Sumber gambar: http://fearbuster.com

Ini tulisan yang ga tau ujung pangkalnya kenapa, tiba-tiba menuntut untuk dituliskan. Aneh sih menurutku, tapi berhubung udah lama banget ga pernah nulis lagi, jadi harap dimaklumi ya.. ^^

Cerita ini juga insya Allah bakalan dipost di salah satu situs lain.

Enjoy! 

————————————————————————————————————————
 
Ia terduduk di kursi panjang bawah pohon rindang di pinggir jalan. Matanya terpejam dengan wajah pucat seputih kertas. Sudah lima belas menit berlalu dan ia masih tak bergerak. Diam layaknya tak bernyawa.

Thalita nama wanita itu. Aku tak begitu mengenalnya. Seringkali ia terlihat dari warung yang biasa aku jaga. Ia biasa muncul di waktu dan tempat yang sama setiap hari. Entah apa yang ia pikirkan. Kelakuannya yang begitu ganjil seakan mengundang rasa penasaranku.

Aku mengetahui namanya dari beberapa pelanggan setia warungku. Tak ada yang benar-benar mengetahui siapa ia sebenarnya. Semua orang hanya mengetahui nama dan di mana ia tinggal. Kelakuan anehnya itu sudah lama tak diacuhkan warga.

Hari ini rasa penasaranku begitu membuncah, membuatku tak sadar melangkahkan kaki ke arahnya. Aku memberanikan diri untuk duduk di sampingnya. Lebih dari sepuluh menit aku termangu melihatnya dan ia masih dalam posisi yang sama. Hingga ia membuka mata dan terkejut mengetahui ia tak sendiri di sini.

Ia memilih untuk melihat ke depan. Aku mencoba mengikuti arah pandangnya. Jalanan tampak seperti biasa, cukup ramai di sore hari seperti hari ini. Aku mencoba mencari sesuatu yang mungkin menjadi fokus perhatiannya, namun gagal. Aku tak mendapati adanya satu hal pun yang bisa membuatku begitu larut seperti dirinya. Sorot matanya sendu, tampak bayangan hitam yang begitu jelas di bawah matanya. Sebenarnya ia cantik, masih nampak sisa-sisa kecantikan yang tersembunyi di balik kesedihan yang selalu menyelimuti wajahnya. Bajunya lusuh, seolah ia tak peduli dengan apapun yang ia kenakan.

Aku mencoba berani mengenalkan diri. Ia tampak terkejut mendapatiku berbicara dengan raut wajah yang agak cengengesan. Mendapati tingkahku, ia malah tertawa lebar. Aku tak mengerti sungguh.

Tiba-tiba semua menjadi sunyi. Jalanan lengang, tak ada satu kendaraan lalu lalang. Tak ada warga yang terlihat, padahal saat sebelum aku menghampiri wanita ini, masih banyak warga yang datang silih berganti dari dan menuju warungku.

Kurasakan sesuatu menggerogoti jantungku. Sakit sekali rasanya. Jantung ini serasa dipelintir dan dicabut paksa. Lalu aku melihat jantungku berada di tangannya. Tiba-tiba terdapat lubang menganga di dadaku, tempat ia mencabut jantungku tadi. Darah mengalir tanpa berhenti dari luka yang terbuka. Aku meringis kesakitan, tak menyangka.

Kesadaranku mulai hilang. Ia tertawa keras sekali. Langit bergemuruh dan rentetan petir saling menyambar. Alam laksana marah.

“Akhirnya ada manusia bodoh yang mau menjadi mangsaku lagi setelah sekian lama, haha. Aku bisa kembali muda lagi,” serunya gembira.

Baju yang ia kenakan seketika berganti dengan setelan hitam dan jubah panjang. Tidak lupa dengan tongkat yang menopang berat tubuhnya. Tiba-tiba ia menarik wajahnya dengan mata menyalang. Wajah yang tadinya pucat tak berdarah itu digantikan dengan seraut wajah yang selama ini sering kupandangi dalam bingkai foto di rumahku.  Wajah dari seseorang yang selama ini selalu aku rindukan, wajah seseorang yang telah dua puluh tahun ini meninggalkanku.

Wajah itu, tidak salah lagi adalah wajah ibuku. Dan kenyataan itu merenggut kesadaranku seketika.

 
error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This