Sumber gambar: http://chandraniesa.blogspot.co.id/



Hai Tuan yang tidak sempurna,

Apa kabarmu di sana?

Sudah terlalu lama aku tidak mendengar berita tentangmu. Kapan terakhir kali kita bertemu? Sekitar delapan belas bulan yang lalu, atau bahkan sudah lewat dari dua tahun lalu? Ah entahlah, aku tidak begitu pandai menghitung waktu.

Mungkin kamu akan tertawa membaca tulisan-tulisanku kelak, namun berjanjilah kamu tidak akan menjauh dariku. Bisakah kamu?

Ingatkah kamu bagaimana pertama kali kita bertemu? Di suatu sore saat hujan turun menyapa. Saat itulah semesta mempertemukan kita. Aku yang saat itu tengah termenung di kafe yang biasa kudatangi sambil membaca buku, menatap kosong jendela di samping mejaku. Kemudian aku berpaling, saat itulah aku melihatmu masuk ke kafe itu. Dengan pandangan tajam berbingkai kacamata kotak yang membuatmu terlihat begitu pintar. Jaketmu sedikit basah, mungkin efek dari menerobos hujan sore ini.

Kamu duduk di meja tak jauh dariku. Untungnya kamu memilih duduk di kursi yang berseberangan denganku, membuatku bebas untuk melihatmu. Kamu memesan segelas cappuchino hangat dan tersenyum kepada pelayan setelah itu. Lantas kamu mengeluarkan buku serta netbook, lantas menenggelamkan diri dalam pekerjaanmu.

Tahukah kamu bahwa saat itu aku melihatmu tanpa henti? Aku tahu saat kacamatamu melorot saat kau fokus dalam duniamu. Aku tahu bahwa buku dan netbook itu entah mengapa sangat cocok, melengkapi satu sama lain.

Beberapa saat kemudian barulah kamu menyadari minumanmu sudah mulai mendingin. Saat itulah pandangan kita bersirobok, kamu tersenyum melihatku. Aku tersenyum malu-malu layaknya anak kecil lugu yang tertangkap basah mencuri mainan. Sudah terlalu lama aku tidak merasakan sensasi seperti ini. Ah, aku tersipu.

Aku mencoba untuk mengalihkan pandanganku, kembali fokus menyaksikan rinai hujan di luar jendela, kembali melamun. Aku bahkan tak sadar saat kau beranjak pergi dari kursimu. Saat aku tersadar kau telah menghilang.

Mungkin kamu tak pernah sadar akan pertemuan pertama kita. Tidak apa-apa tentu saja. Tapi aku masih ingat jelas akan setiap detail sore itu. Bagaimana derasnya hujan yang jatuh ke bumi. Tahukah kamu aku sangat menyukai hujan? Ya, aku begitu menyukai hujan. Aku menyukai bagaimana lembutnya hujan saat menghantam tanah, sederas apa pun hujan turun. Aku menyukai bau tanah yang basah setelah hujan turun. Aku menyukai pelangi yang mengajarkanku bahwa akan ada hal indah yang terjadi setelah hal buruk. Bahkan aku menyukai bagaimana kilat dan petir saling bersahutan.

Dan tebak di mana sekarang aku berada? Jika kamu menebak aku berada di kafe itu, maka jawabanmu tepat sekali. Di sinilah aku sekarang, pada posisi kursi yang sama dan segelas cokelat hangat yang setia menemani. Mencoba mengais serpihan kisah lalu yang mulai terlupa. Memandang langit mendung dan rintik hujan.

Kamu tahu, dari pertama kali aku melihatmu aku tak bisa mengalihkan mataku darimu? Tidak perlu terkejut tuan yang tidak sempurna. Inilah aku. You had me at hello, absolutely.

Maukah kamu tetap membaca surat-suratku selanjutnya, hai tuan yang tidak sempurna? Masih banyak yang ingin kuceritakan kepadamu tentu saja.

Dari aku yang juga tidak sempurna.

Ini bukan kisah nyata, cuma memaksakan diri untuk kembali menulis setelah sekian lama. Sekali lagi, ini cuma fiksi, bukan nyata.

 
error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This