Review Novel Memori Windry Ramadhina

Identitas buku:

Judul: Memori, Tentang Cinta yang Tak Lagi Sama
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagasmedia
Halaman: 304 Halaman
Tahun Terbit: Cetakan pertama, 2012
ISBN: 978-979-780-562-3
Rating: 5/5

Sinopsis Memori:

Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi.

Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.

Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia–cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.

Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.

——————————————————————————————————————————————————————————–

Review Memori:

Memori adalah novel keempat dari Windry Ramadhina yang berhasil aku selesaikan dalam dua jam saja, sekaligus novel pertama Windry yang aku review… ^^

Memori berkisah tentang Mahoni, seorang arsitektur yang bekerja di Virginia. Ia digambarkan sebagai sosok yang perfeksionis dalam bekerja, dan tidak kenal kompromi terhadap kliennya. Di Virginia, ia bekerja dengan Ron–temannya yang baru diangkat menjadi bos Mahoni–yang memanggilnya dengan nama Honey.

Di Virginia, Mahoni tinggal sendiri. Ia memutuskan kabur ke kota ini, hanya untuk menghindari sang ibu. Ya, ia berasal dari keluarga ‘broken home’. Mahoni kecil seringkali mendengar pertengkaran papa dan mamanya. Ia selalu sendiri. Bahkan sejak SMP, ia tak lagi memanggil ibunya dengan sebutan mama. Hanya Mae, sebutan mama tidaklah pantas lagi karena Mae tidaklah bersikap seperti seorang ibu.

Papa dan Mae memutuskan untuk berpisah. Mahoni kecil dipaksa meninggalkan rumah papanya oleh Mae. Sepeninggal Mahoni dan Mae, sang papa bertemu dengan Grace, menikah, dan memiliki anak bernama Sigi–adik tiri Mahoni.

Lantas Mahoni terpaksa kembali. Telepon dari Jakarta memaksanya untuk pulang. Telepon yang mengabarkan papanya sudah tiada. Dan akhirnya ke sanalah Mahoni menuju, rumah papanya. Sesampainya ia di rumah, ia mendapati ayahnya telah tiada, begitu pula dengan Grace. Om Ranu–adik papanya–meminta ia untuk tinggal dan menemani Sigi.

Tentu saja awalnya Mahoni menolak. Sigi bukanlah orang yang berarti dalam hidupnya. Terlebih saat ia bertemu dengan Mae di makam sang papa, ia mendapati Mae masihlah seperti yang dulu, Mae yang egois dan merasa semua hal hanya berpusat pada dirinya. Yang ia inginkan hanya kembali ke Virginia dan melanjutkan hidupnya.

Namun Om Ranu memaksanya untuk tinggal dua bulan sembari Om Ranu mencari solusi. Alasan Om Ranu yang berkata ini demi sang papa, membuat Mahoni tak sanggup menolak. Bukan hal yang mudah untuk Mahoni untuk tetap tinggal. Ia yang sudah lama tidak merasakan kasih sayang keluarga, ditambah harus menemani sang adik tiri yang selama ini tak pernah ia temui. Sigi, sang adik yang namanya berarti kayu Damar–kayu kesukaan sang papa–dianggapnya sebagai pengambil kebahagiaan hidupnya. Ia masih tak bisa melupakan bagaimana Grace dan Sigi selalu dicintai oleh papanya, sedangkan ia hidup menderita dengan Mae yang tak bisa berdamai dengan waktu dan rasa sakit.

Di Jakarta ia kembali bertemu dengan Simon, mantannya dulu yang kemudian menjadi partner kerjanya di MOSS. Simon memiliki hubungan dengan Sofia, yang juga menjadi rekan kerja Mahoni di Jakarta. Hingga akhirnya Ron mengabarkan padanya berita besar yang membuatnya ingin segera kembali ke Virginia. Impian terbesarnya selama ini untuk bekerja dengan Frank O. Gehry sudah di depan mata. Namun meninggalnya istri Om Danu membuatnya terpaksa harus tetap tinggal untuk jangka waktu yang lebih lama, setidaknya hingga Sigi mampu untuk mengurus dirinya sendiri.

Mahoni juga mendapati bahwa Simon masihlah seperti saat mereka masih kuliah dulu, Simon masih memiliki perasaan padanya. Hal ini membuatnya seolah berada pada posisi Grace, ibu tiri yang dibencinya karena telah merebut sang papa. Di satu sisi ia tak bisa menyangkal bahwa rasa itu masih ada, namun hal-hal yang telah terjadi pada keluarganya membuatnya bimbang.

Novel-novel karya Windry Ramadhina tak pernah membuatku kecewa. Nama Windry Ramadhina pada kover sebuah novel selalu menjadi jaminan atas cerita yang dikisahkan di dalamnya. Begitu juga dengan novel ini. Jalinan cerita yang mengalir lepas dari awal hingga akhir. Setiap bagian dari novel ini diceritakan dengan begitu detail. Penuturannya begitu lancar dengan penggambaran setting cerita yang dibahas secara mendalam, membuat kita sebagai pembaca dapat lebih mudah membayangkan cerita dalam novel ini.

Kilasan-kilasan flashback yang diceritakan juga cukup apik dan tidak membuat bingung pembaca. Begitu pula penggunaan beragam istilah arsitektur mampu menyedot pembaca seakan masuk ke dalam dunia Mahoni. Walaupun menurutku akan lebih baik jika di setiap istilah yang digunakan, diberi catatan kaki sebagai penjelasannya. Plot cerita novel sini sangat kuat dari awal hingga akhir. Juga dengan adanya penyampaian pesan moral dengan begitu luwesnya, serta happy ending yang memuaskan semua pihak ^^.

Baca juga: [Review Novel] Angel in the Rain – Windry Ramadhina

Apalagi jika seperti Mahoni, yang terpaksa berpisah dengan ayahnya untuk tinggal dengan ibunya yang tidak lagi bersikap layaknya seorang ibu, dan mendapati sang ayah hidup bahagia dengan istri dan anak barunya. Dan kemudian mendapati sang ayah sudah tiada dan diharuskan untuk merawat adik tirinya. Dengan penceritaan khas seorang Windry, Memori membuatku mampu untuk tenggelam di dalamnya. Aku masih mendapati beberapa kesalahan penulisan pada novel Memori ini, tapi sama sekali tidak mengganggu.

Untuk mereka yang merindukan rumah–tempat berbagi cinta, kenangan, dan tawa yang tidak pernah pudar.

Lima bintang untuk Memori.

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This