Bisakah Kita Kembali ke Masa Lalu?

Bisakah Kita Kembali ke Masa Lalu?

Bisakah kita kembali ke masa lalu?

 

Di saat kita hanyalah dua orang asing yang tak sengaja dipertemukan. 

Saat belum ada kata kita. Hanya ada kata aku dan kamu. 

Tidakkah kamu ingin kembali? 

Mengulang waktu, mencoba kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin saja bisa terjadi. 

Dan jika kita bisa kembali, akankah mengenalku pun kamu enggan? Ataukah kamu bersikeras memperjuangkan kita? 

Ada saatnya aku berandai-andai bisa mengulang masa, saat takdir belum menyinggung kita. Jika kita tidak pernah bertemu, akan jadi apakah kita? 

Dua orang asing yang hanya saling senyum saat bertemu di jalan? 

Dua orang yang saling melirik sinis saat pandangan tanpa sengaja tersirobok? 

Ataukah kamu hanya ingin kembali ke satu waktu, di saat kita masih bersama?

 
Jika Nantinya Jarak itu Tiba

Jika Nantinya Jarak itu Tiba

Akan tiba waktunya cobaan datang menerpa. Membuat kita rapuh. 
Seolah hati hanyalah seonggok daging. Busuk. Tak ada ubahnya dengan mulut-mulut yang biasa mencaci saudaranya sendiri. Jika nantinya kita terpisah oleh jarak, akan rapuhkah kita? Hingga berpisah menjadi satu-satunya jawaban atas segala permasalahan. 

Semudah itukah? 

Apakah kebersamaan kita selama ini tidak berarti? Tidak cukupkah kepercayaan menjadi landasan? Ataukah semua akan menjadi sebuah kenangan? 

Inginkah kita menjadi dua kubu dalam perselisihan? Saling menghindari layaknya tak pantas ada. 

Segampang itukah kamu melupakan? Tidak bersisakah bagi kita harapan? 

Ada dua hati yang harusnya saling kita jaga. Ada tunas-tunas kepercayaan yang harusnya kita pupuk setiap hari. Agar ia tumbuh subur. Agar ia menjadi pijakan kita dalam melangkah. 

Bukannya kita saling menyakiti. Bukannya kita saling berlari. Seperti ini.

Karena jarak harusnya bukan alasan.

Biarkan ia menjadi sebuah kata. Tanpa adanya makna.

Jarak bukan berarti melupakan. Jarak bukan berarti menjauh.

Biarkan jarak menjadi sebuah hal lucu yang patut kita tertawakan. Sesuatu yang harusnya bisa kita jadikan lelucon yang mengundang senyum dikulum.

Biarkan jarak menjadi rindu. Rindu yang kita simpan selama beberapa waktu. Rindu yang membuncah dalam dada. Maka jika nanti kita bertemu kembali, rindu itu hilang. Lenyap. Hingga nantinya rindu itu akan datang lagi.

Bisakah kita saling percaya?

Bisakah hati kita saling menjaga?

-Seonggok tuntutan menulis yang tiba-tiba datang. Lagi-lagi aku membuat pernyataan: ini fiksi.-

 
 
Seandainya, Suatu Saat Nanti

Seandainya, Suatu Saat Nanti

Seandainya suatu hari nanti aku menghilang, akankah ada yang menyadari? 
Bahwa aku tidak berada di tempat yang biasa. Kesendirian selama ini menjadi teman. Bukannya aku tak peduli, tapi memang inilah kenyataan. 

Bahwa ternyata selama ini kita tidak sejalan. 

Jika aku tak berada di sisi, adakah yang mau repot mencari? 

Berteman sepi aku bercerita. Dalam sunyi aku tersedu. Menelan duka diam-diam. 

Sudah habis semua kesabaran. Juga harapan. Memori-memori indah yang harusnya menguatkan tidak bisa lagi dikenang. 

Jika nantinya aku lenyap digerogoti waktu, adakah yang berbelas kasih? 

Tak tersisakah secuil rindu untukku? 

Akankah ada yang menangis jika aku pergi? Adakah yang terluka jika aku tiada? 

Ataukah semua tertawa bahagia?

 
 
Merindu Langit Biru

Merindu Langit Biru

-Tulisan singkat ini dibuat beberapa bulan lalu saat bencana kabut asap melanda beberapa bagian Indonesia. Saat rumahku juga terkepung oleh asap. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyindir siapapun dan pihak manapun, hanya bertujuan sebagai curahan hati.-

Sebut saja aku gila. Mungkin memang aku gila karena merindukan langit biru. Langit cerah dengan barisan awan putih bergerak beriringan. Matahari tanpa sungkan menyinari dengan hangatnya yang selalu dinanti.

Mungkin kau memang meragukan kewarasanku. Ragu akan tingkah lakuku yang kau anggap tak wajar. Kau lihat aku termenung di setiap soreku menanti datangnya hujan. Oh betapa aku rindu bau tanah basah. Aku rindu langit kelam dengan rentetan kilat dan guntur datang sesudahnya. Bukan kelamnya langit karena kepungan asap yang membutakan.

Tidakkah kau juga merindukan langit biru? Saat kita bisa beraktivitas dengan tenang tanpa dihantui ketakutan seperti saat ini. Tidakkah kau cemas dengan keadaan kita saat ini? Tidakkah kau peduli dengan alammu? Tidakkah kau lihat berapa banyak korban bencana ini? Tidakkah kau menyadari bagaimana berbahayanya keadaan kita saat ini?

Keadaan yang seperti berulang setiap tahunnya. Seakan menjadi bagian dari siklus kehidupan kita. Atau lebih kasar lagi aku tuliskan: bagaikan lingkaran setan yang menjerat.

Mungkin memang aku gila. Mungkin memang ada syaraf yang putus dari otakku. Tapi pernahkah kau berfikir bahwa mungkin ini juga salah kita? Pernahkah kau berfikir bahwa bumi sedang marah? Pernahkah kau berfikir bahwa inilah cara bumi memberi tahu kita bahwa ia terluka?

Aku memang bodoh, tepat seperti ejekanmu selama ini. Tapi aku tidak sebodoh itu hingga tak menyadari kepungan asap ini sudah terlalu lama dibiarkan. Aku tak sepintar dirimu yang dengan pongahnya menyalahkan pemerintah atas bencana ini. Aku tak sepintar dirimu yang dengan santainya berdemo dengan dalih kemanusiaan.

Mungkin itu memang jalanmu untuk membantu sesama. Tapi pernahkah kau terpikir dengan rakyat yang menjerit kelaparan saat kau membuang makanan mahalmu tanpa belas kasihan? Pernahkah kau terpikir dengan mereka yang bekerja tanpa kenal lelah saat kau dengan santainya menghabiskan uangmu?

Bencana ini salah manusia-manusia serakah. Pongah. Mungkin kita juga termasuk dalam jenis manusia yang seperti itu.

Betapa aku merindukan langit biru. Merindu warna cerah yang saat ini tidaklah murah.

Aku tau, aku hanyalah gadis gila di matamu. Tapi tidakkah kamu juga merindu langit biru?

Aku Pernah Jatuh Cinta

Aku Pernah Jatuh Cinta

Aku pernah jatuh cinta, sedalam-dalamnya 
Hingga aku terperangkap dalam perasaan itu sendiri 
Aku pernah jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya 
Hingga terperosok dalam kubangan perasaan yang tak kunjung henti 

Lalu apakah kau mau mengerti? 
Seolah semua hanya bayang semu 
Membuat dirimu terbelenggu 
Akan jerat perasaanku 

Aku terjatuh lagi dan lagi 
Kepada cinta 
Kepada kamu 
Tidakkah kau tahu? 

Ajari aku caranya berhenti 
Ajari aku caranya menjauh 
Percuma aku berharap akan hati 
Hanya akan buatmu mengeluh 
Akan perasaanku nan tangguh 

Tidakkah kau merasa semua berbeda? 
Kau, aku, dan semuanya. 
Tapi kau tetap tegak tanpa kata 
Tanpa emosi, tanpa jiwa 

Lantas bagaimana kita bisa bersama 
Jika semua hanya terpaksa? 
Akankah kamu merasa semua berbeda 
Terperdaya rasa yang ternyata hampa.

 
 
Menghitung Rindu

Menghitung Rindu

Bisakah kita menghitung rindu dalam kurun waktu yang diam-diam bercumbu? 

Dalam diam rindu merekah. Membuncah. Tanpa kita sadari, rindu memenuhi hati. 

Rindu menyandera semua. Menyekap asa. Mengguncangkan jiwa. 

Perlahan tapi pasti, rindu hidup. Tak bisa dicegah, tak berwujud

Rindu itu tak kasat mata. 

Rindu menjerat, menenggelamkan dalam kubangan kenangan tak bertepi. 

Rindulah satu-satunya rasa yang bertahta. Hingga ada saatnya kita jengah. 

Marah. Pada rindu. 

Rindu menggerogoti hati. Hingga hati menjadi lemah. Pasrah. Lalu bisakah kau ajari aku caranya menghitung rindu? 

Permainan hati yang terpaksa kita jalani ini membuat letih. Dalam perih aku merintih. 

Bisakah kau menghitung rindu yang kupersiapkan untukmu?

 
 
error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest