Sumber gambar: adytyakurniawan.files.wordpress.com


Percakapan tadi malam mengenai dunia kerja antara aku dan temanku hingga saat ini masih terpikirkan olehku.

Upe: Anin, nanti kalo udah kerja, udah punya uang sendiri, pikiran kita akan lain. Akan ada saatnya kamu akan selalu berpikir untuk mendahulukan kepentingan adik-adikmu.
 
Yeah, aku sudah merasakannya dari awal kuliah. Saat teman-teman yang lain baru merasakan indahnya dunia, belanja sana belanja sini, aku mulai berpikir kebalikannya. 
 
Aku adalah seorang anak sulung yang mempunyai lima orang adik, dengan jarak di antara kami yang cukup berjauhan. Adik pertamaku lahir setelah aku berumur enam tahun, diikuti dengan kelahiran adik-adikku yang berikutnya.
 
Jarak kami yang berjauhan ini membuat aku menjadi satu-satunya anak yang ‘dilepas duluan’. Saat aku baru masuk kuliah saja, adik pertamaku baru masuk ke bangku SMP. Dengan karakternya yang tidak berani untuk meminta segala sesuatu ke orang tua, otomatis aku yang menjadi tempat meminta. Sedangkan aku masih berstatus mahasiswa dan anak kosan yang jauh dari orang tua dengan uang jajan yang pas-pasan. Untuk makan saja terkadang masih harus memutar otak untuk tidak terlalu boros, apalagi karena hobiku membeli buku. Untuk jajan sini jajan sana, memang sesekali masih sanggup, tetapi seringkali setelahnya aku malah terpikir akan keluargaku.
 
Seringkali saat aku ingin membeli sesuatu, aku malah berbalik untuk membelikan sesuatu yang lain untuk adikku.
 
Am I weird?
 
Inikah yang dinamakan proses menjadi dewasa?

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This