-Terinspirasi dari novel yang kemarin dibaca, dan ya, sebut saja imajinasi.-

Ada secuil kenangan yang tiba-tiba menguak ke permukaan.
Tentang derasnya barisan rintik rinai hujan. 
Tentang cerita sederhana. 
Tentang rasa yang pernah ada. 
Tentang kita. 

Kita bertemu dalam guyuran hujan waktu itu. 
Aku, kamu, dan dimensi yang seolah berpadu. 
Mempertemukan kita. 
Dalam harap yang membuncah. Dalam asa. 
Dalam doa. 

Sudah kubilang kan bahwa cerita kita sederhana? 
Kamu dan tatapan sendumu. 
Dengan kacamata yang bertengger di ujung hidungmu. 
Matamu dengan lingkar hitam di bawahnya yang begitu kentara. 
Aku dengan ketidakpercayaan pada sesama. 
Dengan hati yang sudah terlalu banyak kecewa. 

Pun begitu tetap akan ada garis yang menyinggung kita. 
Saat semesta berkehendak, aku bisa apa? 
Kamu, aku, dan sore itu. 
Manisnya aroma cokelat hangat yang terhidu, 
bercampur bau tanah basah dan rumput segar yang menyatu. 

Tahukah kamu betapa kehadiranmu membuatku bertanya-tanya? 
Kamu pula yang mengajarkanku untuk kembali percaya. 
Pada hidup. Pada dunia. 
Pun pada diriku sendiri. 
Tanpa aku sadari, kamu selalu ada. 

Lalu kamu pergi tanpa jejak. 
Hilang tak berbekas. 
Seolah kamu hanyalah bayang semu. 
Lantas untuk apa hadirmu selama ini? 
Hanya untuk aku merasakan luka sekali lagi? 
Hey, karma itu ada. 

Maka terima kasih untuk hadirmu yang sempat mengisi ruang di hati.
Untuk guratan takdir yang telah kita jalani.
Untuk torehan luka yang kamu lukiskan.
Untuk semua memori sederhana kita.
Selamat tinggal.
 

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This