Judul: Purple Eyes 
Penulis: Prisca Primasari 
Penerbit: Inari 
Tahun Terbit: Mei 2016
Tebal: 144 Halaman 
ISBN: 978-602-74322-0-8 
Rating: 4/5 

Sinopsis: 
Karena terkadang tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.
 
Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat ia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.
 
Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan ia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig,  gadis yang misterius dan aneh.
 
Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun.
——————————————————————————————————————————–
 
Adalah Hades, sang dewa kematian. Ia dikenal dengan banyak nama: Hel, Pluto, Izanami, Izanagi, Reaper, Death.
 
Adalah Lyre, gadis Inggris berumur dua puluh empat tahun, dengan wajah aristokratis, mata cokelat indah, dan rambut cokelat menyentuh leher. Ialah gadis yang meninggal tahun 1895.
 
Sekaligus menjadi asisten Hades. Sang dewa kematian.
 
Dan sekarang, seratus dua puluh tahun setelah kematian Lyre, sang dewa kematian meminta Lyre untuk menemaninya turun ke bumi demi sebuah misi.
 
Hades sendiri tidak diizinkan turun ke bumi kecuali benar-benar penting. Terjadi pembunuhan berantai di Trondheim, Norwegia, dengan korban-korbannya kehilangan lever. Hades diperintahkan untuk menghabisi sang pembunuh dengan cara yang bisa diterima akal sehat manusia.
 
Menyamar sebagai Halstein dan Solveig, Hades dan Lyre menemui keluarga salah satu korban pembunuhan, Ivarr Emundsen. Adiknya, Nikolai Emundsen menjadi salah satu korban saat pergi sendirian di malam hari.
 
Ivarr Emundsen telah memilih untuk tidak lagi merasakan perasaan apa pun. Semua emosi yang normalnya dimiliki manusia, tidak lagi dimiliki oleh Ivarr. Ivarr bahkan tidak merasakan apa pun saat adiknya meninggal.
 
Tanpa mengetahui apa yang direncanakan oleh Halstein, Solveig mengikuti setiap perintah yang diberikan padanya, menemui Ivarr dan mengajaknya ke beberapa tempat.
 
Ternyata Halstein menginginkan Solveig untuk mengembalikan Ivarr menjadi seperti semula, kembali bisa merasakan emosi.
 
Pemuda itu masih hidup, dan gadis itu sudah mati.
 
Lantas saat Ivarr dan Solveig sama-sama merasakan percikan cinta, berhasilkah misi yang diemban oleh Halstein dan Solveig?

Membaca Purple Eyes berarti… menyelami rumitnya pemikiran kak Priska. Kelam.

Membaca Purple Eyes, mau tidak mau mengingatkan aku akan karya kak Prisca yang lain: French Pink, Eclair, dan Kastil Es & Air Mancur yang Berdansa. Ada beberapa persamaan dari beberapa novel ini: sama-sama bernuansa fantasi dan dongeng, sama-sama berlatar di luar negeri, dan sama-sama kelam.

Dari sembilan novel kak Prisca yang aku punya, sebagian memang memiliki aura suram. Tragis. Namun magis.

Dan kemagisan inilah yang akhirnya menyihir kita untuk tetap larut dalam kisahnya.

Larut dalam Purple Eyes berarti larut dalam karakter Halstein sang dewa kematian, Ivarr, dan Solveig. Dengan nuansa romance yang tidak berlebihan, Purple Eyes membuat aku tidak mau meletakkan novel ini begitu saja.

Terkadang, aku bisa memahami apa yang dirasakan oleh Ivarr. Kesedihan yang mendalam bisa membuat kita seolah menumpulkan hati, memilih untuk tidak lagi merasa. Dan ya, aku tahu bagaimana rasanya.

Interaksi antara Solveig dan Ivarr justru membuat hangat. Sederhana, namun menghangatkan. Ah, kalau saja Ivarr itu nyata, kayanya orangnya cute kali ya?
>.<

Satu lagi, jangan sampai terkecoh dengan cover-nya. Walau bernuansa mellow, tapi bukunya sama sekali tidak mellow >.< Sebenernya berharap kalo buku ini lebih tebal. 144 halaman itu masih kurang kak!

Dan voila, dalam satu jam saja aku berhasil aku lahap.

Ah, sekali lagi kak Prisca berhasil menyihirku.

Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih.

Karena terkadang, tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.


Aku berikan empat bintang untuk Purple Eyes… ^^


error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This