Selamat Hari Ayah: Sebuah Catatan Tentang Kerinduan

Selamat Hari Ayah: Sebuah Catatan Tentang Kerinduan

[vc_row][vc_column][vc_column_text]

Hingga hari ini aku merasa ia masih di sana. Di tempat duduknya yang biasa. Bersandar di kursi berhadapan dengan meja merah panjang tempatnya meletakkan segala macam barang. Kedua sudut bibirnya terangkat simetris menghadap ke arahku, berlatar semburat langit sore berwarna oranye cemerlang. Tersenyum simpul, khasnya yang lelah setelah bekerja sejak pagi menjelang. selamat hari ayah (more…)

Menari di Bawah Hujan

Menari di Bawah Hujan

Terkadang aku merindukan aktivitas spontan seperti menari di bawah hujan. Tanpa perlu berpikir panjang, cukup menengadah di bawah langit, menikmati guyuran air deras mendera, tetes demi tetesnya.
 
Hingga aku berada di titik terjenuh dalam hidup, merasa iri pada mereka yang gembira saat hujan tiba.
 
Mereka, anak-anak, menanti dengan sabar kapan hujan turun tepatnya. Penuh canda tawa berlari menyongsong rintik-rintik rinai hujan. Pun saat hujan menderas, berteriak riang menyambut. Tanpa beban. Kebahagiaan bagi mereka begitu sederhana. 

 

Baca juga: We’re Going to Cambodia

Bukan sepertiku yang hanya bisa menatap hujan dari pinggir jendela. Tangan dan kaki seolah terikat. Lidahku kelu. Tak pernah lagi terdengar seruan ceria tercetus spontan saat hujan datang. Tak ada lagi luapan kegembiraan bisa aku tampilkan. Hanya tangis mengikuti diam-diam.
 
Luka yang kau torehkan terlalu dalam, hingga aku takut untuk melangkah. Membuatku mengunci diri dalam ikatan simpul tak kasat mata. Terlalu takut menapakkan kaki menuju hujan yang pernah satu ketika menjadi sahabatku.
 
Menjadi sahabat kita berdua.
 
Tapi salahkah aku jika dalam diam aku berharap? Harapan kecil entah kapan dapat terwujud.
 
Aku berharap suatu hari nanti, dalam kesunyian nan menyelimuti, kamu datang kembali. Dengan senyummu yang biasa, mengajakku menari di bawah hujan. Menarikku dalam keriaan seperti dahulu. Menari dalam hujan, berdua. Lagi.
 
Agar hujan nantinya menghapus duka. Juga luka yang terlanjur ada. Menghilangkan tangis. Menciptakan tawa.
 
Dan semoga pula, mengembalikan cinta yang lama tiada.
 
-Ini jenis tulisan spontan, cuma karena ngeliat Abil mandi hujan sembari mendengarkan lagu mellow. Ah ya, juga karena sedang menantikan kapan waktunya bisa mandi hujan lagi.-
 
Hey, I Miss You. I Just Can’t Tell You.

Hey, I Miss You. I Just Can’t Tell You.

Akan tiba saatnya kita membisu. Termenung tanpa ada sepatah kata, hanya dingin menelusup hingga kau tergugu. 

Rasa itu menjelma rindu. Bukan, bukan berarti harus bersama selalu. Tapi hati rupanya punya caranya sendiri untuk mengingatmu.

Dan jika rasa itu akhirnya tiba, aku bisa apa?

Malam ini, dengan jujur kukatakan aku rindu. Padamu. Pada celotehan riangmu. Pada raut cemberut kamu tampakkan kala itu. Pada ledekan-ledekan yang seringkali kamu tujukan untukku.

Kamu, seseorang yang selalu di hati. Bahkan tanpa kamu sadari.

Kamu, berada dekat denganku namun terasa tak terjangkau.

Hey, I miss you. I just can’t tell you.

Setelah berbulan-bulan tanpa ada satu pertemuan pun, salahkah aku jika akhirnya ingin kukatakan aku rindu?

I miss you.

I miss you.

I miss you.

I really do.

Walaupun aku tahu banyak hal tentangmu, kontakmu, akun media sosialmu, alamatmu, sekolahmu, dan berbagai cara lain untuk menghubungimu, nyatanya aku tak sanggup bertanya, masihkah kamu mengingatku?

Ingatkah kamu pada kebodohan yang pernah kita tertawakan bersama? Ingatkah kamu pada kebiasaan tahunan yang selalu kunanti tanpa kamu ketahui? Ingatkah kamu pada sejarah panjang yang sempat kita lalui bersama?

Maukah kamu kembali? Padaku yang tak pernah beranjak dari tempat ini.

Semoga suatu saat nanti.

Untukmu, adik kecilku yang tak pernah tahu.

– Cuma sedang dijerat rindu malam ini. Rindu setengah mati. –

Baca juga: Tentang Cerita Sederhana

 

Nanowrimo Challenge, Day 1

Nanowrimo Challenge, Day 1

-Dituliskan untuk nanowrimo challenge

Jika ia hanya menganggapmu masa lalu, buat apa menyakiti diri sendiri dan terus menunggu? Toh ia tetap pergi. Tak peduli berapa lama kalian bersama. Tak peduli banyaknya kenangan telah tercipta. Tak peduli cinta selama ini bertahta. Dan yang terpenting, tak peduli perasaanmu terluka.

Dia akan tetap berlalu. Kadang kala tanpa alasan yang jelas. Bisa jadi dia pergi karena alasannya sendiri, atau bahkan menduakanmu. Membuatmu merasa bahwa kamulah manusia paling tidak berharga di muka bumi.

Jika takdir sudah berkata, kamu bisa apa? Duduk menangis, meratapi nasib? Mengunci diri dari dunia luar dan menyakiti diri sendiri?

Percuma kataku. Percuma.

Berapa lama kamu mencoba bertahan jika menoleh pun ia enggan? Berapa waktu yang kamu butuhkan untuk sadar ia tak ada lagi di sisi?

Mungkin yang kamu butuhkan adalah berhenti sejenak. Berhenti sejenak dari mengingat kenangan-kenangan yang membuat sesak.

Kunci kumpulan kenangan itu dalam sudut hati yang terdalam. Karena nantinya kenangan-kenangan itu akan menjadi masa lalu. Masa lalumu, bukan masa depanmu.

Kita tidak bisa hidup di masa lalu. Tidak ada gunanya berkubang dalam kenangan. Songsong masa depanmu, jadikan ia secerah mentari.

Jika cinta mengkhianati, kenapa kamu menyalahkan diri?

Well, ini adalah pertama kalinya aku ikut tantangan nanowrimo. Berhubung sudah terlalu lama tidak menulis panjang-panjang lagi, aku tidak yakin bisa menulis 50.000 kata dalam sebulan. So, aku akan mencoba menulis apapun, sesedikit apa yang aku bisa, sembari menyelesaikan kerjaan yang menumpuk dan hutang draft tentang trip kemarin. Tapi sepertinya hanya tulisan hari pertama aja yang bakalan aku posting, selebihnya hanya akan disimpan dalam folder di lappy.-

Tentang Cerita Sederhana

Tentang Cerita Sederhana

-Terinspirasi dari novel yang kemarin dibaca, dan ya, sebut saja imajinasi.-

Ada secuil kenangan yang tiba-tiba menguak ke permukaan.
Tentang derasnya barisan rintik rinai hujan. 
Tentang cerita sederhana. 
Tentang rasa yang pernah ada. 
Tentang kita. 

Kita bertemu dalam guyuran hujan waktu itu. 
Aku, kamu, dan dimensi yang seolah berpadu. 
Mempertemukan kita. 
Dalam harap yang membuncah. Dalam asa. 
Dalam doa. 

Sudah kubilang kan bahwa cerita kita sederhana? 
Kamu dan tatapan sendumu. 
Dengan kacamata yang bertengger di ujung hidungmu. 
Matamu dengan lingkar hitam di bawahnya yang begitu kentara. 
Aku dengan ketidakpercayaan pada sesama. 
Dengan hati yang sudah terlalu banyak kecewa. 

Pun begitu tetap akan ada garis yang menyinggung kita. 
Saat semesta berkehendak, aku bisa apa? 
Kamu, aku, dan sore itu. 
Manisnya aroma cokelat hangat yang terhidu, 
bercampur bau tanah basah dan rumput segar yang menyatu. 

Tahukah kamu betapa kehadiranmu membuatku bertanya-tanya? 
Kamu pula yang mengajarkanku untuk kembali percaya. 
Pada hidup. Pada dunia. 
Pun pada diriku sendiri. 
Tanpa aku sadari, kamu selalu ada. 

Lalu kamu pergi tanpa jejak. 
Hilang tak berbekas. 
Seolah kamu hanyalah bayang semu. 
Lantas untuk apa hadirmu selama ini? 
Hanya untuk aku merasakan luka sekali lagi? 
Hey, karma itu ada. 

Maka terima kasih untuk hadirmu yang sempat mengisi ruang di hati.
Untuk guratan takdir yang telah kita jalani.
Untuk torehan luka yang kamu lukiskan.
Untuk semua memori sederhana kita.
Selamat tinggal.
 

Would you like to…?

Use the Divi Builder…

to design your pop-up!

Donec rutrum congue leo eget malesuada. Curabitur non nulla sit amet nisl tempus convallis quis ac lectus. Cras ultricies ligula sed magna dictum porta. Curabitur aliquet quam id dui posuere blandit. Proin eget tortor risus.

Would you like to…?

Use the Divi Builder…

to design your pop-up!

Donec rutrum congue leo eget malesuada. Curabitur non nulla sit amet nisl tempus convallis quis ac lectus. Cras ultricies ligula sed magna dictum porta. Curabitur aliquet quam id dui posuere blandit. Proin eget tortor risus.

error: Content is protected !!