senyum khasmu 
Menungguku
Aku hanya ingin cepat tiba 
Di hadapanmu, sungguh tak kuasa 

Kamu, yang berlutut dengan kedua kakimu 
Penuh harap memintaku 
Dengan cincin sederhana sendu 
Kuterima dengan penuh haru 

Namun semua hanya mimpi 
Refleksi keinginan kuat dalam diri 
Hanya bayang-bayang semu 
Hal mustahil untukmu 

Apa sekarang kamu bahagia?
Bersama dengan wanita yang aku tak tahu namanya
Dia, yang sanggup hadirkanmu cinta
Bukan sepertiku, hanya berimu luka
Bahkan kini kamu tak inginkan aku ada

Mungkin aku hanya terlalu rindu
Padamu
Tak bisa aku mengelak
Toh aku memang kalah telak
Padamu yang tak pernah tertebak

Kepadamu, seseorang yang kurindu
Semua ini tentangmu
Kamu, yang tak pernah tahu.

– Ini tulisan apa ya? Entahlah haha. Tiba-tiba pengen nulis ini, dan dalam lima belas menit selesai setelah bengong selama setengah jam. Bukan kisah nyata, walaupun sedikit terinspirasi dari mimpi aneh tadi malam.. Eh aku nulis apa sih? Bingung XP –


Kamu (Jangan Pernah) Kembali

Kamu (Jangan Pernah) Kembali

Sumber gambar: http://kulihatkurasakudengar.wordpress.com

Aku masih tidak percaya pandanganku 
Kamu berdiri di sana, di hadapanku 
Dengan wajah kuyu dan tatapan sendu 
Kamu, yang telah lama berlalu 

Lingkar hitam di bawah matamu itu nyata 
Wajah yang semakin kehilangan cahayanya 
Ekspresi lelah seolah menyerah 
Setelah berjuang namun kalah 

Rindu ini menyesakkan 
Dengan pelan dan menyakitkan 
Membuat luka 
Menggerogoti jiwa 

Aku tergugu 
Kamu masih tegak di sana 
Menungguku tanpa tahu waktu 
Layaknya yakin aku maafkan semua 

Terlalu banyak kenangan di antara kita 
Sedih, susah, duka 
Bahagia pun pernah kita cecap bersama 
Berdua merajut asa 

Kamulah sang imaji terindah 
Hiasi mimpi-mimpi malamku 
Kamulah hadiah dari Allah 
Bagian tak terpisahkan dari diriku 

Lalu kamu menghilang 
Layaknya pelangi yang datang 
Indah, namun hanya sesaat 
Memerangkap jiwa, membuatku tersesat 

Kini kamu kembali 
Setelah hari-hariku terpenjara sunyi 
Lantas untuk apa kamu datang lagi 
Jika aku tetap merangkai sepi? 

Pergilah, aku bukan tempatmu pulang 
Persinggahan sementara saat kau berpetualang 
Aku bosan terus menata hati 
Hati yang kau sakiti, lagi dan lagi.

– Iya tulisan ini masih aneh kok. Udah bulan Februari, tapi masih belum juga serius mengerjakan resolusi yang sudah dirancang dari akhir tahun lalu. Salah satunya adalah belajar nulis lagi. Namun rupanya setan malas masih saja menang. Sepertinya memang aku harus memaksa diri untuk kembali menulis. –
 
Like Rain, I Fell for You

Like Rain, I Fell for You

Sumber gambar: http://cari-manfaat.com

Oke, dari awal aku akan memperingatkan bahwa ini adalah tulisan aneh, cheesy, tidak jelas. Cuma coret-coretan dalam waktu lima menit, yang tiba-tiba menyeruak dalam pikiran, memaksa untuk dituliskan. Seperti biasa jadi korban novel roman. Bukan kisah nyata, ini hanya cerita. Enjoy! ^^ 

Aku jatuh hati padamu 
Dalam kurungan derasnya hujan waktu itu 
Hanya aku dan kamu 

Aku terpikat pada kali pertama bertemu 
Bukan pada ragamu 
Tapi pada tatapan sendu 
Sesederhana itu 

Apa yang terjadi padamu? 
Lidahku kelu 
Ingin kutanya, namun kumalu 
Ah, tolong beri saran padaku 

Kau ingat aroma hujan yang kita hidu? 
Saat kita terpaksa berteduh di bawah atap kayu 
Bahkan kau tak kenal aku 
Kita terjebak dalam permainan ruang dan waktu 

Menatap rinai hujan kau terpaku 
Dalam diam kau termangu 
Pikirku melayang, mencari cara hancurkan suasana beku 
Harus bagaimana aku ragu 
Hingga kuterdiam tergugu 

Detik demi detik berlalu 
Bau tanah basah pekat terus kita hidu 
Masih dengan rintik hujan, bersamamu 

Like rain, I fell for you.

 
 
Note to Myself

Note to Myself

Sumber gambar: http://kellythekitchenkop.com


Tahukah kau seberapa banyak yang hendaki kau jatuh? 
Jangan harap lukamu akan mereka basuh 
Pun mereka ingin kau kucurkan peluh 

Tahukah kau banyak yang tertawa saat kau berduka? 
Seolah ragamu hina 
Percuma kau menangis, mereka kan tertawa 

Tak peduli seberapa cepat kau melangkah 
Seberapa cepat kau berlari 
Seberapa kencang kau berteriak 
Sia-sia saja 

Mereka bukan hanya musuh 
Bukan pula hanya orang yang jauh 
Bisa saja mereka di dekatmu 
Teman-temanmu 
Bahkan mungkin dari keluargamu 

Maka tegakkan bahumu 
Kuatkan hatimu 
Jangan biarkan mereka bersuka ria 
Dan menatapmu layaknya kau bukan manusia 

Tetaplah teguh 
Buat dirimu kukuh 
Buktikan kau bisa berdiri sendiri dengan kakimu 
Bahwa kau mampu 
Hingga nanti kau yang akan tertawa 
Jadikan dirimu sang jawara 
Akan semua

 
-Catatan untuk diriku sendiri. Bahwa di mana-mana banyak yang tidak menyukai dirimu, banyak yang menginginkan kau terpuruk-


error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest