Judul: Holland, One Fine Day in Leiden 
Penulis: Feba Sukmana 
Penerbit: Bukune 
Tahun Terbit: Cetakan pertama, November 2013 
Tebal: 292 Halaman 
ISBN: 978-602-200-116-8 
Rating: 3/5 

Sinopsis: 
Sejak menjejakkan kaki di Bandara Schiphol, Belanda, dan udara dingin menyambutnya, Kara tak lagi merasa asing. Mungkin, karena ia pun telah lama lupa dengan hangat. 

Belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Nyatanya, semua itu harus ia temukan lagi, dalam kotak tua yang teronggok di sudut kamarnya. Kini, Kara tahu: Ibu yang pergi, Kara yang mencari. Tak ada lagi waktu untuk cinta. 

Namun, kala senja membingkai Leiden dengan jingga yang memerah, Kara masih ingat bisik manis laki-laki bermata pirus itu, “Ik vind je leuk” — aku suka kamu. Juga kecup hangatnya. Rasa takut mengepung Kara, takut jatuh cinta kepada seseorang yang akhirnya akan pergi begitu saja. Dan, meninggalkan perih yang tak tersembuhkan waktu. Seperti Ibu. 

Aku tak berada di sini untuk jatuh cinta, ulangnya dalam hati, mengingatkan diri sendiri. 

Di sudut-sudut kota Leiden, Den Haag, Rotterdam, dan Amsterdam yang menyuguhkan banyak cerita, Kara mempertanyakan masa lalu, harapan, masa depan, juga cinta. Ke manakah ia melangkah, sementara rintik hujan merinai di kanal-kanal dan menghujam di jantung kota-kota Negeri Kincir Angin yang memesona? 

Alles komt goed—Semua akan baik-baik saja, Kara.

—————————————————————————————————————————
 
Dari empat belas judul dari seri Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) yang berhasil aku kumpulkan dalam waktu beberapa bulan, Holland menjadi judul pertama yang aku selesaikan. Udah lama sih tahu tentang seri ini, tapi emang belakangan ini pengen punya lengkap.

So, what do I think about this novel? Check this review, please… ^^

 
Ini kisah tentang Kara. Segala hal yang berbau Belanda sudah akrab baginya sejak kecil. Yangkungnya lah yang selama ini mengenalkannya. Kara dibesarkan oleh kedua kakek dan neneknya, atau yang biasa dipanggilnya Yangkung dan Yangti, di Jogja.

Selepas kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Kara mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Public International Law di Universiteit Leiden, Belanda.

Mengambil setting di beberapa kota di Holland, Kara memulai hidup barunya justru setelah ia berada jauh dari orang-orang tersayangnya. Ia bertemu Rein, pria tampan yang secara tidak sengaja bertemu dengan Kara. Di kota Leiden semuanya bermula. 

Kesendirian dan kesepian yang selama ini hadir kian menghantui hidupnya. Ada ruang kosong dalam hatinya yang belum terjamah, pun dengan Yangkung yang selama ini begitu dekat. Juga dengan Yangti yang memiliki hubungan kompleks dengan Kara. Lalu pertanyaan-pertanyaan akan asal-usul hidupnya. Juga tentang cinta.

Lalu apa yang akan terjadi pada Kara?

Kenapa aku memilih membaca Holland duluan?

Jawabannya simpel, karena aku suka sama Negeri Van Oranje >.< Padahal yang selama ini jadi kota destinasi impian adalah Tokyo dan segala hiruk pikuknya. Tapi yasudahlah, aku baca Holland awalnya karena satu alasan sederhana itu hehe.

Dan apakah novel ini mampu memenuhi ekspektasiku?

Kara digambarkan sebagai wanita yang penuh dengan kekhawatiran. Ketakutan. Ia seringkali merasa insecure akan dirinya sendiri juga dengan orang lain. Kak Feba mampu bercerita dengan apik. Kadangkala aku merasa Kara adalah diriku sendiri, dengan sepi yang sering menghampiri.

Tidak mudah memang untuk tumbuh tanpa seorang Ibu. Aku sendiri mengalaminya, walaupun memang kisah hidupku tidaklah setragis Kara. Akan selalu ada ruang kosong itu. Kesendirian, kesepian, perasaan ditinggalkan. Karena itulah Kara berbeda. Ia rapuh digerogoti sunyi. Ketakutan-ketakutan itu akan kembali muncul saat Kara dihadapkan kembali dengan pertanyaannya bertahun-tahun: ibunya.

Untuk penggambaran setting sendiri sudah disampaikan dengan baik. Detail-detail kecil ini juga diberikan untuk menambah pemahaman kita akan Belanda. Dengan ciri khas novel STPC, yaitu ilustrasi-ilustrasi cantik menghiasi sepanjang novel, mampu menghidupkan suasana Belanda.

Dari novel ini aku belajar banyak dari informasi-informasi yang disampaikan. Selipan kosakata Belanda dan sejarah Belanda-Indonesia juga diberikan di novel ini. Karena negeri kita memang mau tidak mau berhubungan erat dengan Belanda. Belanda dengan semua keunikannya. Tentang tradisinya. Tentang warna oranye yang menjadi ciri khasnya.

Untuk typo, aku mendapati ada beberapa kesalahan penulisan minor. Tapi ah ya sudahlah, tidak terlalu mengganggu kok. Aku masih bisa menikmati novel ini, dan sejujurnya udah lupa di mana saja letak kesalahan tersebut hehe XP

Lalu, kalau aku memang menyukai novel ini, kenapa cuma ngasih rating tiga bintang? Kenapa bukan empat atau lima sekalian?

Oke, memang kisah Kara diceritakan dengan apik. Tapi aku merasa tidak ada kejutan yang berarti. Novel ini datar, flat. Kisah Kara dan Rein juga hanya mengisi beberapa bagian saja dari novel ini. Begitu juga penyelesaian kisah Kara dan ibunya. Tiba-tiba saja selesai, tanpa masalah yang berarti.

Aku juga suka dengan penjabaran kisah Kara-Rein. Aku suka dengan interaksi mereka yang manis. Dengain Rein yang bukanlah sosok sempurna. Namun seperti aku bilang sebelumnya, cerita Kara dan Rein seperti tidak ada kejutan di dalamnya. Kisah mereka memang manis, aku tidak bisa memungkiri. Tapi menurutku terlalu singkat, seperti hanya diceritakan sekedarnya.

Sayangnya, makin dewasa kita makin kehilangan kemampuan untuk berbahagia dengan sederhana.

Karena ternyata manusia butuh lupa untuk menghapus luka.

Jika kau merawat amarah dalam dirimu, waktu akan membuatmu lupa. Kau tidak akan ingat lagi penyebab awal yang membuatmu marah. Yang tersisa hanya gumpalan emosi yang tak terjelaskan dan kekakuan untuk memulai kembali.


Holland menjadi kisah yang cukup manis. Aku berikan tiga bintang untuk Holland… ^^



error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This