Judul: Negeri Van Oranje (e-book)

Penulis: Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana 
Penerbit: Bentang 
Tahun Terbit: Cetakan Kesepuluh, Mei 2011 
Tebal: 478 Halaman 
ISBN: 978-979-1227-58-2 
Rating: 4/5 

Sinopsis: 

Kata siapa kuliah di luar negeri itu gampang? Perkenalkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri. Lima anak manusia terlahir di Indonesia, terdampar bersekolah di Belanda demi meraih gelar S2. Mulai dari kurang tidur karena begadang demi paper, kurang tenaga karena mesti genjot sepeda berkilo-kilo meter bolak-balik ke kampus setiap hari, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu; semua pernah mereka alami.

Selain menjalani kisah susah senangnya menjadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga menjalin persahabatan dan berbagi tip bertahan hidup di Belanda. Mereka pun bergelut dengan selintas pertanyaan di benak mahasiswa yang pernah bersekolah di luar negeri: untuk apa pulang ke Indonesia? Dalam perjalanan menemukan jawaban masing-masing, takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: the courage to love!

Novel ini ditulis dengan gaya lincah, kocak, sekaligus menyentuh emosi pembaca. Kita juga akan diajak berkeliling mulai dari Brussel hingga Barcelona, mengunjungi tempat-tempat memikat di Eropa, dan berbagi tip berpetualang ala backpacker.

—————————————————————————————————————————
 
Well, baru kesampaian baca novelnya sekarang. Padahal udah sering banget liat novel ini wara-wiri di Gramedia.
 
Let’s check my review about this novel! ^^
 
Tersebutlah lima orang mahasiswa asal Indonesia yang terdampar melanjutkan kuliah S2-nya di negeri kompeni Belanda.
 
Merekalah Lintang, Daus, Geri, Banjar, dan Wicak. Lima orang dengan kepribadian jauh berbeda yang dipersatukan karena nasib mempertemukan mereka. Alhasil mereka masuk dalam geng bernama AAGABAN (Aliansi Amersfort Gara-Gara Badai di Netherland). Ini nama geng-nya benar-benar koplak hahaha.
 
Adalah Anandita Lintang Persada, mahasiswa Universitas Leiden. Satu-satunya cewek di antara mereka berlima. Lintang memiliki karakter melentang melenting ke sana ke mari alias tidak bisa diam. Sejak kecil Lintang pandai memasak dan menari, namun ia juga senang memanjat pohon dan menggergaji. Guru tari Lintang malah menuduh Lintang menelan ulat pohon jambu hiduphidup karena tidak pernah bisa diam, yang mana tuduhan itu dibenarkan oleh ibu Lintang, haha. Memiliki obsesi mendapatkan suami bule, namun kisah cintanya tidak pernah berhasil. Lantas saat ibunya memberi dokumen polis asuransi atas namanya yang disiapkan untuk pernikahan Lintang, Lintang malah menggunakan dana tersebut untuk melanjutkan program master di bidang European Studies.
 
Adalah Irwansyah Iskandar alias Banjar, seorang anak saudagar bawang yang telah sukses berkarir di industri rokok Indonesia. Ia rela meninggalkan kemewahan yang telah mampu ia cecap hanya karena taruhan dengan temannya. Dan di Belandalah akhirnya Banjar terdampar di sekolah bisnis ternama.
 
Adalah Wicak Adi Gumelar yang memiliki kegemaran akan hutan dan lingkungan. Idealismenya membuat Wicak menerjunkan diri untuk menyelidiki illegal logging di Indonesia. Wicak hampir terbunuh, hingga untuk menyelamatkan Wicak dikirimlah ia ke Belanda dengan kedok mengambil S2.
 
Adalah Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri, cucu kesayangan sang engkong. Cita-citanya menjadi seorang pengacara ditentang oleh engkongnya, hingga ia banting setir kerja di Departemen Agama hanya karena seorang wanita. Mirisnya, wanita tersebut tak lama meninggalkannya untuk menikah dengan orang lain. Kesempatan beasiswa STUNED (Studeren in Nederlands) langsung diambilnya.
 
Adalah Garibaldi Utama Anugraha Atmadja, anak dari jurangan bus AKAP yang menjadi orang kaya baru alias konglomerat kecil. Berbeda dengan nasib keempat anggota AAGABAN lainnya, nasib Geri adalah yang paling lumayan bagiku 😛
 
Mereka berlima ini dipertemukan saat badai di Amersfort. Karena kretek alias rokoklah mereka bertemu. Yeah, rokok, *malesin banget sih sebenernya, tapi gapapa lah, masih bisa ditoleransi, secara novel ini bercerita tentang mahasiswa S2, yang mana berarti sudah dewasa dan bisa memilih keputusannya masing-masing. Banjar yang terjebak di Amersfort merasa frustasi karena kehabisan rokok. Rokok di Belanda merupakan benda mahal jika dibandingkan dengan harga rokok di Indonesia. Udahlah terjebak, kehabisan rokok pula, membuat Banjar berteriak. Saat itulah ia bertemu dengan Wicak yang menawarkannya rokok linting sendiri. Lalu mereka berdua bertemu dengan Daus yang ikut-ikutan merokok. Lantas  mereka bertemu Geri yang memberi mereka rokok dari Indonesia. Saat mereka asyik merokok, datanglah Lintang. Ya, pertemuan yang tak disengaja karena terjebak badai di Amersfortlah yang mendekatkan mereka.
 
Karakter kelima orang yang sangat berbeda jauh ini malah membuat novel ini berwarna. Diceritakan dengan gaya kocak namun tidak garing, justru menjadi daya tarik novel ini. Juga dengan adanya footnote dengan gaya koplaknya ini justru membuat pembaca terhibur.
 
Apa yang kamu cari dari membaca novel ini? Cerita tentang persahabatan? Cerita cinta? Tip bagaimana survive kuliah di luar negeri? Tip backpacker? Semuanya ada. Beragam tip diberikan pada novel ini. Ya, paket komplit, semuanya diceritakan dengan apik.
 
Cerita pada novel ini berfokus pada persahabatan mereka, yang tidak bisa dipungkiri memang cukup manis. Dengan penggambaran bagaimana para mahasiswa yang baru meninggalkan orang tua, sehingga mereka ingin mencoba hal-hal yang selama ini mungkin tabu untuk mereka lakukan. Juga dengan obrolan para lelaki yang sedikit… yah sebut saja tidak lain dan tidak bukan mengenai wanita. Dengan bumbu kisah cinta, keseluruhan cerita dikisahkan dengan cukup baik.
 

Cerita yang diselipkan dengan berbagai kebiasaan-kebiasaan orang Belanda menambah preferensi kita. Hanya dari novel ini aku mengetahui bahwa Belanda juga dalam masa memperjuangkan kemerdekaan negaranya pada saat mereka menjajah Indonesia. Lumayan untuk menambah pengetahuan.. ^^

 

Tapi mungkin karena terlalu tebal, aku malah sedikit mengantuk saat membacanya. Mungkin pengaruh kurang tidur sih. Tapi walaupun beberapa kali terhenti, namun aku tetap membaca novel ini.
Untuk typo, aku menemukan beberapa kesalahan penulisan pada novel ini. Juga aku menemukan adanya ketidakkonsistenan penulis pada kata ganti diri, di mana penulis menggunakan aku dan gue secara bersamaan. Misalnya:
 
Nggak lihat, tuh. Tapi kalau nanti muncul di tempatku, pasti gue kabarin.
Untuk ending, cerita diberikan twist yang cukup apik. Dari awal aku menyangka Lintang akan ended up with Geri. Geri yang digambarkan begitu lembut, manis, ganteng, perhatian, juga tak bisa dipungkiri: tajir alias berduit. But, I was wrong at all. Silakan tebak sendiri ya, aku ga akan cerita panjang lebar karena menghindari terlalu banyak spoiler… ^^
 

Untuk penggambaran setting, para penulis mampu menggambarkan dengan sangat baik. Hingga pembaca bisa membayangkan bagaimana situasi yang terjadi serta lingkungan yang melatarbelakangi cerita. Begitu pula, dengan penggambaran backpacking kelima sahabat ini. It’s just look so real. It feels like they’re a real backpacker.

Aku sangat menyukai bagaimana mereka menggambarkan seorang backpacker pada novel ini. Bukan sekedar backpacker gaya-gayaan seperti salah satu novel yang pernah aku review dulu.

Backpacker. Keempat anak muda itu sepakat bepergian dengan pola backpacker traveler. Bukan sekedar bermodalkan ransel punggung besar sebagai ganti koper dorong, backpacker lebih merupakan filosofi dan ideologi tersendiri yang punya kedudukan suci di kalangan turis. Orang boleh mencela para “turis kere” atau “bule melarat” seperti yang banyak terlihat di Jalan Jaksa Jakarta. Namun, di balik itu diperlukan banyak perencanaan matang dan perhitungan anggaran yang masak.
Seorang backpacker pergi dengan anggaran seminim mungkin tetapi berupaya meraih pengalaman berwisata semaksimal mungkin. Ransel punggung alias backpack bukan sekadar lambang namun punya sejumlah kelebihan antara lain: praktis untuk bergerak, tidak membutuhkan porter, dan tentunya menghemat biaya bagasi karena bisa masuk kabin pesawat. Jangan salah, perusahaan penerbangan memang mancari keuntungan salah satunya dari jumlah bagasi yang perlu di-check-in.
Backpacker sejati pantang memboroskan anggaran untuk penginapan, transportasi, dan makanan. Ia akan memilih berbagi bangsal dengan enam orang turis lain di sebuah youth hostel murah ketimbang mengeluarkan uang lebih untuk tinggal di hotel. Beberapa hostel juga menyediakan fasilitas dapur sehingga para backpacker bisa memasak sendiri ketimbang jajan di restoran. Sudah barang tentu, mi instan menjadi menu andalan pelancong Indonesia saat bertandang ke kota-kota Eropa yang terkenal mahal. Selain memilih transportasi lokal kelas ekonomi, backpacker bahkan tak segan melambaikan tangan di pinggir jalan, mencari tumpangan supir truk untuk menghemat ongkos.
Dalam memilih cara berwisata, kurang lebih serupa. Mereka akan memilih objek wisata yang tidak mengeluarkan banyak uang. Termasuk meminimalisasi belanja suvenir mewah. They are buying experience. Karena pengalaman tidak bisa dicuri. Barang dapat hilang sedang pengalaman tak pernah lekang. Sebenarnya, alasan paling utama, belanja barang bisa bikin ransel penuh, malah bikin repot. Sedangkan belanja pengalaman tidak.
 
Membaca novel ini malah semakin menambah keinginanku untuk mencari beasiswa kuliah ke luar negeri. Semoga suatu saat keinginan kecilku ini bisa terwujud, amiiin! Dan juga menambah kerinduan akan backpacking. Semoga tahun depan bisa pergi backpacking lagi. Wish me luck everyone!
 
Overall, aku suka novel ini. Novel ini mampu bercerita dengan manis. Aku berikan empat bintang untuk novel ini… ^^
 
 
error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This