by Anindita Ayu | Nov 15, 2017 | Lifestyle, Thought
Love, love, and love.
Everybody’s talking about love right now.
Berbicara tentang cinta, berarti pula tentang pengorbanan. Banyak pengorbanan dilakukan mengatasnamakan cinta.
Misalnya saja kisah Roro Jonggrang. Tidak ingin diperistri oleh Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang meminta syarat berat untuk dipenuhi. Ia meminta dibuatkan seribu candi dalam satu malam. Tak ingin melepaskan kesempatan mempersunting Roro Jonggrang maka Bandung Bondowoso menyanggupi. Namun, ayam-ayam berkokok setelah 999 candi berhasil dibangun. Merasa kesal dengan tipu daya Roro Jonggrang yang membuat ayam-ayam berkokok sebelum waktunya, Bandung Bondowoso menjadikan perempuan itu arca pelengkap candi-candi yang telah dibangun.
Di kehidupan sehari-hari bahkan kita bisa melihat anak-anak membicarakan cinta versi mereka. Ya, mungkin masih cinta monyet. Namun tetap saja menurut mereka itu cinta. Dengan pergaulan anak zaman sekarang pula, banyak yang telah melewati batas. Berkedok cinta, menjadikan mereka melakukan hal-hal yang belum sepatutnya dilakukan. (Baca juga: Realita Kids Zaman Now, Ada Apa? dan Kids Zaman Now, Kemajuan atau Kemunduran Bangsa?)
Kamu yakin, dialah jodohmu nantinya?
Jika memang benar semua hal diberikan demi cinta, lantas apa cinta itu bersalah?
Bukannya nafsu?
Sebagai manusia, kita dianugerahi fitrah berupa akal dan nafsu. Fitrah menurut Louis Maluf dalam kamus Al-Munjid (1980:120) adalah sifat yang ada pada awal penciptaannya, sifat alami manusia, agama, sunah. Akal dan nafsu tidak bisa dipisahkan.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar-ruum, 30:30)
Pada dasarnya hawa nafsu pun tergantung pada manusianya sendiri, karena fitrah nafsu itu ada dua: menerima atau melakukan kebaikan (taqwa) ataupun menerima atau melakukan kejahatan (fujur). Sedangkan fitrah dari akal adalah senantiasa berpikir. Namun selama ini, kita telah salah kaprah mengartikan bahwa hawa nafsu itu identik dengan pikiran jahat.
Telah menjadi kodrat seorang laki-laki untuk menyukai perempuan. Bahkan banyak laki-laki yang tidak menolak poligami (baca juga: Tentang Poligami, Siapkah jika Suami Menikah Lagi?). Hanya saja dengan diberikannya akal kepada kita, maka kitalah yang memutuskan bagaimana kita akan bertindak dan bagaimana pula kita menyikapi nafsu yang kita miliki tersebut.
Lantas, bagaimana kita menyikapinya?
Manusia dan alam semesta hanyalah ciptaan dari Allah. Kehidupan kita bersumber dari-Nya. Apapun yang telah direncanakan-Nya untuk kita, maka takdir itulah yang akan kita hadapi dan perjuangkan. Sebagai sang maha pembolak-balik perasaan, saat ini dan beberapa detik kemudian perasaan kita bisa berubah. Bagi-Nya, hal ini lebih mudah dari membalikkan telapak tangan.
Jangan mau diperbudak cinta. Hidup kita tidak hanya berkisar di seputaran kenikmatan duniawi saja. Banyak hal yang harus kita perjuangkan di dunia ini. Keluarga misalnya, yang selalu menanti kita di rumah. Jangan sampai kita terfokus pada seseorang dan suatu hal hingga melupakan semua hal lain.
Kehidupan kita bermuara dari-Nya, kawan. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan yang ada. Jika memang yang kamu rasakan itu cinta, maka jadikan ia cambuk penyemangatmu meraih cita-cita. Kejar apapun yang ingin kamu raih namun jangan lupa pada-Nya. Tanpa-Nya, kita bukanlah apa-apa.
Tetap semangat dan terus menjadi dirimu sendiri. Tidak ada orang bisa menolongmu terus-terusan, hanya pada kakimu sendiri kamu bisa berdiri tegak. Karena cinta itu harusnya lillah karena Allah.
Dituliskan sebagai self reminder serta untuk #ODOP #OneDayOnePost #GoodWriterClub #GWC #BermanfaatdenganBlog #BermanfaatdenganSocialMedia
by Anindita Ayu | Oct 15, 2017 | Lifestyle, Thought
“Dek, sebentar lagi kita ML yuk!” kata si adek keempat pada adek kelima sore itu. Kala itu aku baru saja tiba di rumah. Terkejutlah aku, mau marah tapi masih mencoba menahan diri.
“Iya Bang, adek pinjam hp mama dulu,” balas si adek bungsu.
Handphone? Barulah aku teringat, ML itu singkatan dari game Mobile Legends. Untung ngga marah-marah duluan.
Ah, adikku sayang adikku malang. Kalianlah generasi sekarang. Kids zaman now istilahnya.
Pendidikan memang menjadi faktor terpenting pada perkembangan anak zaman sekarang. Katanya sih, pendidikan zaman sekarang jauh lebih baik. Sekali lagi, katanya sih, lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu.
Tidak banyak yang tahu bahwa hanya beberapa hari selepas wisuda, aku menjadi guru tidak tetap di sebuah sekolah menengah kejuruan. Satu setengah tahun lamanya aku berprofesi sebagai seorang guru. Selama berkecimplung itu pula, aku mendapati banyak sekali kenyataan bahwa kids zaman now itu tidak baik-baik saja.
Aku melepas profesi guru sekitar tujuh bulan lalu, namun bukan berarti aku benar-benar melepas sepenuhnya pengawasan terhadap anak-anak zaman sekarang. Seperti beberapa hari lalu misalnya, aku bertemu dengan seorang siswa yang bercerita dengan mirisnya pada seorang penilai.
“Untuk rancangan bangunan yang saya desain ini Pak, kalau di sini cuma diabaikan pemerintah. Saya tidak dianggap. Kalau dibawa ke Pulau Jawa, banyak yang menginginkan desain sana ini. Ini juga ada miniatur jembatan melengkung yang saya rancang dengan skala 1:400. Jembatan seperti ini belum ada di Indonesia Pak. Saya juga berencana membuat desain bandara di atas air seperti di luar negeri. Ini juga kalau memungkinkan tahun depan rancangan saya akan diikutkan lomba sama guru, Pak. Tapi tentu butuh biaya. Kalau biayanya paling banyak sebesar Rp 500.000,- saya ikut. Tapi jika lebih daripada itu, dengan berat hati saya mundur. Jika ada teman saya yang ingin maju, maka akan saya dukung dan bantu dari belakang.”
“Tapi rancangan kamu ini bagus nak. Apa tidak ada yang pernah menggunakan salah satu desain kamu? Dan untuk itu apakah kamu diberikan sejumlah uang? Kalau saya membutuhkan seorang desainer, kamu bisa kan bekerja untuk saya?”
“Ada kepala sekolah yang memakai desain saya untuk merenovasi sekolahnya Pak. Ada juga guru yang memakai desain saya untuk proyeknya. Saya tidak mementingkan uang Pak. Yang penting bagi saya itu, saya bisa belajar untuk jadi lebih baik lagi. Tentu saja saya mau jika bapak perlu seorang desainer.”
Oke, percakapannya tidak persis sama, tapi inti percakapannya kurang lebih seperti itu.

Kids Zaman Now
“Ini juga kalau memungkinkan tahun depan rancangan saya akan diikutkan lomba sama guru, Pak. Tapi tentu butuh biaya. Kalau biayanya paling banyak sebesar Rp 500.000,- saya ikut. Tapi jika lebih daripada itu, dengan berat hati saya mundur. Jika ada teman saya yang ingin maju, maka akan saya dukung dan bantu dari belakang.”
Miris bukan? Seorang anak yang memiliki bakat malah tersia-siakan.
Pernah juga aku mendapati seorang anak diminta orang tuanya sendiri untuk berhenti sekolah. Sebutnya, ayahnya tidak lagi sanggup membiayai sekolahnya. Toh, ia juga tidak pernah serius belajar.
Ada apa dengan kita? Siapa yang harus disalahkan?
Tentu saja, pendidikan seorang anak tidak bisa diserahkan begitu saja pada guru di sekolah. Sejak full day school mulai diterapkan, sebagian besar waktu produktif seorang anak memang dihabiskan di sekolah. Sebut saja mulai dari jam tujuh pagi hingga jam lima sore, tergantung pada sekolahnya. Selama sepuluh jam tersebut, anak-anak disibukkan oleh pelajaran dan berada pada pengawasan gurunya. Akan tetapi, selepas jam pulang sekolah, orang tualah yang mengambil alih tanggung jawab penuh tersebut.
Menurut beberapa anak, sepulang sekolah mereka masih dibebankan dengan tugas-tugas sekolah. Memang akan ada beberapa anak yang membangkang dan tidak peduli dengan tugas sekolah mereka. Di sinilah peran orang tua perlu ditekankan kembali.

Realita Kids Zaman Now
Selama satu setengah tahun yang singkat tersebut, aku belajar banyak hal. Selama itu pula, aku mendapati banyaknya ketimpangan. Siswa dipaksa untuk mempelajari materi yang terlalu berat. Sekolah juga seolah dipaksa untuk memberikan nilai tinggi pada seluruh siswa, sedangkan pada kenyataannya tidak semua siswa sanggup untuk menyerap pelajaran tersebut.
Ada apa? Apa yang terjadi pada dunia pendidikan kita?
Berbicara mengenai kids zaman now, tentu tidak bisa dipisahkan dengan generasi sebelumnya. Bandingkan saja dengan kami, para generasi 90an. Tidak butuh waktu lama teknologi merubah semua aspek kehidupan.
Sumber gambar:
pixabay.com
instagram.com
by Anindita Ayu | Oct 7, 2017 | Lifestyle, Thought, Travel
Hello, everyone! ^^
Kali ini tema tulisan #KEBloggingCollab ga terlalu berat sih. Tapi tetap harus memilih di antara dua pilihan *halah, udah macem orang penting aja XP
Pilihan yang agak susah, secara aku kan diajakin ke mana-mana mah hayo aja. Jika diminta memilih tujuan liburan impianmu, liburan di dalam kota atau ke luar kota, mana yang akan kamu pilih? Apa alasannya? Buatku pribadi, aku akan memilih liburan ke luar kota.
Kenapa?
Karena buatku, bercapek-capek dalam perjalanan menuju kota tujuan itu, akan membuat liburan lebih berasa. Dan setelah perjalan berakhir, akan ada memori yang bisa dikenang lebih lama. Walaupun itu juga berarti sebelum liburan ke luar kota bakalan riweuh sama segala macam persiapan:
Travelmate
Teman dalam perjalanan nih yang harus ditentukan pertama kali, apakah harus solo traveling ataupun bersama teman. Pergi sendiri berarti lebih fleksibel memanajemen waktu, meminimalisir perselisihan saat perjalanan, dan tentu saja lebih bebas. Sedangkan jika bepergian bersama-sama, maka kita bisa berbagi biaya perjalanan, tidak tersasar sendirian (penting banget buat orang yang hobi nyasar seperti aku), ada teman buat diminta tolong fotoin kita dan have fun bareng, namun mungkin akan ada drama di perjalanan. Sesekali perlu loh, traveling sendiri. Semacam me time lah ya, memberi penghargaan pada diri sendiri.
Itinerary
Itinerary ini yang paling rempong. Perlu waktu yang cukup lama untuk menyusun rencana perjalanan. Kadang cukup seminggu, kadang bisa berbulan-bulan tergantung dengan sejauh apa lokasi yang dituju. Pertama, tentukan kota tujuan. Lalu, tentukan juga destinasi yang ingin dikunjungi dan berapa lama di tempat tersebut. Biasanya untuk itinerary ini dibuat dalam bentuk tabel rinci yang berisi: destinasi wisata, waktu perjalanan menuju dan waktu stay di suatu destinasi, serta perkiraan biaya. Semakin jauh perjalanan, maka itinerary harus dibuat serinci mungkin. Namun tidak menutup kemungkinan itinerary harus dirombak saat traveling.

Sumatera Barat, Desember 2016
Daftar barang yang perlu dibawa
Biasanya aku lebih memilih untuk membawa backpack, kecuali dalam keadaan wajib untuk membawa koper. Selain lebih simpel, jika membawa backpack maka secara otomatis hanya barang-barang terpentinglah yang akan dibawa. Anehnya, jika liburan di dalam kota barang bawaanku seringkali lebih banyak dibandingkan liburan ke luar kota.
Perkiraan biaya-biaya
Biaya-biaya esensial dalam suatu perjalanan di sini yaitu: transportasi menuju dan di kota tujuan, biaya makan, penginapan, dan tentu saja sedikit oleh-oleh. Karena biasanya aku menggembel, maka yang harus dihemat adalah biaya menuju ke kota tujuan dan penginapan. Kalau bisa sih cek promo sebelum bepergian, dan jika ada tempat menumpang di kota tujuan, maka jelas aku akan lebih memilih untuk menumpang. Ini juga termasuk salah satu alasan lebih sering bawa backpack, karena seringnya jadi gembel jadi biar tidak tergoda untuk belanja banyak-banyak, baik itu untuk diri sendiri maupun untuk oleh-oleh.

Semarang, September 2016

Yogyakarta, Oktober 2016

Sumatera Barat, Desember 2016

Angkor Wat, Siem Reap Cambodia, Juli 2016

Semarang, September 2016

Jakarta, April 2017

Ho Chi Minh City Vietnam, Juli 2016

Kuala Lumpur Malaysia, Agustus 2016
Eh tapi jangan salah, walaupun aku jarang liburan di dalam kota, Bengkulu tentu tidak kalah keren. Masih banyak tempat wisata tersembunyi yang bisa kita kunjungi. Tapi ya balik lagi ke pernyataan aku selanjutnya, aku lebih suka kalo liburan ke luar kota. Jika hanya liburan di Bengkulu, biasanya aku hanya mengunjungi beberapa teman, beli buku, dan sesekali pergi ke destinasi wisata di sini. Menurutku jika liburan ke luar kota aku bisa lebih menikmati esensi perjalanan itu sendiri: bercapek-capek di perjalanan, dan voila, perjalanannya akan terasa sangat worth it. Namun, ada kalanya liburan sejenak di dalam kota cukup menjadi pelepas lelah dan penat.

Bengkulu Tengah, September 2017

Bengkulu, September 2017

Bengkulu, September 2017 (Nggak, rambutnya ga dimacem-macemin kok. Cuma jadi aneh gegara fotonya diterangkan)
Jadi, liburan selanjutnya pilih mana? Liburan di dalam atau ke luar kota? Atau bahkan mau ke luar negeri?
Foto-foto di atas hanya foto-foto traveling bukan selfie sekitar setahun terakhir yang ada di hp. Sebagian besar masih ada di laptop, tapi dengan keadaan tangan yang tidak memungkinkan mengedit semua gambar, so yeah cuma bisa pake yang di hp aja. Lumayan banyak gambarnya, sekalian pengingat bahwa aku masih punya banyak utang draft traveling yang harus diselesaikan.
Dituliskan untuk #KEBloggingCollab, menjawab tulisan trigger mak Awie di web Kumpulan Emak Blogger:
by Anindita Ayu | Sep 21, 2017 | Lifestyle, Thought
Sejujurnya, waktu ditawarin nulis soal tema ini sama mak-mak KEB yang lain, aku keder duluan. Untukku yang tulisannya belum seberapa ini, ini tema yang berat. Apalagi mak-mak anggota kelompoknya udah nikah semua, kecuali aku. Bahkan riset berhari-hari pun masih ragu sebenernya.
Akhirnya tadi malam aku memutuskan untuk survei kecil-kecilan ke beberapa kalangan. Mulai dari yang jelas pro poligami, yang netral, sampai yang terang-terangan menolak. Mulai dari anak SMA hingga yang udah agak berumur, dari sudut pandang laki-laki dan perempuan. Iya, seniat itu. Demi mendapatkan pendapat orang banyak. Dan ya ngedapetin banyak jawaban, yang frontal ngomongnya pun ada. Bahkan ada yang ngajakin diskusi tapi tunggu bisa ketemu tahun depan. Ya udah basi lah hahaha kan deadlinenya tanggal 20 September. Ini aja udah lewat deadline duh >.<
Poligami [po.li.ga.mi]
n. sistem perkawinan yang membolehkan seseorang memiliki istri atau suami lebih dari satu orang [Kamus Besar Bahasa Indonesia V]
Dalam Islam, seorang laki-laki diizinkan untuk beristri hingga empat orang dalam waktu bersamaan. Jika lebih dari itu maka diharamkan. Dan selalu akan ada pro dan kontra di balik poligami. Kenapa? Karena menurut pandangan awam, poligami merugikan pihak perempuan.
Firman Allah subhanahu wa taala:
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.(QS. An Nisaa: 3)
Seorang suami diperbolehkan untuk menikah lagi, bahkan tanpa persetujuan istri. Tapi, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi jika seorang suami ingin berpoligami tentunya, antara lain mampu berbuat adil; aman dari lalai beribadah kepada Allah; mampu menjaga para istrinya; dan mampu memberi nafkah lahir.
Adil di sini memiliki makna yang sangat luas. Ada banyak aspek yang harus dipenuhi untuk dapat berlaku adil. Poligami yang diperbolehkan ini seperti yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah, yang bagaimana sih?
Baca tulisan mak Aya mengenai poligami ala Rasulullah: Ada Apa dengan Poligami?
Disclaimer: dalam tulisan ini, aku tidak akan menentang pihak-pihak yang menyetujui bahkan menerapkan konsep poligami dalam kehidupan. Aku juga tidak mengatakan yang kontra poligamilah yang benar. Karena bisa dibilang, pengetahuan agamaku masih sangat kurang. Di sini, aku hanya menuliskan pendapatku saja, dengan pembahasan yang tidak terlalu berat.

Sumber gambar: slideshare
Okay, back to topic.
Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan sebuah aplikasi android yang seolah menggampangkan poligami. Pada aplikasi ini, semua orang bisa mendaftar, laki-laki, perempuan, sudah menikah ataupun belum. Sudah cukup banyak orang yang mendownload aplikasi ini, menandakan banyak yang ingin mencari tahu lebih lanjut tentangnya.
Tapi apakah benar aplikasi ini berguna?
Dari beberapa referensi yang aku baca, ada yang malah menyalahgunakannya untuk sex chat. Yang karena banyak alasan malah menjadikan aplikasi ini malah menjurus ke selingkuh yang dihalalkan, cuma untuk sekedar have fun. Lantas apa bedanya dengan aplikasi cari jodoh biasa? Kenalan, suka, jalan. Apa aplikasi ini hanyalah sebuah aplikasi cari jodoh berbalutkan nafas agama, agar laris di masyarakat?
Wallahualam.

Sumber gambar: slideshare
Dari survei kecil-kecilan yang telah aku simpulkan, kebanyakan laki-laki yang diberi pertanyaan, “Apakah berniat untuk poligami?” Maka jawabannya adalah:
Sebagai laki-laki pasti maulah untuk poligami. Siapa sih yang tidak menginginkan beristri lebih dari satu?
Tapi masalahnya kembali lagi kepada pribadi masing-masing. Ada yang menyanggupi, ada yang netral, dan ada yang jelas kalo bisa tidak berniat poligami. Cukup satu istri saja katanya.
Tidak bisa dipungkiri, laki-laki dan perempuan memiliki sudut pandang yang berbeda, cara berpikirnya pun berbeda.
Seks menempati bagian yang terbesar pada otak laki-laki, sehingga cenderung berorientasi pada fisik. Laki-laki tidak mudah mengemukakan perasaannya. Sedangkan pada otak perempuan, bagian seks ini tidak sebesar wilayah pada otak laki-laki, sehingga perempuan cenderung berorientasi pada relasional, cenderung menggunakan perasaan. Perempuan juga cenderung empatik, lebih sensitif, dan lebih peka.
Jika seorang laki-laki ingin menikah lagi, bisakah mereka memenuhi syarat-syarat seperti yang disebutkan di atas?
Kita kembalikan dengan fungsi pernikahan itu sendiri. Untuk apa sih Islam menganjurkan kita untuk segera menikah? Tidak hanya menghindarkan dari berbuat maksiat tentu saja.
Masalahnya adalah, pada masyarakat kita, kebanyakan yang melakukan poligami bukanlah didasari seperti alasan rasulullah untuk menikah lagi. Dikarenakan hawa nafsu untuk memiliki seorang istri yang lebih cantik, lebih bahenol, dan juga maaf, lebih bisa memuaskan suaminya.
Lantas, bagaimana jika alasan suami ingin menikah lagi adalah istrinya tidak bisa memberikan anak?
Nah, ini pertanyaan menohok yang bikin orang-orang berpikir agak lama saat aku tanyai. Bahkan alasan Bung Karno meminta izin menikahi Fatimah pada Ibu Inggit, adalah masalah anak yang belum bisa diberikan oleh Ibu Inggit sebagai istri pertama. Ada juga orang-orang yang aku kenal pribadi, yang memutuskan untuk setia pada pasangannya walaupun tidak juga diberikan keturunan. Jadi, apa jawaban orang-orang ini?
Nantilah, kita liat aja nanti. Belum kepikir kayanya. Ada juga yang menjawab untuk tetap setia.
Terhadap perempuan yang lebih mengedepankan emosi dan perasaan pun aku mengajukan pertanyaan yang sama. Bagaimana jika suami berniat berpoligami? Dan kebanyakan jawabannya adalah:
Lihat dulu, siapa perempuan yang akan dijadikan istri kedua itu. Apakah memang dengan niat tulus membantu ataukah hanya karena hawa nafsu. Sebenarnya ga rela kalo dimadu dan kalo bisa harapannya cuma beristri satu. Tapi mau bagaimana lagi, Rasulullah pun poligami dengan beberapa alasan tertentu.
Dan pertanyaan paling sensitif buat perempuan lah ya, gimana kalo ga bisa punya anak dan suami minta izin menikah kembali?
Ga ada yang mau jawab dan memilih untuk menghindari pertanyaan ini >.<
Sebagai sesama perempuan, setujukah mak-mak sekalian pada poligami? Siapkah jika suami meminta izin untuk menikah lagi?
Kalo aku sih, sejujurnya ga rela. Perempuan mana sih yang mau diduakan? Toh syarat agar suami bisa berlaku adil juga udah berat. Sangatlah susah bisa berlaku adil. Kita sesama perempuan juga lebih ngertilah gimana perasaan perempuan lain yang mungkin harus menahan diri dan merelakan suaminya menikah lagi. Pasti ada sakit yang tdak terucapkan. Tapi untuk nikah aja aku belum siap, apalagi dipoligami XP.
Sharing pendapat kita semua tentang poligami yuk di komentar.. ^^
Dituliskan untuk #KEBloggingCollab kelompok Najwa Shihab, untuk menjawab tulisan trigger mak Aya di web emak2blogger.
Baca Juga: Menelusuri Warisan Sejarah di Bengkulu
by Anindita Ayu | Sep 2, 2017 | Lifestyle, Thought
Pengibaran bendera merah putih selalu mengiringi perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Berbicara tentang kemerdekaan, sebenarnya apa yang dimaksud dengan merdeka? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia V yang dikeluarkan oleh Kemendikbud, merdeka berarti bebas (dari penghambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa.
Sedangkan pengertian bebas adalah lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dan sebagainya dengan leluasa).
Salah satu contoh kebebasan yang menjadi hak masing-masing warga negara adalah kebebasan mengeluarkan pendapat. Kebebasan berpendapat ini terdapat dalam pasal 28 UUD 1945 yang berbunyi, “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-Undang.
Tahun ini, kita sudah memperingati kemerdekaan Indonesia yang ke-72. Sudah bertahun-tahun sejak Undang-Undang yang mengatur kebebasan mengeluarkan pendapat ini disusun. Saat masih masa Orde Baru, ruang gerak masyarakat untuk menggunakan haknya memberikan pendapat sangat terbatas. Setelah rezim Orde Baru ini digulingkan, mulailah babak baru bagi rakyat Indonesia untuk “bebas berpendapat”.
Terutama pada era media sosial, di mana kita dengan gampangnya untuk berbicara, menyampaikan kritik. Cukup dengan jempol, kita bisa menuliskan status di facebook, twitter, instagram, dan beragam medsos lainnya. Kita bisa memanfaatkan platform seperti youtube untuk menyampaikan tafsiran kita melalui video.
Salah satu contoh penggunaaan media social dalam kebebasan berpendapat.
Namun dewasa ini, banyak yang jadi salah kaprah. Kemerdekaan Indonesia dipersembahkan para pejuang dahulu kala, yang memberikan kita hak untuk merdeka memberikan pendapat telah disalahgunakan. Banyak orang dengan kemerdekaan menyatakan buah pikiran ini malah menjadi berlebihan. Dengan gampangnya mereka menyebarkan fitnah, memprovokasi, menjelek-jelekkan orang lain, membully, memposting berita hoax, menyinggung SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan), berkata kasar secara bebas dan menebar kebencian. Banyak yang menganggap bebas berarti infinite atau tak terhingga. Mereka menganggap tidak ada batas pada kebebasan berpendapat.
Kita lupa di balik kemerdekaan berpendapat yang kita punya, selain kita berhak untuk mengeluarkan pikiran secara bebas dan memperoleh perlindungan hukum, kita juga punya kewajiban yang mengikuti dan tanggung jawab yang harus diemban. Kita punya tanggung jawab dan kewajiban untuk menghormati hak-hak dan kebebasan orang lain.
Kita lupa bahwa di balik kemerdekaan dan kebebasan berpendapat ini, ada Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 yang mengatur tentang Informasi dan Transaksi Elektronik serta Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Teknologi yang semakin berkembang jelas membutuhkan aturan. Bukan untuk membatasi kebebasan kita, melainkan karena globalisasi mengharuskan kita memiliki aturan hukum dalam beropini di media elektronik untuk kepentingan bersama.
Bebas berarti merdeka. Merdeka itu bebas. Namun kita lupa bahwa bebas bukan berarti tanpa batas. Media sosial bukan hanya milik pribadi seseorang, media sosial itu milik bersama. Media sosial itu ruang publik, di mana seperti pada dunia nyata, banyak orang yang menggunakannya.
Maka kita harus ingat ada batas-batas dalam kebebasan mengemukakan pendapat, di dunia nyata dan di media sosial. Kita dibatasi oleh kebebasan orang lain untuk juga dapat berpendapat. Kita dibatasi oleh agama dan nilai-nilai sosial yang kita anut. Kita dibatasi oleh hak orang lain untuk menempati ruang publik yang nyaman. Kita dibatasi oleh asas kemanusiaan untuk memanusiakan manusia.
Sebagai contoh, taman kota yang biasa digunakan masyarakat untuk bercengkrama tiba-tiba dirusak oleh sekelompok orang. Apakah kita tidak berhak untuk bersuara karena kenyamanan kita terganggu? Apakah kita tidak boleh menyatakan kritik? Tentu diperbolehkan, selama kita menggunakan etika dan penyampaian yang pantas.
Informasi yang terus datang bertubi-tubi pada era globalisasi menuntut kita untuk cerdas memilah dan menyaringnya. Kemerdekaan dan kebebasan berpendapat memanglah hak setiap orang, namun kemerdekaan dan kebebasan berpendapat harus seiring dengan kewajiban serta pertanggungjawaban yang mengikuti. Jangan sampai yang smart cuma smartphone dan gadget-nya saja. Orangnya harus lebih smart dong..
Dituliskan untuk #KEBloggingCollab kelompok Najwa Shihab, dengan postingan trigger dari Mak Julia: Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
by Anindita Ayu | Jul 8, 2017 | Blogging, Lifestyle, Thought
Setelah sekian lama, akhirnya bisa nulis lagi…
Iya, after a very long time. Padahal hutang bikin postingan udah bejibun banyaknya. Alasannya sih klise, seklise sibuk. Tapi emang bener sih, kesibukan bener-bener menyita waktu, sampai kalo ada waktu tersisa maunya tidur atau istirahat aja. Atau si malas menguasai. Iya, salah aku sendiri sih.
So, mari kita kembali ke topik utama.
Kenapa dari domain gratis berubah menjadi domain berbayar? Kok domainnya ganti? Pake blogspot kan ga bayar? Toh blognya juga masih ecek-ecek kan?
Pertanyaan-pertanyaan itu yang pasti tercetus saat pertama kali tahu blog seorang Anindita berubah dari tadinya hanya menggunakan domain gratisan blogspot.com (aninditaayu.blogspot.com) menjadi domain berbayar .com (aninditaayu.com).
Well, aku akan menjelaskan sedikit tentang hal ini.
Sebenarnya ini bukan hal yang mendadak dilakukan sih. Mengganti domain itu sudah lama ingin dilakukan dan menjadi pertimbangan selama beberapa tahun terakhir, tapi masih maju mundur juga. Ya, selama ini mikirnya takut rugi, ntar udah bayar mahal-mahal dan jarang nulis kan akhirnya rugi. Zonk.
Percuma dong kalo gitu udah bayar mahal untuk beli domain.
Sampai akhirnya sekitar pertengahan Mei kemaren, si mak tiba-tiba ganti domain berbayar. Terus akhirnya jadi kepikiran lagi.
Setelah memikirkan hal ini selama beberapa saat, akhirnya ikut beli ganti jadi domain berbayar juga.
Parahnya, aku bukan sekadar ganti domain aja, tapi malah bayar hosting untuk jangka waktu setahun plus gratis domain setahun juga. Lumayan bikin dompet jebol sih, secara kan ini termasuk pengeluaran tak terduga. *lah, emangnya kapan sih seorang Dita kantongnya berisi?* Dan eng ing eng, ternyata paket hosting yang udah dibeli itu ternyata ga cukup untuk web ini, jadi perlu di-upgrade ke paket hosting di atasnya. Terus akhirnya mau ga mau kenalan sama wordpress.org. Padahal selama ini udah amat sangat terbiasa sama blogspot.
Iya, anaknya nekat emang. Sampe dibilang gila sama si mak.
Padahal sibuk, tapi masih tetep nekad ganti domain dan ganti hosting, terus ekspor dari blogspot ke wordpress.org. Ya walaupun sampai saat ini masih akan melakukan beberapa perbaikan sana sini di web ini sih. Intinya tampilan webnya belum fix, masih banyak yang harus diubah.
Ciyeee yang sekarang udah nyebutnya web, bukan blog lagi. Aku mah apaaa, cuma orang nekat yang sering baper XP
Karena untuk ngurusin web ini udah mesti bayar tuh, jadi mau ga mau harus rajin-rajin nulis. Biar web ini punya kehidupanlah ya. Udah lama ga review juga kan, baca novel aja sekarang seringnya ga sempet huhu *sok gaya, padahal udah lebih sebulan dari tanggal beli hosting tapi belum ada draft yang diposting wkwk*
Cerita untuk wordpress.org ini akan diposting segera *semoga*.
Stay tune!