Love, love, and love.

Everybody’s talking about love right now.

Berbicara tentang cinta, berarti pula tentang pengorbanan. Banyak pengorbanan dilakukan mengatasnamakan cinta.

Misalnya saja kisah Roro Jonggrang. Tidak ingin diperistri oleh Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang meminta syarat berat untuk dipenuhi. Ia meminta dibuatkan seribu candi dalam satu malam. Tak ingin melepaskan kesempatan mempersunting Roro Jonggrang maka Bandung Bondowoso menyanggupi. Namun, ayam-ayam berkokok setelah 999 candi berhasil dibangun. Merasa kesal dengan tipu daya Roro Jonggrang yang membuat ayam-ayam berkokok sebelum waktunya, Bandung Bondowoso menjadikan perempuan itu arca pelengkap candi-candi yang telah dibangun.

Di kehidupan sehari-hari bahkan kita bisa melihat anak-anak membicarakan cinta versi mereka. Ya, mungkin masih cinta monyet. Namun tetap saja menurut mereka itu cinta. Dengan pergaulan anak zaman sekarang pula, banyak yang telah melewati batas. Berkedok cinta, menjadikan mereka melakukan hal-hal yang belum sepatutnya dilakukan. (Baca juga: Realita Kids Zaman Now, Ada Apa? dan Kids Zaman Now, Kemajuan atau Kemunduran Bangsa?)

Kamu yakin, dialah jodohmu nantinya?

Jika memang benar semua hal diberikan demi cinta, lantas apa cinta itu bersalah?

Bukannya nafsu?

Sebagai manusia, kita dianugerahi fitrah berupa akal dan nafsu. Fitrah menurut Louis Maluf dalam kamus Al-Munjid (1980:120) adalah sifat yang ada pada awal penciptaannya, sifat alami manusia, agama, sunah. Akal dan nafsu tidak bisa dipisahkan.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. Ar-ruum, 30:30)

Pada dasarnya hawa nafsu pun tergantung pada manusianya sendiri, karena fitrah nafsu itu ada dua: menerima atau melakukan kebaikan (taqwa) ataupun menerima atau melakukan kejahatan (fujur). Sedangkan fitrah dari akal adalah senantiasa berpikir. Namun selama ini, kita telah salah kaprah mengartikan bahwa hawa nafsu itu identik dengan pikiran jahat.

Telah menjadi kodrat seorang laki-laki untuk menyukai perempuan. Bahkan banyak laki-laki yang tidak menolak poligami (baca juga: Tentang Poligami, Siapkah jika Suami Menikah Lagi?)Hanya saja dengan diberikannya akal kepada kita, maka kitalah yang memutuskan bagaimana kita akan bertindak dan bagaimana pula kita menyikapi nafsu yang kita miliki tersebut.

Lantas, bagaimana kita menyikapinya?

Manusia dan alam semesta hanyalah ciptaan dari Allah. Kehidupan kita bersumber dari-Nya. Apapun yang telah direncanakan-Nya untuk kita, maka takdir itulah yang akan kita hadapi dan perjuangkan. Sebagai sang maha pembolak-balik perasaan, saat ini dan beberapa detik kemudian perasaan kita bisa berubah. Bagi-Nya, hal ini lebih mudah dari membalikkan telapak tangan.

Jangan mau diperbudak cinta. Hidup kita tidak hanya berkisar di seputaran kenikmatan duniawi saja. Banyak hal yang harus kita perjuangkan di dunia ini. Keluarga misalnya, yang selalu menanti kita di rumah. Jangan sampai kita terfokus pada seseorang dan suatu hal hingga melupakan semua hal lain.

Kehidupan kita bermuara dari-Nya, kawan. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan yang ada. Jika memang yang kamu rasakan itu cinta, maka jadikan ia cambuk penyemangatmu meraih cita-cita. Kejar apapun yang ingin kamu raih namun jangan lupa pada-Nya. Tanpa-Nya, kita bukanlah apa-apa.

Tetap semangat dan terus menjadi dirimu sendiri. Tidak ada orang bisa menolongmu terus-terusan, hanya pada kakimu sendiri kamu bisa berdiri tegak. Karena cinta itu harusnya lillah karena Allah.

Dituliskan sebagai self reminder serta untuk #ODOP #OneDayOnePost #GoodWriterClub #GWC #BermanfaatdenganBlog #BermanfaatdenganSocialMedia

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This