Warisan Sejarah Rumah Bung Karno

 

Bulan Agustus belum lama berlalu. Bahkan di beberapa sudut kota masih terpajang beberapa atribut sisa perayaan kemerdekaan negara kita tercinta, Indonesia.

Berbicara mengenai kemerdekaan berarti tidak terlepas dari sejarah. Kemerdekaan bukanlah sesuatu yang kita terima dan kita dapatkan begitu saja. Indonesia telah begitu lama terjajah, menjadikan para pahlawan kita mengorbankan setiap keringat yang tercucur demi membebaskan NKRI. Kemerdekaan ini kita dapatkan dengan penuh perjuangan, dengan setiap pengorbanan yang telah diberikan oleh pahlawan-pahlawan yang telah berjuang sekuat tenaga.

Lantas bagaimana kita membalas dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia?

Bung Karno dalam salah satu pidatonya mengatakan JAS MERAH, yang berarti “Jangan Lupakan Sejarah”.

Warisan-warisan peninggalan sejarah kita tersebar di seluruh Indonesia. Ada beberapa warisan sejarah di Bengkulu, dua di antaranya adalah Rumah Pengasingan Bung Karno dan Benteng Malborough.

  1. Rumah Pengasingan Bung Karno

Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno atau yang biasa disebut sebagai Bung Karno pernah diasingkan di Bengkulu. Dalam perjuangannya merebut kemerdekaan Indonesia, Bung Karno perah ditahan di penjara Banceuy dan Sukamiskin, Bandung. Lalu Beliau juga pernah dikucilkan ke Ende, Nusa Tenggara Timur; Bengkulu; serta Muntok, Bangka Belitung.

Warisan sejarah di Bengkulu yang ditinggalkan beliau adalah Rumah Perasingan Bung Karno. Di rumah ini, Bung Karno diasingkan ke Bengkulu guna memadamkan kevokalannya dan karena aktivitas-aktivitasnya dianggap dapat membahayakan kepentingan pihak Belanda pada saat itu, setelah sebelumnya dikucilkan ke Ende.

Rumah Pengasingan Bung Karno ini terletak di Jalan Jeruk, yang sekarang telah berganti nama menjadi Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu

Walaupun tujuan awal Bung Karno dikirim ke Bengkulu itu untuk diasingkan, namun kisahnya tidak hanya sampai di situ. Kegigihannya dalam mewujudkan kemerdekaan bagi rakyat Indonesia, menjadikan ia tidak tinggal diam. Walaupun ia dibuang ke Bengkulu yang pada masa penjajahan masihlah wilayah terpencil di ujung Sumatera, justru di Bengkulu Bung Karno bertemu dengan Fatmawati, anak perempuan dari tokoh Muhammadiyah Bengkulu, Hasan Din. Melalui Hasan Din, beliau mendalami agama Islam.

Bung Karno sudah memiliki seorang istri saat itu, yaitu Ibu Inggit. Namun karena Ibu Inggit tidak dapat memberikannya seorang anak, maka Bung Karno meminta izin untuk menikahi Fatmawati namun Ibu Inggit malah meminta cerai.

Di rumah pengasingan Bung Karno ini, bisa kita lihat warisan-warisan Bung Karno, seperti koleksi buku-buku, foto-foto Bung Karno saat di pengasingan, perabotan rumah tangga seperti meja dan kursi, ranjang besi, dan sepeda tua peninggalan beliau. Koleksi buku inilah yang menemani Bung Karno selama masa pengasingan di Bengkulu.

Warisan Sejarah Rumah Bung Karno

Rumah Bung Karno ini juga memiliki halaman yang cukup luas. Oh iya, ada satu rumor yang beredar pada masyarakat Bengkulu. Jika kita mencuci muka di sumur awet muda yang terletak di bagian belakang dari Rumah Pengasingan Bung Karno ini, maka katanya kita akan enteng jodoh dan tetap awet muda.

Warisan Sejarah Rumah Bung Karno

 

2. Benteng Marlborough

Selain Rumah Pengasingan Bung Karno, warisan sejarah di Bengkulu adalah Benteng Marlborough. Posisi kota Bengkulu yang dikelilingi oleh pantai dan laut, ternyata ada sebuah Benteng yang terletak tak jauh dari Pantai Tapak Paderi.

Warisan Sejarah Benteng Marlborough

Benteng yang sering disebut sebagai Benteng Malabero oleh masyarakat sekitar ini merupakan peninggalan Inggris. Benteng ini dibangun sebagai sarana pertahanan, perlindungan, juga sebagai tempat sarana perdagangan. Benteng Marlborough ini merupakan benteng terbesar yang pernah dibangun Kolonial Inggris di Asia Tenggara.

Warisan Sejarah Benteng Marlborough

Benteng Marlborough dibangun dengan konsep megah. Memang Benteng Marlborough ini terlihat sangat megah dan besar. Benteng inilah yang menjadi saksi bisu sejarah panjang penjajahan Belanda dan Inggris di Indonesia. Pada awalnya, benteng ini dibangun untuk kepentingan militer. Namun, akhirnya benteng Marlborough ini juga digunakan untuk perdagangan dan pengawasan jalur perdagangan yang melewati Selat Sunda.

Lokasinya yang terletak di pinggir pantai namun memiliki ketinggian yang jauh berbeda membuat Benteng Marlborough memiliki view pantai dan laut yang indah. Hal ini menjadikan Benteng Malabero ini menjadi salah satu tujuan wisata masyarakat Bengkulu. Hei, siapa yang bisa menolak pemandangan birunya hamparan air laut dan pantai yang landai lagi panjang?

Warisan Sejarah Benteng Marlborough

Warisan Sejarah Benteng Marlborough

Bukan hanya dua ini saja warisan sejarah di Kota Bengkulu. Sebut saja Masjid Jamik, yang direnovasi langsung oleh bapak proklamator Indonesia; Kampung Tionghoa; Thomas Parr Monument; Rumah Fatmawati; Makan Panglima Sentot Ali Basya; Kantor Pemerintahan Thomas Stamford Raffles.

Rumah Pengasingan Bung Karno dan Benteng Marlborough ini berada dalam naungan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi.

Warisan Sejarah di Bengkulu ini hendaklah kita jaga dan letarikan, agar tetap bertahan hingga ke anak cucu kita kelak. Walaupun arus globalisasi sudah tidak bisa lagi kita bendung, namun sejarah telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia, hingga peninggalan dan warisan-warisan budaya ini haruslah mendapatkan fokus dan perhatian kita semua untuk tetap mengenang perjuangan para pahlawan kita.

Kalau bukan kita, lantas siapa lagi?

Foto kredit: teman-teman blogger

 

Baca juga: Kemerdekaan dan Kebebasan Berpendapat

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This