by Anindita Ayu | Jun 26, 2016 | Lifestyle, Thought
Di rumah, aku lebih senang di kamar aja daripada sibuk nonton tv atau melakukan kegiatan lain. Aku memang lebih nyaman berada di kamarku sendiri yang penuh dengan buku. Memang ada empat rak buku yang menjulang tinggi penuh dengan novel, belum ditambah dengan buku-buku lainnya. Ya kalo kata temen-temen di sini mah kerjaan Dita itu bertelur di kamar >.<
Sebenarnya bisa dibilang waktu berkumpul dan bercerita dengan keluarga itu bisa dibilang sangat kurang sih. Apalagi dalam keluarga kami tidak ada aturan yang mengharuskan kami untuk makan bersama. Siapa yang lapar ya makan. Jadi suasana bulan Ramadhan seperti sekarang ini termasuk momen yang mendekatkan keluarga. Setidaknya kami akan berbuka di satu meja makan yang sama. Satu keluarga besar yang terdiri dari tujuh orang.
Dan aku ingin merenungkan pembicaraan semalam dengan ayahku. Pembicaraan ringan sih. Seperti ini kira-kira pembicaraan tersebut:
Me: Kenapa sih kok kayanya Ayah sibuk banget T (adekku) mau kuliah, perasaan waktu aku mau kuliah dulu Ayah ga sibuk apa-apa. Dulu malah Ayah bilang kalo aku ga lulus SNMPTN (sekarang menjadi SBMPTN), ya udah kita pikirkan nanti.
Ayah: Yuk (Ayuk=kakak, red), belajarlah untuk memahami karakter orang lain. Adekmu itu orangnya beda. Dibentak dikit aja udah nangis. Gimana mau marah?
Me: *diem*
Ayah: Si adek itu sering nangis nanyain gimana kalo ga lolos SBMPTN. Terus harus masuk universitas swasta deket rumah. Jadi sering nanyain ke Ayah, gimana kalo ikut tes ini Yah. Ya Ayah kasih rekomendasi, enaknya gimana. Ya setidaknya jangan dipatahkan semangatnya. Kalo dia mau ambil itu, kasih support. Orangnya juga gitu kan. Beda dengan kamu kalo dimarahi tabiatnya gimana.
Me: Iya, kadang aku malah marah balik >.<.
Ayah: Dari dulu kan maunya T masuk kedokteran. Tapi kan kita tau dia orangnya gimana. Support aja. Diiyakan dia maunya gimana. Kalo otaknya, untuk masuk kedokteran Ayah belom yakin, dan keuangan kita belom sanggup.
Me: Jadi kalo dulu misalnya aku yang mau masuk kedokteran, Ayah beneran bakalan support penuh? Dan kalo aku emang beneran masuk kedokteran gimana?
Ayah: Tapi kan dari dulu memang kamu ga mau masuk kedokteran?
Me: Kalau memang misalnya dulu aku mau masuk kedokteran, apa Ayah mau bayarin aku dengan biaya yang tidak sedikit?
Ayah: *Berpikir panjang, ada keheningan yang memberi jeda* *Kayanya Ayah malah bingung ditanyain balik kaya gitu*
FYI, aku terbiasa dengan didikan kalo mau sesuatu, perjuangkan! Hal yang paling penting adalah sekolah. Di mana aku adalah makhluk nomaden yang kerjaannya pindah sini pindah sana sedari kecil, maka masalah sekolah adalah sesuatu yang krusial. Berbeda dengan adek-adekku yang lahir setelah orang tuaku mulai menetap di satu kota.
Maka mulai dari SD, akulah yang memilih mau sekolah di mana. Ikut daftar, tes sendiri. Dan sebenarnya dari dulu ga pernah punya plan B, karena memang kalo mau sekolah di situ, yaudah, ga kepikiran mau daftar juga di tempat lain. Dan alhamdulillah sih selalu dapet, ga pake harus ngerepotin orang tua juga soal sekolah.
Yang menjadi awal dari pembelajaran mandiri untukku adalah SMA. Iya, waktu mau masuk SMA, udah mulai bosan karena menetap di kota yang sama beberapa tahun. Terus ditawarin si tante sekolah di kota lain.
Akhirnya daftar di dua tempat sih. Pertama kalinya punya plan B nih >.< Daftar di sekolah di kota yang sama dengan ayah, dan satu lagi sekolah di kota tempat si tante tinggal yang memang reputasinya jauh lebih bagus, nomor tiga seprovinsi.
Alhamdulillah dapet dua-duanya. Awalnya diterima di sekolah deket rumah sih, terus ternyata dapet juga di sekolah yang satu lagi. Sebagai makhluk nomaden, tentu aku mutusin untuk ambil sekolah di kota lain itu. Pindah rayon istilahnya. Tanpa harus ngerepotin ayah buat urusan sekolahku.
Ada kejadian lucu sih soal mau masuk SMA ini. Karena teman-temanku tahu bahwa aku melepas sekolah di deket rumah, ada seorang teman yang ga diterima minta jatah kursi aku di sekolah itu. Ya mana aku ngertilah yang kaya gitu. -.-
Terus pas mau masuk kuliah, bingung mau ambil apa. Sejujurnya mau ambil Sastra Jepang. Tapi aku tau banget si ayah ga bakalan ngizinin. Dan awalnya juga mau daftar di sekolah yang jauh. Eh pas waktu pendaftaran udah deket, ga dibolehin jauh-jauh banget. Setelah diselingi dengan drama, akhirnya daftar SNMPTN (sekarang SBMPTN) juga sih. Alhamdulillah lulus lagi pilihan pertama. Padahal ga begitu ngoyo kaya orang lain sih. Alhamdulillah emang udah rezeki kan ya.
Padahal emang kata Ayah kalo ga lulus, ya udah ntar aja dipikirin -.-
Sebenarnya, aku ngerti kalo soal sekolah, si ayah emang paling percaya sama aku. Ga pernah ngeraguin lah istilahnya. Ya aku dari SMA emang sekolah jauh dari orang tua kok ya, tapi ga pernah macem-macem. Ya emang segitu lurusnya >.<
Tapi kadang heran juga sih. Ayah ga pernah sestrict itu sama T dan adek-adekku yang lain. Santai aja ngedidiknya. Kalo aku dulu boro-boro. Ga belajar aja kena marah. Lah ini si adek-adek kerjaannya tiap hari main, nonton, jajan, makan, tidur, repeat.
Susah emang jadi anak pertama.
Dan Ayah ini termasuk orang tua yang punya pemikiran anak pertama itu harus bisa jadi contoh.
Apalagi anak pertamanya ini kerjaannya di kamar aja baca buku. Belom tau aja si Ayah hal gila apa aja yang direncanain anaknya ini. Ah, biarkan sajalah 😛
by Anindita Ayu | Dec 20, 2015 | Lifestyle, Thought
 |
| Sumber gambar: http://catatansikecebong.blogspot.com |
Dan malam ini, tiba-tiba kangen duduk di kursi panjang dekanat.
Kangen ngobrol sama temen di kursi panjang itu sambil nungguin dosen buat bimbingan. Kangen duduk termenung sendiri dengan mata sembab penuh lingkaran hitam di sana. Kangen akan penantian panjang demi bisa ketemu dosen pembimbing. Kangen skripsi.
Sigh, hujan emang selalu mampu bikin kangen ya. Kangen apapun itu, kemungkinan besar disponsori oleh hujan *tentu saja saat musim hujan aja yak XP*
Kangen dengan tugas kuliah yang seabrek-abrek. Kangen dengan masa jadul awal-awal perkuliahan, di mana kayanya aku orang paling ga macam-macam :p Kangen dengan berbagai macam tuntutan kuliah di TI. Kangen saat-saat deadline dengan tugas yang bertumpuk sampe harus ngungsi ke mana-mana demi menyelesaikan tugas. Kangen dengan rutinitas yang seringnya sama saat lagi banyak tugas: masuk kuliah jam delapan pagi, selesai jam dua lewat, istirahat makan salat, lanjut bikin tugas sampe tengah malam, sampe pagi malah terkadang, baru bisa pulang ke kosan udah subuh atau pagi. Langsung lanjut siap-siap masuk kuliah lagi karena udah mau masuk jam delapan. Tidur dan makan menjadi dua hal yang sama sekali ga teratur. Kangen masa-masa penuh deadline itu.
Kangen kumpul-kumpul sama mak-mak dan bujang-bujang TI ’10 Gelenjid. Kangen dengan berisiknya. Kegilaannya. Tingkah lakunya.
Kangen jadi anak kuliahan.
Kangen kosan. Kalo orang lain maunya pulang ke rumah terus, aku malah lebih suka di kosan. Lebih nyaman dengan semua peraturan yang kubuat sendiri. Kangen masa-masa di mana aku menumpuk banyak sekali buku yang terkadang melebihi kemampuanku membaca. Kangen ngelakuin hal-hal gila *masih dalam artian positif* di kosan bareng anak-anak kosan. Kangen ngumpul-ngumpul sambil saling minta film. Kangen sering makan mie instan saat uang mingguan udah abis karena beli buku. Kangen sembunyri dari dunia. Kangen jadi anak kosan.
Kangen saat harus jadi wifi hunter demi mengirit anggaran beli kuota.
Kangen pake baju putih abu-abu. Kangen pake aksesoris seabrek. Gelang, anting, jepit, bando, pita, dan lain-lain. Kangen pake baju batik seragam sekolah. Kangen jadi anak SMA.
Kangen dua kota yang menjadi tempat persinggahan selama delapan tahun.
Kangen jadi anak kecil lagi. Dengan berbagai tingkah polos tanpa harus memikirkan dunia orang dewasa dengan berbagai intrik di dalamnya. Kangen sama tingkah innocent-nya.
Kangen traveling. Kangen backpacking. Kangen jalan-jalan.
Dan yang terakhir, kangen Ibu. Harus bagaimana lagi harus kujelaskan? Kangen Ibu. Setiap saat, setiap waktu. Kangen Ibu, selalu…
by Anindita Ayu | Dec 19, 2015 | Lifestyle, Thought
Semua hal terjadi karena sebuah alasan.
Bukan karena kebetulan.
Bisa jadi kejadian kita bersenggolan dengan orang yang tidak kita kenal di jalan itu menjadi suatu pertanda. Mungkin kita akan kembali bersinggungan dengan orang itu di lain hari. Atau bisa jadi kejadian itu terjadi hanya karena kita tidak awas, sehingga dengan kejadian itu kita bisa lebih memperhatikan keadaan sekitar.
Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di dunia ini. Mungkin di hari esok kita akan bertemu dengan seseorang yang pernah kita sakiti hatinya. Atau orang yang kita temui kemaren akan menjadi penting bagi kita hari ini, misalnya.
Mungkin saja seseorang yang tersenyum pada kita di tepi jalan hari ini menjadi penolong kita di masa depan. Atau kemungkinan terburuk, orang tersebut bisa saja merencanakan sesuatu yang jahat kepada kita. Who knows?
Keputusan kecil yang kita ambil hari ini akan menentukan jalan hidup kita nantinya. Sekecil apapun itu, bahkan mungkin sekedar memutuskan akan makan apa dan di mana. Bisa jadi saat kita makan nanti alergi kita kumat, lantas penyakin astma yang selama ini tidak pernah kambuh, menampakkan dirinya. Atau mungkin lokasi restoran yang kita pilih terlalu jauh sehingga membuat kita terlalu memforsir diri. Dan hasilnya? Kita menjadi kelelahan. Sesederhana itu.
Mungkin kamu gagal dalam sebuah tes karena kamu terlalu santai sehingga terkesan menyepelekan. Mungkin kamu tidak teliti dalam sesuatu hal sehingga berbalik menjadi bumerang yang memberatkanmu. Mungkin kamu menjadi gugup karena itu adalah tes pertamamu. Maka jadikan itu pelajaran. Bisa saja Allah menjadikan kamu gagal agar kamu bisa belajar. Mungkin Allah ingin menjadikan tes tersebut menjadi pengalaman pertamamu. Mungkin saja Allah sudah menyiapkan sederet rencana untukmu. Untuk masa depanmu. Kamu bisa saja mengharapkan sesuatu, tapi Allah tau apa yang terbaik untukmu.
Maka hadapilah. Jangan takut. Garisan takdir kita telah ditentukan sejak kita masih berada di perut ibu. Bahkan gurat tangan kita tidak ada yang sama. Rezeki sudah ada yang mengatur. Serahkan saja semua kepada Allah. Pasrahkan diri. Tapi jangan pernah menyerah, teruslah berjuang.
…now I know that everything happens for a reason. Even though sometimes the reason is I am stupid and I made bad decisions.
I Remember You – Stephanie Zen
-Tulisan ini dibuat karena tiba-tiba pengen nulis ini. Juga sebagai penyemangat diri karena kegagalan pertama wawancara psikologi dan tes psikologi tertulis-
by Anindita Ayu | Aug 5, 2015 | Thought, Travel
 |
| Sumber gambar: http://www.aluxurytravelblog.com |
“The world is a book and those who do not travel read only one page.” – Augustine of Hippo
What does traveling means to me? A lot. Traveling berarti banyak hal untukku.
1. Sebagai sarana pembuktian diri
“Once a year, go someplace you’ve never been before.” – Dalai Lama
Bagiku, traveling berarti aku menantang diriku sendiri, apakah aku berani atau tidak untuk keluar dari zona nyaman. Apakah aku berani untuk membuat diriku mencoba sesuatu yang baru. Sekaligus menantang diriku apakah aku bisa lepas dari orang tua, melepas semua fasilitas yang biasanya aku dapatkan.
2. Sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah
“Travel makes one modest. You see what a tiny place you occupy in the world.” – Guztave Flaubert
Traveling berarti menjelajahi bagian dunia yang baru. Semakin banyak kita melihat dunia, kita akan semakin menyadari bahwa kita ini kecil, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan semua ciptaan Allah yang lain. Tidak ada gunanya untuk sombong dan membanggakan diri kita sendiri. Karena semakin kita membuka mata kita, semakin kita ingin mendekatkan diri kepada Allah.
3. Sebagai sarana untuk melepaskan penat
Tak bisa dipungkiri, kehidupan kita sehari-hari seringkali membuat tingkat stres kita menuju ke level tertinggi. Sensasi suasana baru yang kita rasakan saat pergi jauh untuk traveling dapat membuat kita dapat melepaskan penat yang telah menjerat kita selama ini.
4. Sebagai sarana pendewasaan diri
Bepergian ke suatu tempat yang tidak kita kenal sebelumnya, membuat kita mau tidak mau harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Kita harus bisa menurunkan ego yang tinggi. Traveling juga dapat membuat kita menginstropeksi diri kita sendiri, memikirkan apa saja yang sudah kita lakukan, apa saja yang sudah kita dapatkan selama ini. Dengan traveling, aku bisa menemukan diriku, siapa aku, dan ingin jadi seperti apa aku nantinya.
5. Sebagai sarana mengenal teman
Saat kita melakukan traveling bersama teman, kita akan dapat melihat seperti apa teman kita itu yang sebenarnya. Dalam perjalanan jauh, apalagi dengan backpacking, di saat kita kelelahan, kita dapat menemukan apakah teman kita mau membantu kita, ataupun tak acuh pada kita. Untuk menemukan sifat asli teman kita ini lah, traveling merupakan cara yang pas.
6. Sebagai sarana belajar budaya baru
“Traveling – it leave you into speechless, then turns you into a storyteller.” – Ibn Battuta
Ini adalah salah satu makna traveling yang sangat aku sukai. Belajar bahasa dan budaya baru, pasti akan kita dapatkan dari sebuah perjalanan. Berpetualanglah, maka kau akan menemukan jutaan hal baru yang tak pernah kau temukan sebelumnya.
Apa makna traveling untukmu? ^^
by Anindita Ayu | Aug 5, 2015 | Lifestyle, Thought
 |
| Sumber gambar: adytyakurniawan.files.wordpress.com |
Percakapan tadi malam mengenai dunia kerja antara aku dan temanku hingga saat ini masih terpikirkan olehku.
Upe: Anin, nanti kalo udah kerja, udah punya uang sendiri, pikiran kita akan lain. Akan ada saatnya kamu akan selalu berpikir untuk mendahulukan kepentingan adik-adikmu.
Yeah, aku sudah merasakannya dari awal kuliah. Saat teman-teman yang lain baru merasakan indahnya dunia, belanja sana belanja sini, aku mulai berpikir kebalikannya.
Aku adalah seorang anak sulung yang mempunyai lima orang adik, dengan jarak di antara kami yang cukup berjauhan. Adik pertamaku lahir setelah aku berumur enam tahun, diikuti dengan kelahiran adik-adikku yang berikutnya.
Jarak kami yang berjauhan ini membuat aku menjadi satu-satunya anak yang ‘dilepas duluan’. Saat aku baru masuk kuliah saja, adik pertamaku baru masuk ke bangku SMP. Dengan karakternya yang tidak berani untuk meminta segala sesuatu ke orang tua, otomatis aku yang menjadi tempat meminta. Sedangkan aku masih berstatus mahasiswa dan anak kosan yang jauh dari orang tua dengan uang jajan yang pas-pasan. Untuk makan saja terkadang masih harus memutar otak untuk tidak terlalu boros, apalagi karena hobiku membeli buku. Untuk jajan sini jajan sana, memang sesekali masih sanggup, tetapi seringkali setelahnya aku malah terpikir akan keluargaku.
Seringkali saat aku ingin membeli sesuatu, aku malah berbalik untuk membelikan sesuatu yang lain untuk adikku.
Am I weird?
Inikah yang dinamakan proses menjadi dewasa?
by Anindita Ayu | Aug 4, 2015 | Lifestyle, Thought
 |
| Sumber gambar: http://asalaily.blogspot.com/ |
“Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. Kalau pindah diidentikkan dengan kepergian, maka kesedihan menjadi sesuatu yang mengikutinya… Padahal, untuk melakukan pencapaian lebih, kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan.”
Manusia Setengah Salmon – Raditya Dika
Tanpa terasa, aku sudah berada di penghujung masa kuliahku. Berada selama hampir lima tahun di kota ini, bukan tanpa arti. Banyak suka dan duka yang sudah aku alami.
Aku akan pindah. Lagi dan lagi. Sedari kecil jika dihitung-hitung aku sudah mengalami sembilan kali perpindahan. Dan perpindahanku kali ini akan menjadi perpindahan untuk kesepuluh kalinya. Kepindahan ke tempat tinggal orang tuaku, dari kamar kosan yang selama dua tahun terakhir menjadi tempat persembunyian ternyamanku.
Kamar kosan yang menjadi saksi mata bagaimana kehidupanku selama ini berlangsung. Tempat yang menjadi saksi mata akan kegilaanku terhadap buku, tempat persembunyian terbaik di kala membutuhkan perlindungan, tempat beristirahat ternyaman setelah lelah terhadap perkuliahan, tempat membuat tugas yang seabrek-abrek, dan yang terakhir: tempat yang menjadi saksi dan bukti nyata bagaimana stresnya aku dalam pembuatan skripsi.
Pindah bukanlah hal yang mudah. Bukan hanya harus mengepak barang-barang, merapikan barang yang masih dibutuhkan dan membuang barang yang tidak berguna. Bukan hanya harus memikirkan bagaimana caranya memindahkan buku-buku milikku yang sudah sangat banyak. Tapi juga menata hati. Menutup mata akan rasa. Membuang kecewa yang pernah ada. Menerbitkan asa. Menciptakan luka. Berdamai dengan rasa kehilangan.
Pindah berarti pergi. Pindah akan selalu membawa kenangan. Kenangan manis dan pahit yang dapat tiba-tiba menyusup ke dalam pikiran kita.
Pindah berarti membuat memori baru. Menjadi bagian dari lingkungan baru. Menghadapi orang-orang baru. Membuat kebiasaan-kebiasaan baru.
But, we need to move, all of us.
Kita semua perlu pindah. Dalam perpindahan, kita akan berpindah dari zona nyaman kita selama ini. Menuju tempat baru yang mungkin pernah kita tempati, tapi bisa dipastikan akan terasa berbeda. Tanpa perpindahan, kita akan berjalan di tempat. Datar.
Pindah ke rumah orang tuaku berarti kembali ke kota kecil. Kembali ke rumah yang bahkan dalam delapan tahun ini hanya menjadi tempat persinggahan.
Tapi bukan berarti aku tidak senang dengan perpindahanku. Juga ada rasa excited menghadapi perpindahan ini. Kembali ke rumah orang tua berarti akan berkumpul dengan keluargaku. Kembali bisa berleyeh-leyeh tanpa harus memikirkan hal lain.
Semoga perpindahanku kali ini juga hanya menjadi tempat persinggahan.
Dan semoga perpindahanku nanti bukanlah perpindahanku yang terakhir.
And let the story begin.