Judul: Friends Don’t Kiss 
Penulis: Syafrina Siregar 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 
Keterangan buku: Pinjem di iJakarta 
Tahun Terbit: 2014 
Tebal: 208 Halaman 
ISBN: 978-602-03-1078-7 
Rating: 3/5 
Sinopsis: 
Bagi Mia Ramsy, menyusui adalah salah satu ekspresi cinta terbesar seorang ibu bagi anaknya. Tapi bagi Ryan Subagyo, setiap mendengar kata “menyusui”, yang muncul di benaknya hanyalah bayangan payudara wanita. Namun, kegigihan Mia memperjuangkan hak setiap bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif lewat Indonesian Breastfeeding Mothers–organisasi nirlaba tempat gadis itu mengabdi–justru semakin membuat Ryan jatuh cinta padanya. Ryan semakin yakin Mia berbeda dari gadis-gadis yang selama ini ia temui. Kekayaan, kesuksesan, dan ketampanannya memang membuat Ryan dikejar banyak gadis, tetapi belum ada yang mampu membuat Ryan untuk pertama kalinya memikirkan pernikahan. Namun, apakah lamaran Ryan akan diterima jika gadis itu mengetahui siapa Ryan Subagyo sebenarnya?

—————————————————————————————————————————–

Friends Don’t Kiss mengangkat tema yang sangat menarik, yaitu breastfeeding atau dalam bahasa Indonesia adalah menyusui. Topik ini jarang diangkat dalam sebuah karya fiksi. Sehingga membutuhkan sebuah keberanian tersendiri bagi penulisnya, Syafrina Siregar untuk mengangkat topik breastfeeding ini.

Novel ini berkisah tentang Mia Ramsy, seorang konselor laktasi. Ia mengabdikan dirinya pada organisasi IMB atau Indonesian Breastfeeding Mothers. Walaupun ia bekerja sebagai konselor sukarelawan di IMB, untunglah bengkel warisan orang tuanya mampu menjadi pemasukan pribadi bagi Mia.

Namun, Mia sangat ceroboh. Hobinya menabrak mobil lain saat hendak parkir. Seperti hari itu saat ia sedang terburu-buru ke rumah sakit, ia kembali menabrak mobil seseorang. Hingga akhirnya ia memberikan ganti rugi dengan menyuruh orang tersebut datang ke bengkelnya.

Adik Mia, Lia baru saja melahirkan. Mia dengan semangat menyuruh Lia untuk memberikan asi eksklusif untuk bayinya tersebut bahkan dari sebelum Lia melahirkan. Namun, Mia sempat melakukan kesalahan fatal. Ia malah menemui kliennya terlebih dahulu, hingga pada saat Lia seharusnya melakukan Inisialisasi Menyusui Dini (IMD), Mia tidak ada. Rumah sakitnya sendiri tidak melakukan IMD tersebut. Saat Mia tiba di rumah sakit, Lia terlanjur marah padanya.

Tabrakan Mia yang terakhir ini mengantarkannya berkenalan dengan Ryan. Kemudian mereka saling jatuh cinta.

Namun ada satu hal yang Mia tidak tahu. Ryan ternyata adalah Hardian Subagyo, pemilik dari Prima Gold. Prima Gold sendiri adalah produsen susu formula, yang menurut Mia dan IBM Prima Gold telah melanggar kode etik pemasaran susu formula sebagai pengganti Air Susu Ibu.

Mia hanya tahu Ryan sangat misterius. Ia awalnya menyangka Ryan bekerja sebagai seorang tukang sulap. *Seriously? Namun Ryan mengetahui prinsip Mia sebagai konselor laktasi, hingga awalnya Ryan tidak memberi tahu Mia bahwa ia adalah Hardian Subagyo.

Lantas, saat identitas sebenarnya Ryan terbuka, akankah Mia mau menerima kehadiran Ryan dalam hidupnya? Friends don’t kiss, remember?

Membaca novel ini begitu sarat dengan edukasi. Well, aku belum menikah sehingga masih sangat awam terhadap dunia ‘ASI dan menyusui’ ini. Dengan membaca novel ini, banyak pelajaran yang bisa dipetik.

Untuk ceritanya sendiri, pada awalnya aku masih semangat membacanya. Ini cerita memang unik karena tema yang diangkat. Seorang konselor laktasi dan seorang produsen susu formula yang saling jatuh cinta. Seorang konselor laktasi tentu saja menentang kehadiran susu formula. Sedangkan seorang produsen susu formula tentu saja menginginkan keuntungan besar dari penjualan susu formula tersebut, bisa jadi dengan pemasaran yang tidak seharusnya dilakukan.

Namun entahlah, mungkin karena tujuan utama dari penulisan utama novel ini adalah menyuarakan pemberian ASI eksklusif pada bayi, aku merasa novel ini seperti hambar. Datar-datar saja.

Untuk porsi karakter dalam novel ini sebenarnya sudah pas dengan porsi masing-masing, walaupun lagi-lagi masih terlalu banyak bicara soal ASI. Keberadaan Gina misalnya sebagai sesama konselor laktasi di IBM sudah cukup apik. Lalu Lia, sebagai adik Mia yang baru saja melahirkan tentu menjadi sebuah masalah yang sebenarnya sudah tepat.

Ryan digambarkan sebagai pria yang suka memaksa. Dia akan mendapatkan apa pun yang dia inginkan, sesusah apa pun itu. Ryan menginginkan Mia dan harus mendapatkan Mia. Berbeda dengan Mia. Aku merasa Mia adalah gambaran seorang wanita yang … apa ya? Idealis dan konservatif? Jika Mia sudah memilih keputusan akan sesuatu, maka ia akan tetap berpegang teguh terhadap keputusan yang telah diambilnya tersebut. Sifat Mia yang begitu idealis ini yang membuatnya merasa shock saat mengetahui Ryan adalah pemilik Prima Gold.

Pada awalnya ceritanya masih menarik, hingga aku masih tergoda untuk cepat-cepat menyelesaikan cerita ini. Namun entahlah, semakin ke akhir cerita, kisah Mia dan Ryan ini sedikit demi sedikit berubah menjadi agak membosankan. Untunglah novel ini mampu dikisahkan dengan lancar.

Jalan cerita dari novel ini termasuk lambat menurutku. Namun saat di akhir layaknya ada roket yang ditembakkan sehingga semua harus selesai. Oke, aku akan membocorkan sedikit spoiler terhadap akhir ceritanya.

Contains some spoilers, so please skip if you don’t want to read the spoiler.

Ryan yang merasa Mia adalah wanita yang tepat untuknya, mencari jalan keluar atas masalah di antara mereka berdua. Mengetahui Mia tidak bisa menerimanya karena ia adalah pemilik dari Prima Gold, pemilik produsen susu formula terbesar, Ryan memilih sebuah keputusan. Keputusan ini adalah menutup Prima Gold. Pengorbanan Ryan ini membuktikan bahwa ia memang serius untuk bisa bersama dengan Mia.

Di sinilah aku merasa akhir ceritanya begitu dipaksakan. Apakah ada seorang pebisnis handal yang begitu gampangnya menutup sesuatu yang selama ini memberikan keuntungan besar baginya? Walaupun Ryan berkata bahwa ia tidak akan begitu saja lepas tangan terhadap mungkin ribuan pekerjanya, namun tetap saja aku merasa keputusan ini … tidak tepat.

Ah entahlah, aku juga bukan pemilik Prima Gold kok >.<

Untuk typo sendiri, aku tidak banyak menemukan kesalahan penulisan hingga untunglah aku bisa menikmati novel ini hingga akhir tanpa harus merasa risih.

In case you forget, Mia, friends don’t kiss.

Menyusui bukan sekedar menyusui. Menyusui bisa menjadi suatu hal yang sangat indah. Seperti ikatan yang sangat istimewa antara ibu dan bayi. Sesuatu yang tidak akan bisa digantikan.

Hakikat seorang ibu adalah perjuangannya yang maksimal untuk memberikan yang terbaik. Dan ASI adalah hak setiap bayi.

Untuk Friends Don’t Kiss, dua bintang untuk jalan ceritanya, dan satu bintang untuk edukasi yang banyak terdapat di dalamnya. Aku berikan tiga bintang untuk Friends Don’t Kiss… ^^



error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This