Hai, memasuki bulan Juli 2015, waktunya aku untuk mulai mereview novel yang udah bertumpuk. Review pertama di bulan ini diawali dengan Koala Kumal-nya Raditya Dika.. ^^ 

 


Judul: Koala Kumal
Penulis: Raditya Dika
Editor: Windy Ariestanty
Penerbit: Gagasmedia
Halaman: 250 Halaman
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-979-780-769-6
Rating: 3/5

Sinopsis:
Selain main perang-perangan, gue, Dodo, dan Bahri juga suka berjemur di atas mobil tua warna merah yang sering diparkir di pinggir sungai samping kompleks. Formasinya selalu sama: Bahri dan gue tiduran di atap mobil, sedangkan Dodo seperti biasa, agak terbuang, di atas bagasi.

Kadang kami tiduran selama setengah jam. Kadang, kalau cuaca lagi sangat terik, bisa sampai dua jam. Kalau cuacanya lagi sejuk dan tidak terlalu terik, kami biasanya sama-sama menatap ke arah matahari, memandangi langit sambil tiduran. Kalau sudah begini, Bahri menaruh kedua tangannya di belakang kepala, sambil tiduran dia berkata, ‘Rasanya kayak di Miami, ya?’

‘Iya,’ jawab gue.

‘Iya,’ jawab Dodo.

Kami bertiga gak ada yang pernah ke Miami.

—————————————————————————————————————————
 
Koala Kumal merupakan buku ketujuh dari Raditya Dika, yang akhirnya keluar setelah tiga tahun dihalangi kesibukan kak Dika. Buku ini diawali dengan bagian Prakata yang lumayan ngocol dan bikin ketawa di siang bolong bulan puasa. Maafkan aku kak, walaupun ngefans, tapi baru bisa beli sekarang. *lirik dompet, lagi bokek berat*
 

Di sini aku mencoba untuk membahas setiap bab, karena setiap kisah dalam setiap bab merupakan cerita yang tidak runtut.

 

 
Bab pertama ‘Ada Jangwe di Kepalaku’
Bab ini berkisah tentang Raditya versi kelas lima SD, seorang anak kecil yang kurang pergaulan. Dengan fitur khas anak nerd, yaitu kurus, kacamata kedodoran, dan kemeja yang selalu rapi saat di luar rumah. Seperti halnya anak kuper, Raditya dengan kegemarannya bermain game setiap pulang sekolah. Sampai pada suatu sore, kesialan terjadi. Kaset game-nya rusak, dan ia bermain layang-layang bersama papanya. Karena kejadian layang-layang putus, akhirnya ia bertemu dua orang teman yang dengan cepat menjadi teman akrabnya: Bahri dan Dodo. Hingga akhirnya persahabatan mereka berakhir pada bulan Ramadhan 1997, dengan penyebabnya adalah petasan ‘jangwe’. 

Ada satu paragraf yang sangat aku suka pada bab ini.

‘Kalau kamu diajakin temen-temen kamu untuk main petasan, jangan mau, ya. Mama gak mau kamu kenapa-kenapa. Daripada main petasan-petasan gitu, mending kamu main layangan aja sama Papa lagi,’ kata Nyokap, lalu ia beranjak ke dapur.

Bab kedua ‘Ingatlah Ini Sebelum Bikin Film’

Bab ini berlangsung pada pertengahan tahun 2012, saat kak Radit sedang sibuk menulis skenario film Cinta Brontosaurus. Kejadian lucu berikut ini terjadi saat makan malam sang pacar dan Kak Radit beserta keluarganya.

‘Kau tahu gak kenapa kalian harus menikah?’ tanya Bokap.
‘Kenapa, Pa?’ tanya gue.
‘BIAR TITIT KAU GAK CUMAN DIPAKE BUAT PIPIS!’
Nyokap ketawa. Si Pacar tersedak. Gue pengin mati.

Kejadian ini dimasukkan ke dalam film Cinta Brontosaurus. Iya, ini kejadian paling absurd yang aku ga kebayang kalo kejadian di keluargaku. Bener-bener keluarga yang ajaib.

Lalu, ketika film Cinta Brontosaurus telah tayang, papanya kak Radit nonton dan memberikan komentar seperti ini:

‘Papa terus terang kecewa, Dika.’
Gue bertanya, ‘Kecewa kenapa, Pa?’
Bokap memukul meja sambil mengangkat alisnya. Lalu dia berseru,’ KENAPA PELEM KAU GAK ADA ADEGAN CIUMANNYA?!’

Sekali lagi, benar-benar keluarga yang ajaib.

Bab ketiga ‘Balada Lelaki Tomboi’
Bab ini terjadi pada saat sedang ada pertandingan Piala Dunia 2010, saat Radit dekat dan (akhirnya) jadian dengan seorang perempuan tomboi. Ingin menyeimbangi Deska ini, Raditya mulai berolahraga yang selama ini jarang dilakukannya. Hingga akhirnya mereka putus. 

Selalu, yang baru akan terlihat lebih baik daripada yang lama.
Pikiran tersebut membebaskan gue.

Bab keempat ‘Panduan Cowok dalam Menghadapi Penolakan’
Bab ini seperti di buku-buku Raditya sebelumnya, merupakan panduan ngaco dari kak Radit. Ga perlu aku jelasin panjang lebar deh sebaiknya, mendingan langsung baca aja bukunya.. ^^

Bab kelima ‘Kucing Story’
Obrolan Radit dengan Avi sang mantan pacar tentang kesepian dan binatang peliharaan meninggalkan bekas yang dalam. Hingga akhirnya Radit memutuskan untuk mencari binatang peliharaan baru, dan mencari kucing ke breeder atau peternakan kucing.


Bab keenam ‘LB’
Pertama kali  aku baca judul bab ini, aku ga ngerti apa itu LB. Semakin jauh aku baca, baru ngerti kalo ternyata LB itu ‘Ladyboy’ alias bencong. Ini ceritanya di Thailand ya, sebenernya ga usah heran sih :p


Bab ketujuh ‘Perempuan Tanpa Nama’
Bab ini berkisah tentang beberapa perempuan tanpa nama yang sempat singgah dalam hidup Radit, namun kemudian pergi berlalu tanpa sempat bertukar nama.


Bab kedelapan ‘Menciptakan Miko’
Sama seperti aku yang dilanda kejenuhan akan tidak berbobotnya tayangan pada televisi kita ini, kak Radit pun merasa demikian. Hingga ia membuat sebuah serial komedi tentang pengalaman seorang cowok jomlo cemen dalam menghadapi setiap malam Minggu bernama Miko. Bab ini menceritakan keribetan kak Radit dalam menjadi sutradara dalam serial komedinya itu.


Bab kesembilan ‘Lebih Seram dari Jurit Malam’
Cerita dalam bab ini akan mundur ke belakang, di saat Radit masih duduk di bangku senior SMA. Berhubung aku ini termasuk si cemen kelas kakap dengan hal-hal yang berbau horor, lebih baik baca sendiri aja ya… ^^


Bab kesepuluh ‘Patah Hati Terhebat’
Ada satu kalimat yang sangat menohok.

Trisna berkata, ‘Kita akan selama-lamanya jadi orang yang lain, gara-gara satu patah hati kampret dalam hidup kita. Kecuali ada mantra sihir Harry Potter yang bisa membuat kita lupa sama itu semua.’

 

Bab kesebelas ‘Aku Ketemu Orang Lain’

Kembali ke tahun 2003 di saat kak Radit baru akan memulai kuliah di kota Adelaide, Australia. Bab ini menceritakan bagaimana ia menjalani long distance relationship dengan sang pacar. LDR berarti kita menjalani hubungan jarak jauh yang seringnya sih suck. Dan voila, mereka putus.

Bab kedua belas ‘Koala Kumal’
Sesuai dengan judul buku ini, Koala Kumal menceritakan tentang penulisan buku ini, yang dianalogikan dengan koala kumal.

Untuk buku ketujuhnya ini, tidak bisa dipungkiri bahwa gaya bercerita kak Radit semakin dewasa seiring dengan berjalannya waktu. Bila dibandingkan dengan buku-bukunya terdahulu seperti Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus dll, buku ketujuhnya ini gaya penceritaannya semakin halus dan mengalir lancar.

Tapi ada satu hal yang aku sayangkan. Aku ga bisa ketawa lepas waktu baca Koala Kumal ini. Memang komedinya masih kerasa sih, tapi ya untuk aku lebih datar aja bacanya. Setelah selesai baca bukunya, ya udah. Gitu aja. Cuma bisa ketawa lepas waktu baca bagian prakatanya aja.. Bab-bab berikutnya cuma bisa bisa ketawa-ketawa kecil.

Karena buku ini lebih terarah ke komedi halus. Jenis komedi yang membuat kita harus berpikir dahulu untuk mengerti maksud dari kisah yang diceritakan.

Buku ini bertajuk tentang patah hati. Mulai dari patah hati pada persahabatan, patah hati pada perempuan tomboi, iri pada kucing yang tidak perlu patah hati, patah hati pada perempuan tanpa nama yang hanya numpang bersenggolan pada kehidupan Radit, tanpa sadar membuat orang lain patah hati, sampai patah hati terhebat yang membuat perubahan pada diri kita. Seperti koala yang pergi bermigrasi dari hutan tempat tinggalnya dan kembali beberapa bulan kemudian. Saat ia kembali, semua berubah. Semua terasa asing. Patah hati juga membuat banyak perubahan dan membuat semua terasa asing.
 
Ada beberapa hal aneh yang aku dapatkan dari buku ini. Pertama, setahu aku novel ini keluarnya tahun 2015. Tapi pada buku ini disebutkan cetakan kedua, 2014. Lah kalau bukunya aja keluar tahun 2015 kok cetakan keduanya keluar tahun 2014 ya?

Kedua, penulisan kalimat langsung. Pada keseluruhan buku ini, kalimat langsung dituliskan dengan tanda petik satu. Misalnya:

Kalau sudah begini, Bahri menaruh kedua tangannya di belakang kepala, sambil tiduran dia berkata, ‘Rasanya kayak di Miami, ya?’
‘Iya,’ jawab gue.
‘Iya,’ jawab Dodo.

Untuk penulisan kalimat langsung, setahuku menggunakan tanda petik dua, sehingga seharusnya dituliskan:

Kalau sudah begini, Bahri menaruh kedua tangannya di belakang kepala, sambil tiduran dia berkata, “Rasanya kayak di Miami, ya?”
“Iya,” jawab gue.
“Iya,” jawab Dodo. 

Sebenarnya tidak tepat rasanya mengkritik kepenulisan pada buku komedi, tapi jika keseluruhan buku terdapat kesalahan seperti ini, menurut aku ini cukup mengganggu.

Secara keseluruhan, aku masih tetap enjoy baca Koala Kumal ini. Aku kasih tiga bintang untuk Koala Kumal… ^^


error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This