Terkadang aku merindukan aktivitas spontan seperti menari di bawah hujan. Tanpa perlu berpikir panjang, cukup menengadah di bawah langit, menikmati guyuran air deras mendera, tetes demi tetesnya.
 
Hingga aku berada di titik terjenuh dalam hidup, merasa iri pada mereka yang gembira saat hujan tiba.
 
Mereka, anak-anak, menanti dengan sabar kapan hujan turun tepatnya. Penuh canda tawa berlari menyongsong rintik-rintik rinai hujan. Pun saat hujan menderas, berteriak riang menyambut. Tanpa beban. Kebahagiaan bagi mereka begitu sederhana. 

 

Baca juga: We’re Going to Cambodia

Bukan sepertiku yang hanya bisa menatap hujan dari pinggir jendela. Tangan dan kaki seolah terikat. Lidahku kelu. Tak pernah lagi terdengar seruan ceria tercetus spontan saat hujan datang. Tak ada lagi luapan kegembiraan bisa aku tampilkan. Hanya tangis mengikuti diam-diam.
 
Luka yang kau torehkan terlalu dalam, hingga aku takut untuk melangkah. Membuatku mengunci diri dalam ikatan simpul tak kasat mata. Terlalu takut menapakkan kaki menuju hujan yang pernah satu ketika menjadi sahabatku.
 
Menjadi sahabat kita berdua.
 
Tapi salahkah aku jika dalam diam aku berharap? Harapan kecil entah kapan dapat terwujud.
 
Aku berharap suatu hari nanti, dalam kesunyian nan menyelimuti, kamu datang kembali. Dengan senyummu yang biasa, mengajakku menari di bawah hujan. Menarikku dalam keriaan seperti dahulu. Menari dalam hujan, berdua. Lagi.
 
Agar hujan nantinya menghapus duka. Juga luka yang terlanjur ada. Menghilangkan tangis. Menciptakan tawa.
 
Dan semoga pula, mengembalikan cinta yang lama tiada.
 
-Ini jenis tulisan spontan, cuma karena ngeliat Abil mandi hujan sembari mendengarkan lagu mellow. Ah ya, juga karena sedang menantikan kapan waktunya bisa mandi hujan lagi.-
 
error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This