Akan tiba waktunya cobaan datang menerpa. Membuat kita rapuh. 
Seolah hati hanyalah seonggok daging. Busuk. Tak ada ubahnya dengan mulut-mulut yang biasa mencaci saudaranya sendiri. Jika nantinya kita terpisah oleh jarak, akan rapuhkah kita? Hingga berpisah menjadi satu-satunya jawaban atas segala permasalahan. 

Semudah itukah? 

Apakah kebersamaan kita selama ini tidak berarti? Tidak cukupkah kepercayaan menjadi landasan? Ataukah semua akan menjadi sebuah kenangan? 

Inginkah kita menjadi dua kubu dalam perselisihan? Saling menghindari layaknya tak pantas ada. 

Segampang itukah kamu melupakan? Tidak bersisakah bagi kita harapan? 

Ada dua hati yang harusnya saling kita jaga. Ada tunas-tunas kepercayaan yang harusnya kita pupuk setiap hari. Agar ia tumbuh subur. Agar ia menjadi pijakan kita dalam melangkah. 

Bukannya kita saling menyakiti. Bukannya kita saling berlari. Seperti ini.

Karena jarak harusnya bukan alasan.

Biarkan ia menjadi sebuah kata. Tanpa adanya makna.

Jarak bukan berarti melupakan. Jarak bukan berarti menjauh.

Biarkan jarak menjadi sebuah hal lucu yang patut kita tertawakan. Sesuatu yang harusnya bisa kita jadikan lelucon yang mengundang senyum dikulum.

Biarkan jarak menjadi rindu. Rindu yang kita simpan selama beberapa waktu. Rindu yang membuncah dalam dada. Maka jika nanti kita bertemu kembali, rindu itu hilang. Lenyap. Hingga nantinya rindu itu akan datang lagi.

Bisakah kita saling percaya?

Bisakah hati kita saling menjaga?

-Seonggok tuntutan menulis yang tiba-tiba datang. Lagi-lagi aku membuat pernyataan: ini fiksi.-

 
 
error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This