-Tulisan ini sudah tersimpan di draft sejak 15 Mei 2016. Sepertinya saat itu dituliskan dalam keadaan kesal pada seseorang. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung pihak manapun.-

Ada seseorang yang bilang padaku, untuk apa sih aku punya keinginan besar untuk menjelajah? Toh cuma ngehabisin uang. Lebih baik nikah aja. Iya, yang bilang begitu adalah orang yang seumur hidupnya tinggal di satu tempat yang sama, di sebuah kota kecil yang semua serba terbatas. Juga dengan keseharian yang begitu berulang dan monoton.

Dan yang langsung terpikir olehku adalah: semudah itukah kamu berpikir bahwa menikah adalah jawaban dari semua problem yang ada?

Apakah dengan menikah, menyerahkan jiwa dan raga kepada seorang suami, tidak akan ada masalah baru jika tanpa adanya persiapan yang matang?
 
Jika selama ini kamu tidak pernah melihat dunia, haruskah kamu memaksa orang lain untuk mengalami nasib yang sama denganmu?
 
Menjadi seperti kamu: seorang budak rumah tangga, dipaksa mengurus anak, suami, rumah, sekaligus bekerja, sementara suamimu hanya ongkang kaki tak mencari nafkah seolah tidak bersalah?
 
Lantas, untuk apa selama ini ada pepatah yang menganjurkan kita untuk merantau, mencari ilmu setinggi-tingginya? Mengapa banyak orang yang menyarankan kita untuk pergi jauh menjelajahi dunia?
 
Ataukah pikiran kamu sebegitu sempitnya hingga sampai akhir hayat pun kamu ingin pasrah dengan keadaan?
 
Tidak, aku tidak ingin menjadi orang yang seperti itu. Aku ingin melihat dunia. Aku ingin belajar banyak dari tempat-tempat baru yang sebelumnya belum pernah aku kunjungi. Aku ingin mencoba memetik hikmah dari perjalanan-perjalanan yang aku lakukan.
 
Dunia tidak selebar daun kelor, kawan. Bumi ini luas. Begitu banyak tempat yang bisa anda jelajahi. Begitu banyak tempat yang bisa kamu jadikan pelajaran.
 
Walaupun untuk bisa pergi itu dibutuhkan pengorbanan.
 
But that is worth it.
 
Setiap langkah yang kamu ambil, setiap perjalanan yang kamu tempuh, akan menjadi sebuah kenangan manis yang bisa kamu simpan di relung hati paling dalam.
 
Perjalanan itu bisa membentuk karakter. Kamu juga bisa menemukan teman-teman baru yang sebelumnya tidak pernah kamu bayangkan.
 
Bahkan jika memang aku harus pergi sendirian, aku ucapkan basmallah, aku berani pergi sendiri.

Aku tidak sabar untuk kembali menjelajah.
 

Tidakkah kamu mau?

 

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This