Berkaca pada Usia, Apa yang Pemuda Berikan untuk Negara?

Berkaca pada Usia, Apa yang Pemuda Berikan untuk Negara?

[vc_row][vc_column][vc_column_text]Untuk mencapai kemerdekaan, bangsa kita telah menempuh perjalanan panjang yang kelam dan mencekam. Sejarah mencatat, telah terlalu banyak hal telah dikorbankan demi kemerdekaan Indonesia. Tahun ini, telah 72 tahun kita terbebas dari penjajahan. Tapi, apa kita telah merdeka sepenuhnya? (baca juga: Kemerdekaan dan Kebebasan Berpendapat)

 

pemuda >> pe.mu.da

n orang yang masih muda; orang muda;

Bertahun-tahun setelah kita bebas dari era kelam Indonesia, mari kita renungkan arti kemerdekaan dalam kehidupan kita. Apa kita merasa bebas dalam melakukan semua hal yang kita inginkan? Masihkah kita merasa terkekang dan tidak bisa menjadi apa yang telah menjadi impian selama ini?

“Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Soekarno

Sekarang marilah kita tundukkan kepala sejenak guna mencari makna dari pernyataan presiden pertama Indonesia ini. Apa yang bisa kita ambil?

Ya, Bapak negera kita itu menggambarkan bahwa di tangan kitalah para pemuda, harapan bangsa kita digantungkan. Tapi mengapa harus di tangan pemuda-pemuda Indonesia?

Karena kitalah yang bertanggung jawab untuk memperjuangkan nasib bangsa kita, kawan. Di tangan pemudalah, bangsa kita meminta perubahan-perubahan menuju Indonesia yang lebih baik. Para pemudalah yang masih memiliki semangat juang tinggi, kemampuan, daya tahan fisik, dan inovasi-inovasi kreatif. Nasib bangsa ini tergantung pada pemuda-pemudanya.

Kitalah yang menentukan nasib bangsa kita ke depannya. Kita, para pemuda Indonesia.

Ingatlah, kita mengemban tugas yang sangat berat. Perjuangan merebut kemerdekaan memang berat, namun lebih berat lagi perjuangan pemuda dalam membangun bangsa. Juga perjuangan mempersatukan dan memajukan Indonesia.

Pertanyaannya, apa generasi muda Indonesia mampu melaksanakan tugas tersebut?

Sebagai generasi muda, sudah sepantasnya kita berjuang demi Indonesia. Tidak perlu muluk-muluk, perjuangan dapat dilakukan dari ruang lingkup terkecil di sekitar kita seperti menjadi dirimu sendiri, membuat orangtua bangga, dan berjuang menggapai cita-cita setinggi mungkin.

Sebagai pemuda, mungkin kita belum memiliki banyak pengalaman hidup. Kita belum bisa sehebat orangtua kita. Kita tidak bisa menyaingi perjuangan para pahlawan demi kemerdekaan Indonesia.

Namun, tetap saja kita telah hidup bertahun-tahun di dunia ini. Dari tanah Indonesialah, setiap hari kita mengambil airnya untuk minum. Kita ambil hasil tanahnya untuk makan. Kita gunakan apa saja dari tanah kita demi kehidupan kita saat ini. Dari tahun-tahun itu, adakah kita bersyukur?

Ya, janganlah lupa untuk bersyukur, kawan. Kita masih diberi kesehatan. Kita masih diberi kehidupan yang layak. Kita bisa hidup tenang, menjalani kehidupan sebagaimana mestinya.

Pernahkah kamu berkaca pada usiamu sendiri? Apa saja yang telah kamu lakukan bertahun-tahun ini usia yang telah kamu lewati? Apa kamu yakin masih memiliki sisa waktu yang panjang?

Kita tidak tahu seberapa lama lagi perjalanan  hidup kita. Apakah sebulan, setahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun? Dalam waktu sesingkat itu, apa yang kita perbuat untuk-Nya dan untuk sesama? Untuk negara kita?

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit! Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Soekarno

Jangan hanya berpangku tangan dan berdiam diri. Jadilah generasi muda aktif, kreatif, dan energik. Buatlah dirimu bermanfaat untukmu, keluargamu, lingkungan sekitarmu, dan tentu saja untuk negara. Teruslah berjuang dan jangan gampang menyerah. Jangan sampai kita menjadi generasi muda yang menyia-nyiakan pengorbanan para pahlawannya.

Dituliskan untuk #ODOP #OneDayOnePost #GWC #GoodWriterClub #BermanfaatdenganBlog #BermanfaatdenganSocialMedia[/vc_column_text][/vc_column][vc_column][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][/vc_column][/vc_row]

Kenapa Menulis di Blog?

Kenapa Menulis di Blog?

 

Hello, everyone!

Tantangan hari keempat dari One Day One Post atau ODOP ini bertemakan ‘All About Writing‘.

Okay, then. Marilah kita jawab tantangannya sembari curcol dan mulai menulis!

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Pramoedya Ananta Toer – House of Glass

Jika ditanya, kenapa menulis?

Karena sedari kecil aku hobi membaca dan terus mencecoki diri dengan bahan bacaan. Semua dibaca, mulai dari majalah, tabloid, koran, novel dan lain-lain. Bayangkan saja, waktu SD aku bisa membaca novel-novel sastra lama dengan ejaan zaman dahulu pula. Waktu SMP range bacaanku terus meluas. Saat itu juga aku bisa membaca buku-buku sejarah yang tebalnya bisa jadi bantal itu, sama buku-buku yang jarang dibaca orang lain, sebagai contoh: buku berjudul Atheis. Anak SMP mana yang sebegitu gilanya sama buku? Terus akhirnya mulai berkenalan dengan novel teenlit dan merembet ke semua jenis novel. Seiring waktu, jenis bacaanku terus berubah dan bertambah.

Kalau sekarang sih, daftar to be read di kamar sudah mencapai dua ratus judul buku. Iya aku memang separah itu.

Dan seringkali susah bagiku mengekspresikan sesuatu yang aku rasakan. Dulu sih ada yang bilang, aku ini manusia yang ekspresi wajahnya begitu-begitu saja. Mau marah, kesal, terkejut, sedih, takut, cemas ya mukanya gitu aja, tetap jutek. Mungkin raut wajah senang dan bahagia aja yang beda kali ya, haha XP

Lalu, kenapa malah nyasar di blog?

Well, awalnya membuat blog sekitar tahun 2008 atau 2009, di platform gratisan: blogspot. Dulu sih nulisnya ya semaunya aja, isinya pun cuma sekadar curhatan-curahatan alay. Namun kini sebagian besar postingan alay tersebut sudah dihapus, demi mengurangi jejak dari masa-masa kelam dahulu kala. Kalau pun diniatkan untuk serius menulis seperti misalnya review buku, pasti cuma bertahan beberapa hari dan kemudian berhenti. Sampai akhirnya beberapa bulan lalu nekat beli paket hosting dan domain (baca juga: Kenapa dari Domain Gratis berubah Menjadi Domain Berbayar). Nah biar tidak merasa rugi, akhirnya dipaksakan menulis. Yup, makanya sekarang malah ikutan ODOP. Aku masih harus belajar banyak sekali sih, tapi setidaknya aku berani memulai.

Tanpa memulai dan memperjuangkan sesuatu, kita tidak akan pernah tahu hasilnya bukan?

Menyesal? Jelas tidak. Keputusan tersebut malah mengantarkanku untuk berkenalan dengan banyak orang baru. Sebut saja keluarga Blogger Bengkulu dan GWC ini. Aku belajar banyak hal dari mereka semua.

Menulis juga membuatku berbagi. Apapun itu. Berbagi ilmu tidak akan membuatmu miskin, justru akan membuatmu semakin haus akan pengetahuan. Menulis membuatku mengapresiasi diri sendiri. Menulis menjadi sarana healing pribadi, menjadi alat untuk meredam emosi yang meledak-ledak dan menyembuhkan diri sendiri. Menulis juga membuatku merasa lebih hidup. Menulis dapat merekam jejak kehidupanku yang tidak seberapa ini.

I’m proud to be a writer, or at least … a blogger.

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa–suatu cara untuk menyentuh seseorang yang entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.”

Seno Gumira Ajidarma – Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara

Kalau kamu, kenapa kamu juga memilih untuk menulis? Sharing yuk.. ^^

Dituliskan untuk #ODOP #OneDayOnePost #GoodWriterClub #GWC #BermanfaatdenganBlog #BermanfaatdenganSocialMedia

Cinta dan Muara Kehidupan

Cinta dan Muara Kehidupan

 

Love, love, and love.

Everybody’s talking about love right now.

Berbicara tentang cinta, berarti pula tentang pengorbanan. Banyak pengorbanan dilakukan mengatasnamakan cinta.

Misalnya saja kisah Roro Jonggrang. Tidak ingin diperistri oleh Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang meminta syarat berat untuk dipenuhi. Ia meminta dibuatkan seribu candi dalam satu malam. Tak ingin melepaskan kesempatan mempersunting Roro Jonggrang maka Bandung Bondowoso menyanggupi. Namun, ayam-ayam berkokok setelah 999 candi berhasil dibangun. Merasa kesal dengan tipu daya Roro Jonggrang yang membuat ayam-ayam berkokok sebelum waktunya, Bandung Bondowoso menjadikan perempuan itu arca pelengkap candi-candi yang telah dibangun.

Di kehidupan sehari-hari bahkan kita bisa melihat anak-anak membicarakan cinta versi mereka. Ya, mungkin masih cinta monyet. Namun tetap saja menurut mereka itu cinta. Dengan pergaulan anak zaman sekarang pula, banyak yang telah melewati batas. Berkedok cinta, menjadikan mereka melakukan hal-hal yang belum sepatutnya dilakukan. (Baca juga: Realita Kids Zaman Now, Ada Apa? dan Kids Zaman Now, Kemajuan atau Kemunduran Bangsa?)

Kamu yakin, dialah jodohmu nantinya?

Jika memang benar semua hal diberikan demi cinta, lantas apa cinta itu bersalah?

Bukannya nafsu?

Sebagai manusia, kita dianugerahi fitrah berupa akal dan nafsu. Fitrah menurut Louis Maluf dalam kamus Al-Munjid (1980:120) adalah sifat yang ada pada awal penciptaannya, sifat alami manusia, agama, sunah. Akal dan nafsu tidak bisa dipisahkan.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. Ar-ruum, 30:30)

Pada dasarnya hawa nafsu pun tergantung pada manusianya sendiri, karena fitrah nafsu itu ada dua: menerima atau melakukan kebaikan (taqwa) ataupun menerima atau melakukan kejahatan (fujur). Sedangkan fitrah dari akal adalah senantiasa berpikir. Namun selama ini, kita telah salah kaprah mengartikan bahwa hawa nafsu itu identik dengan pikiran jahat.

Telah menjadi kodrat seorang laki-laki untuk menyukai perempuan. Bahkan banyak laki-laki yang tidak menolak poligami (baca juga: Tentang Poligami, Siapkah jika Suami Menikah Lagi?)Hanya saja dengan diberikannya akal kepada kita, maka kitalah yang memutuskan bagaimana kita akan bertindak dan bagaimana pula kita menyikapi nafsu yang kita miliki tersebut.

Lantas, bagaimana kita menyikapinya?

Manusia dan alam semesta hanyalah ciptaan dari Allah. Kehidupan kita bersumber dari-Nya. Apapun yang telah direncanakan-Nya untuk kita, maka takdir itulah yang akan kita hadapi dan perjuangkan. Sebagai sang maha pembolak-balik perasaan, saat ini dan beberapa detik kemudian perasaan kita bisa berubah. Bagi-Nya, hal ini lebih mudah dari membalikkan telapak tangan.

Jangan mau diperbudak cinta. Hidup kita tidak hanya berkisar di seputaran kenikmatan duniawi saja. Banyak hal yang harus kita perjuangkan di dunia ini. Keluarga misalnya, yang selalu menanti kita di rumah. Jangan sampai kita terfokus pada seseorang dan suatu hal hingga melupakan semua hal lain.

Kehidupan kita bermuara dari-Nya, kawan. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan yang ada. Jika memang yang kamu rasakan itu cinta, maka jadikan ia cambuk penyemangatmu meraih cita-cita. Kejar apapun yang ingin kamu raih namun jangan lupa pada-Nya. Tanpa-Nya, kita bukanlah apa-apa.

Tetap semangat dan terus menjadi dirimu sendiri. Tidak ada orang bisa menolongmu terus-terusan, hanya pada kakimu sendiri kamu bisa berdiri tegak. Karena cinta itu harusnya lillah karena Allah.

Dituliskan sebagai self reminder serta untuk #ODOP #OneDayOnePost #GoodWriterClub #GWC #BermanfaatdenganBlog #BermanfaatdenganSocialMedia

O’Chicken, Organik Fried Chicken Halal yang Bikin Ketagihan

O’Chicken, Organik Fried Chicken Halal yang Bikin Ketagihan

 

Apakah kita pernah mempertanyakan kehalalan dari makanan yang kita santap?

Sebagai umat muslim, kehalalan dari sebuah makanan sudah menjadi keharusan. Halal dari cara memasak, bahan-bahan memasak, dan alat untuk memasaknya. Beruntung kita tinggal di Indonesia, di mana makanan halal masih bisa temukan di mana-mana dengan mudah. Tahun lalu, dalam perjalanan gembel Anin dan teman-teman di Ho Chi Minh City, Vietnam, kami sempat makan nasi hanya dengan saos empat porsi untuk bertujuh. Hal ini dikarenakan kami dalam perjalanan menuju Cu Chi Tunnel dan tidak menemukan restoran halal dalam perjalanan tersebut. Karena tidak ada pilihan restoran lain, kami tidak berani memesan makanan selain dari nasi putih dan saos sambal botol.

Tahukah Anda bahwa bahan makanan yang bersumber dari daging hewan harus kita yakini 100% halal dan disembelih secara syar’i? Terutama daging ayam, yang akrab dengan keseharian kita.

Siapa sih yang menolak jika disuguhi daging ayam? Aku sih tidak bisa, sudah bisa dikategorikan addicted malah. Hampir setiap hari maunya makan lauk ayam. Duh.

Apalagi kalau ditawarkan fried chicken. Ayo tunjuk tangan yang tidak suka!

o'chicken

Tapi sayang, ayam goreng tepung ini kebanyakan mengandung MSG dalam proses pengolahannya. Walaupun praktis, banyak ibu-ibu yang melarang anak-anak mengkonsumsi fried chicken. Padahal jenis makanan ini termasuk salah satu yang digemari anak-anak. Adik-adikku sendiri sangat menyukai ayam goreng tepung, dijamin makannya tambah lahap hap.

Menghindari MSG berlebihan dari ayam goreng krispi yang beredar di pasaran, aku pun jarang memakannya. Sampai akhirnya beberapa waktu lalu aku mencoba O’Chicken. O’Chicken atau Organic Fried Chicken menggunakan ayam herbal organik dari PT Elha Narita Perkasa, yang dalam peternakannya didampingi oleh Balai Penelitian Ternak (BALITNAK).

o'chicken

O’Chicken, Organik Fried Chicken Halal yang Bikin Ketagihan.

Sejak masih di kandang, ayam herbal organik O’Chicken telah mendapatkan perlakuan khusus. Ayamnya dikembangbiakkan dengan menggunakan pakan khusus seperti jagung, dedak, tepung ikan, dan lainnya, serta tambahan jamu ternak berupa ramuan herbal sebagai probiotik alami pengganti antibiotik dan obat antistres kimia. Tidak lupa pula ayam-ayam O’Chicken didengarkan lantunan ayat suci Al-Quran selama 24 jam setiap harinya.

Kenapa harus pilih  O’Chicken Ayam Organik?

  1. Berasal dari peternakan ayam organik yang disupervisi oleh BALITNAK (Balai Penelitian Ternak).
  2. Dibudidayakan secara alami tanpa antibiotik dan tidak disuntik hormon.
  3. Ayam organiknya diasup pakan khusus yang alami dan jamu herbal sebagai pengganti probiotik alami.
  4. Sejak umur satu hari, ayam organik O’Chicken diperdengarkan lantunan ayat suci Al-Quran
  5. Dipotong secara manual dan sesuai dengan tata cara syari Islam di RPA (Rumah Pemotongan Ayam) Herbal Chick yang sudah bersertifikat Halal dari MUI (Majelis Ulama Indonesia).
  6. Kualitas daging ayamnya telah diuji secara berkala di Laboratorium Departemen Pertanian Bogor dan laboratorium independen lainnya.
  7. Tidak menggunakan MSG dalam pengolahannya.
  8. Rendah lemak dan kolesterol
o'chicken

Pilihan Menu O’Chicken.

Bukan hanya itu, O’Chicken juga diolah menggunakan nasi organik. Daging ayamnya memiliki rasa yang khas dan tidak terasa terlalu berminyak. Selain fried chicken, O’Chicken juga menyajikan berbagai variasi menu lain, seperti ayam penyet, ayam bakar, ayam lada hitam, cordon bleu, chicken katsu, ayam geprek, spagheti, kentang goreng, dan burger. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau, mulai dari Rp 9.000 saja. O’Chicken juga meraih Anugerah Wirausaha Indonesia 2015 sebagai the Rising Star.

o'chicken

Nasinya pun organik.

Gimana, masih belum tertarik nyobain O’Chicken?

Pemesanan bisa menghubungi:
Dwi Oktarini (0811 731 375)
Alamat toko: Jalan Salak Panorama
Ig: @ayam_goreng_delivery_bengkulu
Fb: ochicken ochicken bengkulu

Bisa juga pesan antar dengan menghubungi:
Mayang (0812 7100 3468 – 0857 8353 5164)

 

Resep Simpel Anti Telat Masuk Kantor Ala Salimah Food

Resep Simpel Anti Telat Masuk Kantor Ala Salimah Food

 

Minna san, genki desuka?

Ih, sok banget pake bahasa Jepang. Padahal cuma bilang, “Semuanya, apa kabar?”

Anyway, bagaimana jadinya anak kosan disuruh masak? Kalau aku pribadi disuruh masak sih, udah pasti maunya masak makanan yang harganya murah, resepnya simpel agar tidak repot, dan tentu saja rasanya enak. Karena anak kosan ini (seringnya) berkeuangan pas-pasan, murah itu wajib. Kadang karena tidak punya uang lagi, mie instan jadi pilihan.

Terutama anak Teknik Informatika seperti aku. Bukan rahasia lagi jadi anak TI itu harus tahan banting. Pergi pagi pulang pagi bukan lagi hal aneh. Jika datang satu tugas, maka tugas lain akan menyerbu. Kalau lagi rempong-rempongnya, waktu luang akan jadi barang mahal. Alhasil, jalan pintasnya ya beli makanan di luar. Sebut saja jajan nasi padang, sate, bakso, pangsit, roti bakar, martabak itu udah biasa, malah bisa dibilang hampir setiap hari.

Jajan di luar memang praktis dan membantu sekali untuk si sibuk. Namun yang jadi masalah adalah kita tidak tahu bagaimana makanan tersebut dimasak. Apakah bahan masakannya benar-benar dicuci sebelum diolah? Apa alat masaknya higienis? Apa cara masaknya memenuhi standar kematangan? Dan yang satu lagi nih yang paling penting, apa rasa makanannya yang enak itu menggunakan bumbu-bumbu serta penyedap rasa alami seperti gula dan garam, atau penuh dengan penyedap rasa buatan? Kebanyakan masakan yang dijual itu pasti menggunakan MSG. MSG ini masih terus diperdebatkan akan efek sampingnya.

Terus kalau mau makan makanan bebas MSG, bagaimana dong?

Repot sekali kalau kita harus selalu masak demi menghindari jajan di luar. Buat si sibuk terutama. Tapi ternyata, kelas Blogger Bengkulu yang ketiga seminggu yang lalu memberikan solusi dari masalah ini. Di Kelas Blogger ini, aku berkenalan dengan Salimah Food. Produk yang ditawarkan oleh Salimah Food ini berupa makanan beku atau frozen food. 

Salimah Food

Salimah Food

Salimah Food

Salimah Food merupakan produk dari perusahaan PT Salimah Prima Cita yang digagas dan didirikan oleh para aktivis Organisasi Masa Perempuan Persaudaraan Muslimah (Salimah). Perusahaan ini berkomitmen untuk menghadirkan produk yang halal, sehat dan praktis. Salimah Food di Bengkulu sendiri berdiri pada bulan April 2016. Saat ini pengelola Salimah sudah tersebar di seluruh kabupaten dan kota Bengkulu.

Produk Salimah Food ini ada banyak jenisnya, seperti dimsum, nugget, bakso, otak-otak, tahu bakso, udang gulung, empek-empek, dan masih banyak lagi. Satu hal yang jadi andalannya adalah MSG free alias bebas MSG! Coba aja dari zaman kuliah dulu udah kenal sama Salimah Food, tidak perlu lagi anak kosan jajan di luar. Tinggal beli persediaan frozen food. Praktis!

Salimah Food

Ada beberapa keunggulan lain dari Salimah Food, yaitu:

  1. Halal: Diproses memakai bahan bahan yang halal dan telah memperoleh sertifikat Halal MUI.
  2. Sehat : Diproses secara higienis dengan memakai ikan segar berkualitas.
  3. Aman: Tidak memakai pengawet dan zat-zaf berbahaya lainnya.
  4. Lezat : Racikan bumbu-bumbu menjadikan olahan ikan semakin lezat. Tersedia 20 jenis olahan ikan dengan aneka pilihan rasa yang bervariasi.
  5. Praktis : Dapat disajikan dengan cara direbus, dikukus, digoreng dan dioven.

Salimah Food

Sekarang sih aku bukan lagi anak kosan. Tapi karena sekarang pulangnya pun sore, waktu makan siang jadinya pengin jajan di luar. Aku jarang sekali bawa bekal karena malas ribet masak pagi-pagi. Tapi karena di kelas Blogger kemarin aku diberikan bakso dari Salimah Food, maka bisa diolah jadi resep simpel dan sederhana sebagai bekal di kantor. Bye-bye telat karena terlalu lama menyiapkan bekal!

Ada dua jenis masakan yang aku eksekusi malam harinya: bakso krispi dan skewer sosis-bakso-telur puyuh-mie.

Salimah Food

Bakso Krispi

Bahan:

  1. Bakso empat belah buah
  2. Tepung roti atau tepung panir secukupnya.
  3. Dua butir telur
  4. Saos ekstra pedas

Cara Membuat:

  1. Kocok telur.
  2. Masukkan bakso ke dalam telur yang telah dikocok.
  3. Gulingkan bakso ke tepung roti hingga merata.
  4. Ulangi langkah kedua dan ketiga
  5. Simpan bakso yang telah dibalut dengan telur dan tepung roti ke dalam lemari es selama tiga puluh menit.
  6. Goreng hingga keemasan.
  7. Sajikan dengan saos sambal.

Salimah Food

Skewer sosis-bakso-telur puyuh-mie

Bahan:

  1. Empat belas buah bakso
  2. Tujuh buah sosis siap makan
  3. Empat belas buah telur puyuh
  4. Mie instan secukupnya.
  5. Saos sambal
  6. Cabe merah secukupnya.
  7. Bawang merah secukupnya.
  8. Bawang putih secukupnya.
  9. Garam secukupnya.
  10. Margarin
  11. Tusuk sate
  12. Saos sambal ekstra pedas.

Langkah-langkah:

  1. Rebus telur puyuh, tambahkan sedikit garam.
  2. Potong-potong sosis menjadi tiga bagian. Goreng sebentar dengan sedikit margarin.
  3. Rebus mie instan.
  4. Goreng bakso dengan menggunakan sedikit margarin. Angkat saat bakso berubah warna menjadi agak cokelat.
  5. Keluarkan telur puyuh yang telah matang dari cangkangnya. Goreng sebentar dengan sedikit margarin.
  6. Blender hingga halus bawang merah, bawang putih, sedikit garam, dan cabe merah. Tumis dan tambahkan sedikit air. Tambahkan saos sambal sampai agak mengental.
  7. Gunakan tusuk sate, tusukkan bahan dengan urutan sebagai berikut: sosis, gulungan mie, sosis, bakso, sosis, bakso, telur puyuh.
  8. Oleskan sedikit sambal.
  9. Sajikan dengan saos sambal.

Salimah Food

Resepnya simpel dan dijamin you’re gonna say goodbye to telat masuk kantor! Cocok juga untuk kids zaman now nih, karena bebas micin. Ini aja, sehabis dieksekusi, makanannya tandas dalam waktu sepuluh menit diserbu sama adek-adek aku.

DMCA.com Protection Status

Pin It on Pinterest