Selamat Hari Ayah: Sebuah Catatan Tentang Kerinduan

Selamat Hari Ayah: Sebuah Catatan Tentang Kerinduan

Hingga hari ini aku merasa ia masih di sana. Di tempat duduknya yang biasa. Bersandar di kursi berhadapan dengan meja merah panjang tempatnya meletakkan segala macam barang. Kedua sudut bibirnya terangkat simetris menghadap ke arahku, berlatar semburat langit sore berwarna oranye cemerlang. Tersenyum simpul, khasnya yang lelah setelah bekerja sejak pagi menjelang. selamat hari ayah (more…)

Dalam Pertemuan dengan Orang Asing, Apa Harapanmu?

[vc_row][vc_column][vc_empty_space height=”15px”][vc_custom_heading text=”Dalam Pertemuan dengan Orang Asing, Apa Harapanmu?” font_container=”tag:h2|text_align:center|color:%23f22183″ google_fonts=”font_family:Dawning%20of%20a%20New%20Day%3Aregular|font_style:400%20regular%3A400%3Anormal” css_animation=”flipInY”][vc_empty_space][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]

Matahari telah lama meninggalkan peraduannya saat dari kejauhan ia melihat sebuah punggung terlihat bergerak-gerak pelan di pinggir pantai. Gelap. Sunyi senyap. Dalam diam dia memaksa diri mendekati pantai. (more…)

Menari di Bawah Hujan

Menari di Bawah Hujan

Terkadang aku merindukan aktivitas spontan seperti menari di bawah hujan. Tanpa perlu berpikir panjang, cukup menengadah di bawah langit, menikmati guyuran air deras mendera, tetes demi tetesnya.
 
Hingga aku berada di titik terjenuh dalam hidup, merasa iri pada mereka yang gembira saat hujan tiba.
 
Mereka, anak-anak, menanti dengan sabar kapan hujan turun tepatnya. Penuh canda tawa berlari menyongsong rintik-rintik rinai hujan. Pun saat hujan menderas, berteriak riang menyambut. Tanpa beban. Kebahagiaan bagi mereka begitu sederhana. 

 

Baca juga: We’re Going to Cambodia

Bukan sepertiku yang hanya bisa menatap hujan dari pinggir jendela. Tangan dan kaki seolah terikat. Lidahku kelu. Tak pernah lagi terdengar seruan ceria tercetus spontan saat hujan datang. Tak ada lagi luapan kegembiraan bisa aku tampilkan. Hanya tangis mengikuti diam-diam.
 
Luka yang kau torehkan terlalu dalam, hingga aku takut untuk melangkah. Membuatku mengunci diri dalam ikatan simpul tak kasat mata. Terlalu takut menapakkan kaki menuju hujan yang pernah satu ketika menjadi sahabatku.
 
Menjadi sahabat kita berdua.
 
Tapi salahkah aku jika dalam diam aku berharap? Harapan kecil entah kapan dapat terwujud.
 
Aku berharap suatu hari nanti, dalam kesunyian nan menyelimuti, kamu datang kembali. Dengan senyummu yang biasa, mengajakku menari di bawah hujan. Menarikku dalam keriaan seperti dahulu. Menari dalam hujan, berdua. Lagi.
 
Agar hujan nantinya menghapus duka. Juga luka yang terlanjur ada. Menghilangkan tangis. Menciptakan tawa.
 
Dan semoga pula, mengembalikan cinta yang lama tiada.
 
-Ini jenis tulisan spontan, cuma karena ngeliat Abil mandi hujan sembari mendengarkan lagu mellow. Ah ya, juga karena sedang menantikan kapan waktunya bisa mandi hujan lagi.-
 
Hey, I Miss You. I Just Can’t Tell You.

Hey, I Miss You. I Just Can’t Tell You.

Akan tiba saatnya kita membisu. Termenung tanpa ada sepatah kata, hanya dingin menelusup hingga kau tergugu. 

Rasa itu menjelma rindu. Bukan, bukan berarti harus bersama selalu. Tapi hati rupanya punya caranya sendiri untuk mengingatmu.

Dan jika rasa itu akhirnya tiba, aku bisa apa?

Malam ini, dengan jujur kukatakan aku rindu. Padamu. Pada celotehan riangmu. Pada raut cemberut kamu tampakkan kala itu. Pada ledekan-ledekan yang seringkali kamu tujukan untukku.

Kamu, seseorang yang selalu di hati. Bahkan tanpa kamu sadari.

Kamu, berada dekat denganku namun terasa tak terjangkau.

Hey, I miss you. I just can’t tell you.

Setelah berbulan-bulan tanpa ada satu pertemuan pun, salahkah aku jika akhirnya ingin kukatakan aku rindu?

I miss you.

I miss you.

I miss you.

I really do.

Walaupun aku tahu banyak hal tentangmu, kontakmu, akun media sosialmu, alamatmu, sekolahmu, dan berbagai cara lain untuk menghubungimu, nyatanya aku tak sanggup bertanya, masihkah kamu mengingatku?

Ingatkah kamu pada kebodohan yang pernah kita tertawakan bersama? Ingatkah kamu pada kebiasaan tahunan yang selalu kunanti tanpa kamu ketahui? Ingatkah kamu pada sejarah panjang yang sempat kita lalui bersama?

Maukah kamu kembali? Padaku yang tak pernah beranjak dari tempat ini.

Semoga suatu saat nanti.

Untukmu, adik kecilku yang tak pernah tahu.

– Cuma sedang dijerat rindu malam ini. Rindu setengah mati. –

Baca juga: Tentang Cerita Sederhana

 

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest