Judul: Unplanned Love 
Penulis: Jenny Thalia Faurine 
Penerbit: PT Elex Media Komputindo 
Halaman: 297 Halaman 
Tahun Terbit: Cetakan pertama, 2014 
ISBN: 978-602-02-4858-5 
Rating: 3/5 

Sinopsis:
Aruna–penulis terkenal–memiliki sahabat bernama Acintya. Cintya dengan segala kesempurnaan dan kecanikannya, sedangkan Aruna harus menerima pernyataan orang-orang yang menganggap Runa adalah sidekick-nya Cyntia.

Suatu saat, sahabatnya tiba-tiba menghilang seiring dengan tagihan kartu kredit dengan nominal yang cukup fantastis. Runa kelabakan, ia berusaha mencari di mana sahabatnya tersebut, namun hasilnya nihil. Seakan semua itu belum cukup, seorang lelaki bernama Seta mendatanginya dan menyuruh Runa menikah dengannya–sebagai akibat dari Cyntia yang menjanjikan pernikahan padanya namun saat ini menghilang. Jelas saja Runa menganggap Seta adalah lelaki paling waras saat ini. Ia, seorang Philophobia tentu tidak akan mudah menerima lamaran itu. Kalaupun ia takut terhadap hal bernama cinta, setidaknya ia tidak ingin menghabiskan sepanjang hidupnya dengan pernikahan berlandaskan keterpaksaan.

Runa saat ini tengah menggarap novel romance keempatnya di bawah tekanan deadline. Saat itulah, editornya menyarankan Runa untuk berlibur-sekadar untuk menemukan summer fling dan membuat Runa bisa merasakan jatuh cinta agar tulisannya lebih bernyawa. Saat yang tepat ketika dia harus kabur dari kejaran Seta yang sepertinya kurang waras.

—————————————————————————————————————————–

One.. two.. three…
Let’s start with my review! ^^

Pertama kali tahu karya Jenny dari wattpad, walaupun tidak semua karyanya aku baca. Tetap saja lebih enak bacanya dalam bentuk buku yang dicetak XP

Membaca sinopsisnya, terdapat hal yang agak mengganggu, yaitu dua kalimat berikut ini:

Jelas saja Runa menganggap Seta adalah lelaki paling waras saat ini.

Saat yang tepat ketika dia harus kabur dari kejaran Seta yang sepertinya kurang waras.

Apa pada kalimat pertama itu maksudnya lelaki yang paling tidak waras? Kalimat itu masih sedikit rancu menurutku.

Novel ini dibuka dengan prolog yang cukup apik. Tanpa tendeng aling-aling ada seorang lelaki yang mengajak menikah seorang perempuan yang bahkan tidak dikenalnya.

“Menikah dengan saya.”

Si perempuan yang bernama Aruna Maheswari tentu saja menolak lamaran si lelaki. Seta Adhiraya, nama lelaki itu. Seta dengan tanpa rasa bersalah memaksa Runa untuk menikah dengannya.

Runa dilanda kebingungan. Sahabatnya–Acyntia–hilang. Ditambah dengan datangnya beberapa tagihan kartu kredit yang berjumlah cukup besar milik Cyntia. Dan datanglah lelaki itu–Seta–yang memaksanya untuk menikah dengannya menggantikan Cyntia yang sebelumnya sempat menjanjikan pernikahan dengan Seta. Seta ingin menuntut Runa seandainya Runa menolak untuk menikah dengannya.

Runa, seorang penulis yang sedang dikejar deadline, dianjurkan oleh Rangga–editornya–untuk mengambil liburan, guna mencari inspirasi dan mencari pasangannya guna memperdalam naskahnya yang kurang feel-nya.

Runa mengambil liburannya, sekaligus menghindari Seta. Ke manapun.

Anehnya, Seta selalu mengetahui ke mana perginya Runa. Tak disangka Seta pun ikut pergi mencarinya. Runa membeku saat ia tiba di Bandar Lampung dan Seta menemuinya. Lelaki kaku yang terbiasa menggunaka bahasa formal itu mengikutinya hingga ke kota ini. Seta berperilaku seperti seorang stalker yang mengikuti semua kegiatan Runa. Pekerjaannya sebagai seorang pengacara memungkinkannya untuk mendapatkan semua informasi mengenai Runa dan di mana keberadaan Runa saat ini. Hingga Runa merasa jengah dan akan kabur ke Jogjakarta.

Mereka bertemu lagi di bandara Soekarno-Hatta. Runa mengaku ia akan kembali ke Bogor. Namun, Seta tak semudah itu ditipu. Ia tahu Runa akan pergi ke Jogja. Dengan sebuah kode, ia mengisyaratkan pada Runa bahwa ia tahu kota tujuan Runa selanjutnya.

Hati-hati joger oleh-oleh gandrong jangan asal pilih ya?

Yang berarti:

Hati-hati di Jogja ya.

Mengetahui hal itu, Runa langsung membatalkan tiketnya, dan malah pergi ke Bali.

Runa berharap Seta tetap mengira ia akan pergi ke Bali. Harapannya tak terkabul, Seta tetap saja mengejarnya ke Pulau Dewata itu. Masih saja memaksanya untuk menikah dengan si Seta(n), mengganntikan Cyntia. Runa yang lelah selalu saja dianggap sidekick dari Cyntia, jelas saja jengah dan tetap menolaknya. Mendengar Runa yang menolaknya lagi, Seta yang sebelumnya menggenggam tangan Runa, malah memilih untuk memeluk Runa. Pelukan dari seorang pria untuk pertama kalinya dialami Runa. Karena Seta. Bahkan saat Runa bertemu dan pergi ke Jakarta bersama Harsya, mantannya, Seta dengan mudahnya memaksa Runa untuk pergi dengannya. Tujuan awal Runa untuk menulis dan menghindari Seta, jelas-jelas tidak tercapai. Liburan ini hanya mampu memberikan inspirasi saja bagi Runa, namun ia tidak bisa menghindari Seta.

Pun begitu saat Runa pergi ke Solo karena memiliki jadwal workshop kepenulisan di sana. Saat Runa bertemu dengan Leo sang mantan gebetannya, Runa kembali dihadapkan dengan seseorang yang kembali membandingkannya dengan Cyntia. Lalu, datanglah Seta. Tak disangka, Seta malah membelanya. Seta malah membawanya pergi dan menghiburnya. Namun, Seta malah memaksanya untuk mengikuti Seta ke kota Jogjakarta, dan mengaku-aku sebagai tunangannya.

Seta yang kaku meminta bantuan temannya, Reivan, untuk mengajarinya merayu Runa. Dan Seta pun memberikan tiga kejutan untuk Runa. Kejutan pertama, ia membuat pihak hotel untuk memberikan pelayanan room service berupa sarapan lengkap dengan minumannya ke kamar Runa. Kejutan ketiganya adalah Seta menerbangkan banyak balon berwarna-warni dengan pesannya:

Morning, Sunshine. Morning, Aruna!

Di part ini, aku sedikit bingung dengan kejutan kedua yang diberikan Seta pada Runa. Kejutan keduanya apa ya? Kok aku sama sekali clueless terhadap apa yang diberikan Seta pada Runa?

Kesal dengan Seta, Runa pun setuju untuk pergi berdua ke Jogja. Bahkan lelaki itu telah terlebih dahulu menyiapkan tiket bus ke Jogja untuk mereka berdua. Seta si setan berubah menjadi perhatian saat menyadari penyakit maag Runa kambuh. Tapi tetap saja dengan paksaan ala Seta. Ia memberikan Runa roti yang dibawanya. Hingga akhirnya Runa tertidur. Mereka tiba di Jogja saat Runa masih tertidur. Di kota Jogja inilah, Seta mengaku-aku kepada keluarga besarnya bahwa Runa adalah tunangannya. Runa menepis ucapan Seta dan memberitahukan semuanya bahwa ia bukanlah tunangan Seta. Dan Runa pergi keluar rumah dan berniat pergi berjalan entah ke mana. Daffo, salah seorang sepupu Seta, melihatnya dan malah membawa Runa pergi ke Monumen Jogja Kembali atau yang lebih dikenal sebagai Monjali.

Saat Daffo pergi menerima telepon dan tidak kembali, Setalah yang akhirnya muncul. Ia kembali memaksa Runa untuk makan malam dan juga memaksanya untuk berfoto bersama badut.

Di depan rumah Om Toro-keluarga Seta-muncullah Andra-kakak Runa-yang datang dengan tiba-tiba dan menghajar Seta. Andra mengetahui semua rencana busuk Seta. Andra memberitahu Runa bahwa Seta adalah saudara tiri Cyntia, dan membawa Runa pulang ke Bogor.

Di rumah Runalah, Cyntia muncul. Dan semua hal menjadi jelas. Selama ini Cyntia kabur ke Papua–ke tempat Andra bekerja–menghindari Seta. Cyntia tanpa sengaja telah mengetahui rencana jahat Seta yang ingin memperalat Cyntia untuk membalas dendam.

Seta sedari awal sudah berniat jahat dengan jalan menikahi Cyntia. Namun dengan kaburnya Cyntia, ia beralih ingin menikah dengan Runa, sahabat baik Cyntia, untuk menyakiti Cyntia yang besar dalam asuhan ayah dan ibu tirinya. Seta ternyata memiliki dendam mendalam dalam hati. Tujuan akhirnya adalah ia ingin menyakiti sang ayah, Braga Adhiraya. Seta menganggap ayahnya lah yang bertanggung jawab atas kematian sang Ibu. Braga memilih untuk menikahi cintanya-Ibu Cyntia yang telah berpisah dengan sang suami-dan memilih untuk meninggalkan Ibu Seta, sehingga ibunya sakit dan meninggal dunia dalam pelukan Seta.

Tibalah saat bagi Runa dan Seta untuk berpisah. Saat itulah Seta malah menciumnya, tepat di bibir. Ciuman pertama bagi Runa. Membuatnya semakin kesal pada Seta yang selalu bersikap seenaknya.

Lalu, sekali lagi Seta bersikap seenaknya. Ia lagi-lagi memaksa untuk menemui Runa, setelah perpisahan mereka. Runa yang mulai gamang karena kehilangan Seta, memberikan syarat jika Seta mampu menemuinya sebelum pukul tujuh malam tanpa menggunakan kendaraan pribadi pada keesokan harinya, maka Runa setuju untuk menemui Seta setiap hari. Namun ternyata Seta gaga. Runa tidak ingin Seta menemuinya.

Cyntia yang menemukan Runa menjadi lebih melankolis belakangan ini, mengetahui penyebabnya dari selembar foto Runa dan Seta yang dijadikan Runa sebagai pembatas buku. Ia menyarankan Runa untuk kembali menemui Seta, namun Runa jelas menolaknya. Cyntia malah pergi ke apartemen Seta dan memberikan jadwal workshop Runa kepada Seta, agar Seta bisa mengejar Runa. Seta mengambil kesempatan itu.

Tak semudah itu menemui Runa. Awalnya, Seta masih tak bisa menemukan Runa. Ia tak menyerah. Seta mengirimi surel-surel yang berisi perasaannya merindukan Runa. Hingga akhirnya Runa membalas emailnya tersebut, dan kembali memberikan teka-teki sebagai petunjuk di mana Seta bisa menemuinya. 

Di satu bumi dengan dua sukunya dan lambang keagungan adat budaya yang terelakkan kabut maupun ombak. Kalau kamu yakin akan berhasil menemukanku, pergilah mencari fajar di mana tatapan itu bertemu dengan awan yang berjatuhan di atas rambut kita. 

Braga Adhirayalah yang membantu Seta memecahkannya. Ia yang datang menemui Seta untuk meminta maaf, memberi tahu Seta di mana letak pasti dari teka-teki tersebut. Di kota Lampunglah akhirnya Seta menemukan Runa yang terus menunggunya di kota yang bersejarah bagi mereka tersebut. Dan akhirnya Runa setuju untuk bersama dengan Seta. The end.

Ada satu quote dari Aruna yang aku suka:

Bila suatu hari nanti aku diizinkan untuk menulis tentang dirimu, hal apa yang pertama kali akan kutulis tentangmu? Jawabnya hanya satu, tentang tatapan matamu yang mengundang sejuta arti di dalamnya. Akan kuselami hal itu agar aku tahu, kamu butuh aku atau tidak…

Masih terdapat beberapa typo yang aku temukan di novel ini. Juga terdapat beberapa istilah yang digunakan seperti summer fling dan philophobia, namun tidak dijelaskan maksudnya. Memang dengan membaca keseluruhan cerita aku cukup bisa menarik arti sendiri berdasarkan cerita, namun akan lebih baik jika dijelaskan langsung atau diberikan catatan kaki.

Overall, ceritanya cukup unik dengan penuturan Jenny yang cukup lancar dan mengalir. Namun, saat Runa dan Seta memutuskan untuk bersama, menurutku malah cerita ini agak kehilangan feel-nya. Tapi aku tetap suka kok dengan ceritanya…

Aku berikan tiga bintang untuk novel ini… ^^

 

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This